Waspada defisiensi imun yang bikin gampang sakit, ini gejalanya!

Waspada defisiensi imun yang bikin gampang sakit, ini gejalanya!

Hati-hati karena defisiensi imun dapat pengaruhi imunitas tubuh seseorang, seperti apa gejalanya?

Merasa mudah sakit? Hati-hati alamai gangguan defisiensi imun atau disebut juga imunodefisiensi primer. Suatu kondisi yang menyebabkan imunitas tubuh menurun. Hal ini akan melemahkan sistem kekebalan tubuh, dapat mengakibatkan infeksi, serta masalah kesehatan lainnya.

Saat ditemui dalam acara Forum Diskusi: “Cegah VirusCorona dengan Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh” beberapa waktu lalu, Prof. Dr  Iris Rengganis, SpPD-KAI, Ketua Perhimpunan Alergi dan Immunologi Indonesia dan Guru Besar UI menjelaskan untuk mengetahui imunodefisiensi seseorang  harus lebih dulu dilihat dari pemeriksaan darah lebih dulu.

“Ada beragam faktor yang membuat kondisi ini bisa terjadi, bisa jadi gizi nggak mencukupi atau mengalami penyakit kronis (TBC, HIV) yang membuat seseorang harus menjalani pengobatan selama 6 bulan yang akhirnya imun menurun,” ungkapnya

Gejala defisisensi imun

gejala defisisensi imun

Salah satu ciri umum imunodefisiensi primer yaitu adanya infeksi berulang, lebih bertahan lama, bahkan lebih sulit diobati dibandingkan dengan infeksi yang dialami orang lain yang memiliki sistem kekebalan tubuh normal.

Seseorang juga sangat mungkin terkena infeksi yang tidak didapat orang dengan kekebalan tubuh sehat atau disebut infeksi oportunistik.

Perlu diketahui, gejala bisa berbeda pada setiap orang. Namun, berikut ini gejala yang mengindikasikan seseorang terkena defisiensi imun:

  • Pneumonia, bronkitis, infeksi sinus, infeksi telinga, meningitis, atau infeksi kulit terjadi dalam frekuensi sering dan berulang
  • Peradangan dan infeksi organ internal (sepsis)
  • Penggunaan antibiotik selama dua bulan atau lebih dan tidak menunjukkan reaksi apapun
  • Muncul gangguan darah, misalnya jumlah trombosit rendah atau anemia
  • Gangguan pencernaan seperti kram, kehilangan nafsu makan, mual, dan diare
  • Bagi anak-anak, pertumbuhan dan perkembangan tertunda
  • Abses pada organ atau jaringan kulit
  • Infeksi jamur yang menetap pada kulit dan mulut
  • Gangguan autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, atau diabetes tipe 1

Artikel terkait: 26 Negara sudah terjangkit virus corona, mengapa belum ada kasus di Indonesia?

Faktor penyebab dan risiko defisiensi imun

Banyak gangguan imunodefisiensi primer yang diturunkan, seperti anak yang mendapatkan ‘warisan’ penyakit ini dari kedua orangtua. Adanya masalah dalam genetik membuat tubuh akan memproduksi sel tubuh yang menyebabkan kecacatan sistem kekebalan tubuh.

Terdapat lebih dari 300 jenis gangguan imunodefisiensi, dan peneliti nampaknya terus mengidentifikasi jika ada jenis baru. Secara umum, penyakit ini akan memengaruhi aspek berikut :

  • Kekurangan sel B (antibodi)
  • Kekurangan sel T
  • Kombinasi defisiensi sel B dan sel T
  • Kerusakan fagosit (sel darah putih yang bertugas melawan infeksi)
  • Kekurangan komplemen
  • Tidak dikenal (idiopatik)

Umumnya, seorang anak yang dicurigai terkena imunodefisiensi primer dianjurkan untuk menjalani berbagai pemeriksaan mulai dari penelusuran riwayat penyakit seperti penyakit infeksi, adanya riwayat keluarga (akan dilakukan penelusuran silsilah keluarga), pemeriksaan fisik, dan tindakan penunjang (cek laboratorium, radiologi, dan lain-lain).

Pemeriksaan laboratorium mencakup tes darah lengkap dan kimia klinis, yang mana tes ini umumnya sudah tersedia di berbagai rumah sakit di Indonesia. Tes ini akan mengungkap adanya gejala yang mengarah pada HIV, kelainan autoimun, alergi, fibrosis kistik, kelainan struktur anatomis, dan kanker.

Selain itu, pemeriksaan lain yang juga direkomendasikan yakni kadar immunoglobulin (IgG, IgM, IgA dan IgE) untuk menyingkirkan defisiensi antibodi yang merupakan kelainan paling banyak ditemukan. Tindakan lain dapat dilakukan bergantung temuan cek laboratorium sebelumnya: respon booster immunoglobulin, subklas IgG, subpopulasi limfosit, proliferasi limfosit, maturasi sel B, fungsi fagosit, pemeriksaan komunikasi antara limfosit T/makrofag, dan komplemen.

Artikel terkait: Haru dan sarat makna, 32 foto melahirkan ini jadi bukti ketangguhan seorang ibu!

Gejala defisisensi imun

Parents sebaiknya tidak meremehkan jenis penyakit satu ini karena dapat menimbulkan komplikasi, antara lain:

  • Infeksi berulang
  • Gangguan imun yang parah
  • Gangguan kinerja jantung, paru-paru, sistem saraf, dan saluran pencernaan
  • Pertumbuhan lambat bagi anak yang mengalami gangguan jenis ini
  • Risiko kanker meningkat
  • Kematian

Cara mencegah defisiensi imun

Waspada defisiensi imun yang bikin gampang sakit, ini gejalanya!

Mengingat genetik adalah faktor utama terjadinya imunodefisiensi, maka tidak ada hal yang dapat mencegah penyakit ini terjadi. Namun, Parents dapat menjaga ketahanan tubuh si kecil dengan langkah berikut:

  • Tumbuhkan kebiasaan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun setelah pergi ke kamar mandi dan sebelum makan;
  • Menyikat gigi secara teratur dua kali sehari;
  • Konsumsi makanan yang bergizi seimbang untuk membantu mencegah infeksi;
  • Rutin berolahraga. Bagi Anda yang tidak terbiasa berolahraga, jangan ragu bertanya pada dokter apa aktivitas fisik yang tepat;
  • Istirahat yang cukup, cobalah untuk tidur dan bangun pada jam yang sama setiap harinya
  • Manajemen stres yang baik. Studi menunjukkan bahwa stres turut berpengaruh menghambat imunitas tubuh. Isi waktu luang dengan ragam aktivitas yang bisa menjauhkan stres misalnya pijat, meditasi, yoga, atau bisa juga melakukan hobi yang menyenangkan
  • Hindari sementara kontak dengan orang yang sedang flu atau terkena infeksi
  • Konsultasi dengan dokter terkait vaksin yang harus dilakukan
Sumber: Mayo Clinic

Baca juga : 

Ingin tingkatkan kekebalan tubuh? Konsumsi 6 rempah berkhasiat ini!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner