Cara kita mengasuh anak sangat berpengaruh dalam pembentukan karakternya saat dewasa lho, Parents.
Mungkin Anda pernah bertanya-tanya, kenapa ya, di dalam suatu keluarga, ada yang anaknya baik tapi di keluarga lainnya tidak demikian?
Bila berbicara tentang mengasuh anak, aspek penting untuk orang tua adalah “mengajar dengan memberi contoh”.
Namun pada kenyataannya, mengajar dengan memberi contoh bukanlah satu-satunya yang harus dilakukan dalam mengasuh anak.
Perlu diingat, setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda.
Beberapa anak merespon positif apa yang mereka lihat dan mereka mencoba menirunya.
Namun sayangnya, sebagian anak merespon kasih sayang dengan cara yang berbeda. Mereka terus kekanak-kanakan dan akhirnya tumbuh menjadi egois dan ‘nakal‘.
Bagaimana Cara Mengasuh Anak dengan Baik?
Cara mengasuh anak dengan baik adalah dengan memberikan kasih sayang tapi harus diimbangi juga dengan ketegasan dan kedisiplinan.
Bila tidak, risikonya anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang egois dan keras kepala. Mengasuh anak dengan penuh kasih sayang di sini bukan berarti memberikan apapun yang anak hendaki ya, Parents.
Hal ini juga disampaikan oleh Psikolog Ratu Ade Waznah Sofwat dari RS EMC Pekayon, Jakarta Timur.
“Anak itu belajar dari orang tua. Selain memberinya kasih sayang, maka orang tua juga perlu memberikan contoh yang baik. Kita juga perlu mengenalkan anak pada konsekuensi dari perilakunya. Bangun juga kesadaran anak apabila dia melakukan kesalahan agar anak bisa belajar,” ungkapnya dalam talk show ‘Pengasuhan Positif pada Anak’ di acara theAsianparent on the GO 2025 di Bekasi (27/4).
Selain itu, Ratu juga menjelaskan bahwa cara mengasuh anak juga berbeda di setiap tahap usianya. Jadi, orang tua perlu menyesuaikan pola asuh sesuai dengan usia anak.
Misalnya, untuk anak 0-1 tahun, orang tua baiknya memenuhi kebutuhan kasih sayang, rasa aman, dan nyaman untuk anak. Menciptakan suasana yang menyenangkan dengan memberikan senyuman, belaian, pelukan, sehingga anak merasa percaya bahwa orang tua dan orang-orang di sekitarnya sangat menyayanginya.
Untuk anak 2-10 tahun, baiknya jangan terlalu banyak melarang anak dan biarkan dia mengeksplor lingkungannya. Untuk orang tua di tahap usia ini, disarankan menyediakan lingkungan yang aman dan biarkan dia bertumbuh.
Nah, untuk tahap usia 12-18 tahun, ini adalah masa-masa pemikiran anak dibentuk. Sebagai orang tua, peran kita adalah menjadikan anak sebagai teman berdiskusi dengan topik yang sesuai dengan minat dan bakatnya, atau yang berkaitan dengan masalah yang sedang ramai dibicarakan orang.
“Di usia remaja ini, orang tua perlu memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih positif melalui hobi, atau mengisi waktu luang yang bermanfaat bersama keluarga,” lanjut Ratu.
Apa yang Dimaksud dengan Mengasuh Anak Penuh Cinta Kasih?
Mengasuh anak penuh cinta atau welas asih adalah dengan memberikan mereka kasih sayang tulus, tetapi diimbangi dengan ketegasan dan kedisiplinan.
Berikut ini beberapa contohnya:
1. Membiasakan Anak Saling Berbagi
Luapan cinta kasih orang tua kepada anak-anak, sering membuat mereka merasa pusat tumpuan kasih sayang orang tuanya.
Mereka menerima kasih sayang, Ajarkan anak bahwa kita harus lebih banyak memberi daripada menerima.
Biasakan agar mereka saling berbagi, misalnya berbagi makanan dengan saudaranya atau berbagi mainan.
2. Konsisten Merespon Perilaku Anak
Sikap Anda harus konsisten dalam merespon perilaku mereka.
Misalnya, bila anak Anda merampas mainan milik teman atau saudaranya, jangan dibiarkan karena Anda lelah.
Nantinya anak Anda akan bingung mana yang baik dan mana yang tidak baik.
3. Jadilah Teladan yang Baik
Jadilah teladan yang baik. Bersikaplah ramah, lembut, dan selalu membantu orang lain.
Pasalnya, sikap orang tua akan sangat memengaruhi sikap anak juga. Mengingat anak adalah peniru yang ulung. Mereka akan mencontoh apapun yang orang tua lakukan.
4. Mengajarkan Agama Sesuai Kepercayaan
Jangan pernah lupa untuk mengajar dan menanamkan ajaran agama di dalam hati anak-anak Anda, karena agama apapun yang baik selalu mengajarkan kasih sayang dan welas asih kepada sesama.
Bagaimana Cara Meluluhkan Hati Anak Supaya Nurut?
Cara meluluhkan hati anak supaya nurut adalah dengan memberinya kasih sayang tulus. Parents perlu membuat anak merasa nyaman dan aman terlebih dulu. Ketika anak merasa nyaman dan aman bersama Anda, maka dia pun otomatis akan menghormati dan nurut pada orang tua.
Sebagai orang tua, kita juga perlu menjelaskan konsekuensi dan membangun komunikasi dua arah dengan anak agar dia mau mendengar.
“Baiknya jangan otoriter. Anak harus A atau D sesuai kemauan orang tua. Sebaliknya, ajak anak diskusi. Bangun hubungan atau komunikasi yang baik dengannya. Biarkan juga anak belajar mengeskpresikan diri dan mengungkap apa yang dia rasakan,” ungkap Ratu.
Dengan memahami konsekuensi, anak pun jadi bisa berpikiran lebih kritis. Dengan begitu, dia pun akan lebih menghormati dan tentunya menjadi anak yang nurut pada orang tuanya.
Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat, ya!
***
Baca Juga:
Karakter Anak Shio Anjing dan Tips Pengasuhan yang Tepat Untuknya, Wajib Tahu!
Ternyata, ini salah satu cara cara mendidik anak yang perlu dilakukan
Cara Mendidik Anak Tanpa Teriak
Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.