Penelitian: Ibu Hamil yang Kurang Tidur Berisiko Terkena Diabetes

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Sebuah Studi yang dilakukan di Singapura baru-baru ini menemukan fakta bahwa ibu hamil yang tidur kurang dari 6 jam setiap malam berisiko lebih tinggi terkena gestational diabetes mellitus (GDM).

Saat hamil, memang seharusnya Bunda lebih banyak istirahat dan tidur. Jika tidak, risiko kesehatan dan komplikasi bisa menghantui.

Baru-baru ini, sebuah studi menemukan bahwa ibu hamil yang tidur kurang dari enam jam setiap hari, berisiko dua kali lebih tinggi terkena gestational diabetes mellitus (GDM), dibandingkan mereka yang tidur selama 7 hingga 8 jam.

Artikel terkait: Mengenal Diabetes Gestasional pada Ibu Hamil

Fakta ini ditemukan oleh studi yang dilakukan GUSTO (Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes). Meski GDM menghilang setelah bayi lahir, masalah yang ditimbulkannya tetap ada.

Satu dari 10 wanita yang memiliki GDM menderita diabetes lima tahun setelah melahirkan. Tiga dari empat bayi yang lahir dari ibu GDM juga beresiko terkena diabetes atau obesitas saat dewasa.

Studi ini merekrut 1.247 pasien di KK Women’s and Children Hospital (KKH) dan The National University Hospital (NUH), dalam rentang waktu Juni 2009 dan September 2010.

Studi yang dipublikasikan di Jurnal SLEEP ini, menyarankan untuk memperhatikan waktu tidur para ibu hamil untuk mengurangi risiko GDM.

Diabetes adalah salah satu penyakit yang sedang menjadi perhatian di Asia, karena jumlah penderitanya semakin meningkat. GDM yang didiagnosa berdasarkan tingginya glukosa dalam darah, adalah satu masalah kesehatan yang sering terjadi selama masa kehamilan.

Tingginya tingkat glukosa dalam darah selama hamil bisa memicu komplikasi yang berdampak pada bayi, seperti lahir prematur, birth trauma, tekanan darah tinggi pada ibu, proses persalinan yang sulit, juga meningkatnya risiko ibu dan bayi meninggal.

Tidur adalah salah satu faktor yang diidentifikasi memengaruhi metabolisme glukosa. Beberapa studi menunjukkan bahwa waktu tidur yang singkat adalah faktor yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Beberapa studi juga memeriksa kaitan antara tidur dan risiko GDM, khususnya pada populasi penduduk di Asia. Kurangnya waktu tidur bisa meningkatkan risiko GDM pada wanita-wanita Asia, yang sudah memilki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan wanita dari ras kaukasia.

Para peneliti di GUSTO memberikan kuesioner para 686 wanita hamil dan memeriksa kadar glukosa mereka di minggu ke 26 dan 28 kehamilan. 19% wanita hamil (atau 131 orang) yang diukur kadar glukosanya didiagnosa mengalami GDM.

Para peneliti juga menemukan, waktu tidur yang singkat meningkatkan risiko GDM. Hal ini diketahui setelah menyesuaikan beberapa faktor seperti usia, indeks massa tubuh, dan sejarah GDM dalam keluarga.

Menariknya, frekuensi GDM ditemukan paling tinggi (sekitar 27.3%), pada perempuan yang melaporkan mereka tidur kurang dari enam jam setiap malam. Dan frekuensi terendah (seitar 16.8%) ditemukan pada perempuan yang melaporkan mereka tidur antara 7 hingga 8 jam setiap malam.

Prof. Gooley dari Departemen Neuroscience and Behavioral Disorders di Duke NUS menyatakan, “Hasil dari penelitian kami meningkatkan kemungkinan bahwa kebiasaan tidur yang baik, mengurangi risiko hyperglycemia dan GDM. Studi ini juga memberikan pemahaman yang lebih baik, tentang bagaimana menghindari potensi penyakit serius pada ibu hamil dan bayinya.”

Jadi Bunda, saat Anda hamil usahakan memiliki waktu tidur yang cukup. Hal ini demi menghindari komplikasi kesehatan yang bisa terjadi pada Bunda dan bayi.

Apabila Bunda mengalami kesulitan tidur karena kondisi tak nyaman selama kehamilan, cobalah melakukan beberapa metode relaksasi dan pijatan kehamilan, untuk membantu Bunda rileks dan memiliki waktu tidur yang lebih panjang.

 

Referensi: news.nus.edu.sg, nusmedicine.edu.sg, news.medical.net

Baca juga:

Bagaimana Posisi Tidur yang Baik Saat Hamil?





Kehamilan