Bayi 6 bulan mengalami Bronkuspneumonia akibat asap rokok, sang ibu beri peringatan

Bayi 6 bulan mengalami Bronkuspneumonia akibat asap rokok, sang ibu beri peringatan

Catat berbagai gejala penyakit Bronkuspneumonia yang wajib diwaspadai setiap orangtua.

Di usianya yang masih dini, si kecil cukup rentan mengalami berbagai jenis infeksi karena daya tahan tubuhnya yang lemah. Khususnya bila berada di lingkungan yang tidak kondusif atau tidak bersih, risikonya bisa menjadi lebih tinggi ya, Parents. Terkait dengan hal ini, Seorang ibu menceritakan kisah bayinya yang masih berusia 6 bulan harus mengalami penyakit serius Bronkuspneumonia yang diduga karena lingkungan sekitarnya tidak bersih.

Ya, lingkungan sekitar bayi yang penuh paparan asap rokok membuat bayi malang ini jatuh sakit dan berada dalam kondisi yang gawat. Sang Bunda pun bercerita detail mengenai awal mula kondisi ini terjadi serta perjuangan ia dan si kecil melawan penyakit pernapasan ganas tersebut.

Pengalaman anak mengalami Bronkuspneumonia

Bronkuspneumonia

Tak seperti biasanya, hari itu sang Bunda merasakan adanya gejala abnormal kesehatan buah hatinya.  Si kecil yang biasanya ceria, aktif, dan menggemaskan tiba-tiba saja terkulai dan menunjukkan adanya masalah pada pernapasannya.

“Assalamualaikum bunda, Kali ini saya akan sharing tentang apa yg sdg saya alami, anak pertama saya sekarang usianya sudah 6 bulan lebih, dia sangat lucu, menggemaskan, aktif dan bahkan dia sudah paham apabila ada org yg macem2 ngasih makan dia pasti nolak dan nangis sekenceng2nya.

Hari senin, tanggal 20 januari 2020 adalah hari dimana ketakutan tentang kesehatan anak ku datang, karena aku merasa aneh dengan dia yg demam dan batuk kering, nafasnya juga sperti ada yg sesak.

Tak lama sorenya saat ketakutan itu datang ku bawa anak ku ke bidan, dia diperiksa dan diberi obat penurun demam dan pengencer dahak. Waktu terus berlalu, malam hari nafasnya semakin cepat dan terdengar seperti sangat sesak, demamnya pun semakin tinggi karena obat dari bidan tak mau ia minum sama sekali. Malam itu dia tak bisa tidur karena terus menangis.” tutur sang Bunda.

Artikel Terkait : Waspadai bahaya wabah pneumonia misterius di China, ini yang perlu Parents lakukan

Dirujuk ke rumah sakit dan didiagnosis Bronkuspneumonia

Keesokan harinya, aku bawa anaku ke puskesmas dengan harapan bisa diberi oksigen atau dinebu atau apalah penanganan medis lainnya. Ternyata, dokter spesialis yang ada di puskesmas menyarankan untuk merujuk anaku ke rumah sakit. Tanpa berfikir panjang, aku dan suami membawa anakku ke rumah sakit terdekat, ternyata di sana tidak ada kamar rawat kosong.

Loh kamar rawat? Iya, dia harus dirawat karena tidak bisa hanya dinebu dan harus ada perawatan khusus. Air mata ku berderai tak terbendung pada saat itu, tak tau harus berbuat apa. Suamiku langsung menelpon temannya yang kenal dengan supir ambulan. Kok jadi ambulan? Iya agar pergi ke rumah sakit berikutnya supaya cepat sampai.”  ujarnya.

Si kecil pun dilarikan ke rumah sakit dan didiagnosis mengalami Bronkuspneumonia oleh dokter.

Selasa, tgl 21 januari 2020 anaku masuk igd di salah satu rumah sakit di kab. Bandung. Setelah beberapa pengecekan seperti cek lab, rontgen ternyata anaku divonis sakit bronkuspnemonia yang di mana penyakit tersebut faktor utamanya adalah asap rokok.” tuturnya kembali.

Disebabkan karena asap rokok

Bronkuspneumonia

Hatiku hancur, karena anaku yang masih bayi harus dirwat gara2 keegoisan org2 sekitar yg tidak menjaga kebersihan dirinya karena bukan hanya paparan asapnya saja, tapi orang yang telah merokok dan tidak mengganti bajunya, asap pada bajunya pun masih bisa terhirup oleh anak yang masih bayi.

Terapi nebu 3x sehari harus dia lakukan dan aku sangat tidak tega melihatnya yang menangis karena tak mau diuap, keringatnya mengalir deras, tangisannya pecah sejadi-jadinya selalu saat proses nebu.“

Bayinya sempat harus puasa

Masih pada hari selasa, tepatnya pada selasa malamnya, anakku disuruh untuk puasa dan tidak boleh makan dan minum. Minum ASI pun tidak boleh. Semalaman dia terus menangis karena lapar dan tdk diberi ASI. Aku hanya bisa menangis dan menahan rasa sakit hati ini melihat semua kejadian itu.

Hari Rabu tgl 22 Januari 2020 pada pukul 5 pagi dokter datang dan lgsg aku menanyakan padanya kapan anaku bisa kuberi ASI, dan dia menjawab sekarang pun boleh karena nafasnya sudah agak stabil kembali.

Betapa bahagianya aku dapat memberi ASI pada anakku. Setelah selesai menyusu, anakku seperti bertenaga dan sehat kembali, dia memberikan senyum pertamanya setelah terkulai lemas selama 2 hari. Pada siangnya, oksigen yang dipasang dari masuk IGD dicabut oleh perawat karena nafasnya sudah mulai stabil dan demamnya sudah tdk ada.

Akupun merasa nyawaku kembali pada saat itu setelah kejadian yg membuatku tak bisa berbuat banyak. Saat ini, dia masih berada di RS karena masih butuh observasi dari dokter.” tuturnya lagi.

Peringatan dari sang Bunda

Bunda, tolong doakan anaku sgra sehat kembali seperti sedia kala agar cepat pulang dan berkumpul bersama keluarga kembali d rumah seperti biasanya.

Untuk bunda baru, aku saran kan lebih tegas kepada org yg suka meroko dkt dgn bayi, menjaga lebih daripada mengobati. Love, semangat para bunda yg kasusnya sama seperti aku..” pungkasnya.

Artikel Terkait : Kenali Bronchopneumonia, Jenis Pneumonia yang Dapat Menyerang Anak 2 Tahun Ke Bawah

Kita doakan saja ya, Parents semoga si kecil bisa kembali sehat seperti sedia kala. Semoga kejadian ini pun bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua selaku orangtua untuk bisa bersikap lebih tegas.

Waspadai gejalanya

Bronkuspneumonia

Kenali berbagai gejala Bronkuspneumonia

Parents Bronkuspneumonia sendiri merupakan salah satu jenis pneumonia yang bisa menyebabkan radang paru-paru. Kondisi ini bisa disebabkan karena adanya infeksi bakteri, virus, maupun jamur yang diperparah oleh lingkungan sekitar yang tidak bersih, seperti paparan polusi kendaraan maupun asap rokok.

Si kecil yang didiagnosis mengalami kondisi ini memang harus diberikan pertolongan segera, seperti kasus bayi di atas. Bila tidak, penyakit ini bisa membahayakan keselamatan, khususnya pada anak yang berusia di bawah 5 tahun.

Ada beberapa gejala yang sebaiknya diwaspadai, antara lain:

  • Mengalami demam tinggi
  • Batuk disertai dengan lendir
  • Kesulitan bernapas atau mengalami sesak
  • Berkeringat jauh lebih banyak
  • Meriang atau menggigil
  • Batuk berdarah
  • Nyeri di bagian dada saat batuk atau bernapas lebih dalam
  • Menjadi lemas seketika
  • Nyeri bagian otot
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah

Parents, bila si kecil mengalami berbagai gejala di atas, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk penanganan yang cepat dan tepat.

Sumber : Aplikasi TheAsianParent, Medical News Today

Baca Juga :

ISPA bisa berkembang menjadi pneumonia yang mematikan, kenali gejalanya sekarang!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner