Hilangnya indera penciuman dan perasa bisa menjadi tanda Covid-19, ini penjelasannya

Hilangnya indera penciuman dan perasa bisa menjadi tanda Covid-19, ini penjelasannya

Selain demam dan batuk kering, kehilangan indera penciuman dan perasa juga bisa menjadi salah satu gejawa awal terpaparnya virus corona penyebab Covid-19.

Hilangnya indera penciuman dan perasa bisa menjadi salah satu gejala paparan virus corona penyebab Covid-19. Seseorang bisa saja tidak merasakan gejala lainnya seperti demam dan batuk kering, tetapi secara tidak sadar sudah terinfeksi dan menjadi pembawa virus atau carrier.

Gejala hilangnya indera penciuman atau anosmia juga dirasakan oleh pemain NBA Rudy Gobert. Pada 11 Maret silam, ia didiagnosis positif Covid-19. Melalui akun Twitter miliknya, Gobert juga berbagi cerita jika ia sempat kehilangan indera penciuman dan perasa selama 4 hari.

“Ingin memberikan informasi terbaru, kehilangan indera penciuman dan perasa merupakan salah satu gejala (Covid-19). Aku tidak bisa mencium bau apa-apa selama 4 hari terakhir ini. Ada yang mengalami hal sama?” tulisnya melalui akun Twitter @rudygobert27

Artikel terkait: Batuk kering tanda gejala infeksi virus corona, ini bedanya dengan batuk berdahak

Pasien positif Covid-19 mengalami hilangnya fungsi indera penciuman dan perasa sebagai gejala

Indera penciuman dan perasa

Tidak hanya Gobert saja yang mengalami gejala tersebut. Beberapa pasien di Korea Selatan, Cina, dan Italia juga mengalami gejala yang sama.

Hal tersebut dijelaskan dalam laporan ahli THT (Telingan, Hidung, dan Tenggorokan) di Inggris, bahwa sepertiga pasien positif Covid-19 mengalami anosmia atau pun hyposmia. Beberapa pasien dari berbagai negara mengaku sempat kehilangan indera penciuman atau perasa mereka di samping gejala lainnya.

“Di Korea Selatan, dalam kasus paparan yang ringan, 30% pasien yang dites positif Covid-19 mengalami anosmia sebagai salah satu gejala,” ungkap Clare Hopkins, presiden British Rhinological Society Professor.

Tidak hanya itu, para profesor juga mengatakan bahwa pasien positif Covid-19 di berbagai negara juga kerap hanya menunjukkan gejala kehilangan indera perasa dan pencium. Artinya, mereka tidak merasakan gejala umum lain seperti demam atau pun batuk kering.

“Pasien yang melaporkan mengalami anosmia tanpa disertai gejala lainnya pun kini semakin meningkat secara signifikan,” ungkap Clare.”Iran juga telah melaporkan jumlah kasus anosmia pada pasien positif Covid-19 yang meningkat. Banyak juga rekan dari Amerika, Prancis, dan Italia yang melaporkan kasus sama.”

Artikel terkait: Sering tak terdeteksi, ini gejala Corona hari ke-1 sampai ke-17, wajib tahu!

Hilangnya indera penciuman dan perasa bisa menjadi tanda Covid-19, ini penjelasannya

Meski diperlukan adanya penelitian lanjutan, Clare menyampaikan laporan ini untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Pasalnya, jika seseorang mengalami anosmia dan hyposmia tapi tidak mengalami gejala Covid-19 yang umum lainnya, mereka mungkin tidak menjadi prioritas untuk diuji dan diisolasi. Jika demikian, orang-orang tersebut pun kemungkinan bisa menjadi pembawa virus atau carrier yang dapat menularkan penyakit tanpa disadari.

“Kami benar-benar ingin meningkatkan kesadaran bahwa ini adalah tanda infeksi covid-19. Jadi, siapa pun yang merasa kehilangan indera penciuman dan perasa harus melakukan isolasi diri. Hal ini dilakukan sebagai upaya agar virus tidak semakin menyebar,” jelas Clare.

Penderita usia muda mungkin tidak menunjukkan gejala umum

Indera penciuman dan perasa

Presiden British Association of Otorhinolaryngology Nirmal Kumar juga menjelaskan, penderita usia muda juga bisa saja hanya kehilangan kemampuan mencium dan merasakan. Mereka tidak merasakan gejala Covid-19 umum seperti demam, batuk kering, atau pun sulit bernapas pada umumnya.

“Pada pasien usia muda, mereka mungkin saja tidak memiliki gejala signifikan. Namun, mereka mungkin hanya kehilangan indera penciuman dan perasa, menunjukkan bahwa virus ini tinggal di hidung,” ungkapnya.

Oleh karena itu, para profesor ahli THT menganjurkan agar siapa pun yang mengalami hilangnya fungsi dari kedua indera tersebut untuk melakukan isolasi diri atau swakarantina selama 7 hari.

Artikel terkait: Mirip tapi tidak sama! Ini perbedaan gejala covid-19, flu, dan pilek

Spesialis THT juga berisiko terpapar Covid-19

Hilangnya indera penciuman dan perasa bisa menjadi tanda Covid-19, ini penjelasannya

Di sisi lain, Nimar dan Clare juga menghimbau agar pekerja perawatan kesehatan di bidang THT juga meningkatkan kewaspadaan. Penggunaan pelindung saat merawat pasien yang kehilangan indera penciuman diwajibkan.

Mereka juga menyarankan agar prosedur endoskopi sinus pada pasien THT secara keseluruhan. Pasalnya, virus juga dapat mengendap di dalam hidung dan tenggorokan. Prosedur pemeriksaan THT bisa saja memicu batuk atau bersin pada pasien sehingga kemungkinan dokter terpapar virus korona akan sangat tinggi.

Beberapa ahli dari Wuhan juga sebelumnya telah memberi peringatan, bahwa jumlah spesialis THT yang terpapar Covid-19 cenderung tinggi.

“Pasien dengan masalah anosmia dan hyposmia kebanyakan tidak sadar telah terpapar Covid-19. Jadi, perlu diberikan arahan agar bisa melakukan swakarantina atau isolasi diri. Untuk dokter juga, sebaiknya waspada dan menggunakan pelindung saat pemeriksaan,” tutup Nimar.

***

Referensi: Business Insider, The New York Times, Liputan 6

Baca juga:

Tak merasakan gejala, Bintang film Marvel Idris Elba positif corona

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner