Anak suka berkata kasar? Jangan dimarahi, ini 6 cara bijak menghadapinya

Anak suka berkata kasar? Jangan dimarahi, ini 6 cara bijak menghadapinya

Seorang ibu curhat bila sang anak menjadi terbiasa berkata kotor dan kasar karena lingkungannya. Berikut ini 6 cara untuk mengatasinya.

Orangtua mana yang tak sedih bila mendapati anaknya terbiasanya berkata kotor atau kasar. Terlebih bila kebiasaan tersebut ia dapatkan dari lingkungan luar. Seperti pengalaman Riza, ibu dua orang anak.

“Anak saya setiap bermain dengan tetangga tiba-tiba pulang ke rumah dengan kata-kata baru yang kasar. Saya mau larang dia keluar tapi gak tega juga,” ujarnya.

Tanggapan Najeela Shihab soal anak yang berkata kotor

Anak suka berkata kasar? Jangan dimarahi, ini 6 cara bijak menghadapinya

Menurut kakak kandung dari Najwa Shihab ini, anak sering kali bereksperimen dengan kata tertentu tanpa tahu makna dari kata tersebut, dan menjadi girang saat mendapat reaksi berlebihan.

Dalam banyak situasi, saat dinyatakan untuk tidak menggunakan kata tersebut dengan tegas tanpa marah-marah, anak akan belajar dan mengurangi frekuensinya.

Mampu mengobservasi lingkungan dan menirukan kata baru adalah keterampilan penting dalam belajar, memang ada risiko menangkap hal yang buruk. Namun pilihan membatasi sosialisasi anak dengan tetangga tidak akan berhasil dalam jangka panjang.

“Ajarkan anak secara bertahap untuk berinteraksi dengan baik. Bisa dimulai dari teman yang lebih tua kemudian teman sebaya. Bisa juga dimulai dari banyak berkumpul di rumah bersama anggota keluarga kita, baru kemudian ke area publik di dekat rumah dan seterusnya,” jelasnya.

Artikel terkait: Tumbuh kembang anak: 8 Konsep diri untuk membangun karakter positif anak

6 Cara mengatasi anak berkata kotor dan kasar

berkata kotor 2

Lebih lanjut, Maesera Idul Adha, Psi, seorang psikolog dari RS Fatmawati Jakarta Selatan, mengatakan bahwa perilaku suka meniru melekat pada anak ketika dia memasuki usia prasekolah. Apa yang dilihat atau didengar di lingkungannya akan ditiru oleh anak.

Begitu ada sesuatu yang baru yang didapat anak dari pergaulan atau lingkungan, termasuk kata kotor atau kasar, maka akan cepat ditangkap dan diadopsi oleh anak dalam perilaku sehari-hari. Sebab ia sangat bersemangat mengeskplorasi berbagai hal baru disekitarnya.

Di sinilah peran penting orangtua untuk membuat anak mengerti mana yang baik ditiru dan mana yang tidak.

Ada beberapa langkah bijaksana yang bisa diterapkan oleh orangtua, yaitu:

a. Sebisa mungkin awasi dan dampingi anak saat bermain

Menjauhkan anak dari lingkungan yang bisa memberikan dampak buruk untuknya memang bisa dilakukan, namun hal ini tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang. Karena justru akan mengekang kebebasan anak dalam bermain dan bergaul.

Karena itulah, langkah yang lebih baik adalah mengawasi dan mendampingi anak saat bermain, sehingga Anda bisa membatasi paparan hal buruk seperti kata-kata kotor atau kasar yang mungkin didengar anak.

Saat anak bertanya apa makna kata tersebut, jelaskan dengan bahasa sederhana yang bisa dimengerti olehnya, dan katakan bahwa kalimat itu merupakan bad words yang tidak pantas untuk diucapkan.

b. Jangan marah saat anak berkata kotor

Anak suka berkata kasar? Jangan dimarahi, ini 6 cara bijak menghadapinya

Berusahalah untuk tidak marah dan bersikap wajar di depan anak saat dia mengeluarkan kata kasar. Kemarahan terkadang justru membingungkan anak, dan tidak efektif untuk membuat anak mengerti mengapa dia tidak boleh berkata kotor.

Dalam beberapa kasus, anak yang kurang mendapat perhatian justru akan mengulangi hal yang tidak disukai orangtua agar ia dimarahi. Baginya, dimarahi orangtua menjadi salah satu bentuk perhatian.

c. Jelaskan arti kata tersebut pada anak

Ketika anak berkata kotor atau kasar, coba tanyakan pada anak apa maksud perkataan itu, dan kenapa ia mengucapkan hal tersebut.

Bisa jadi anak akan menjawab tidak tahu, dan hanya ikut-ikutan saja.

Itu artinya dia memang tidak paham apa arti kata kotor dan kasar tersebut. Dia juga belum sadar kalau kata-kata itu dapat menyakiti orang lain.

Di sini, tugas orangtua adalah untuk menjelaskan dan menanamkan pemahaman anak mengenai kata-kata tersebut. Orangtua juga sebaiknya mencari tahu alasan dia melontarkannya.

d. Bimbing dan arahkan

Bila anak tetap mengatakan kata kotor dan kasar meskipun telah diingatkan, maka jangan menyerah. Anda hanya perlu membimbing dan mengarahkan anak terus menerus.

e. Buat kesepakatan

Anak suka berkata kasar? Jangan dimarahi, ini 6 cara bijak menghadapinya

Bila anak masih saja mengulangi kata kotor dan kasar berulang kali. Tak ada salahnya bila Anda memberikan hukuman yang disepakati bersama. Namun jangan memberikan hukuman fisik.

Bentuk hukuman yang disarankan bagi anak usia prasekolah adalah time-out. Yakni, anak diminta duduk diam di pojok ruangan selama tiga menit atau tegaskan bahwa Anda tidak mau berbicara dengannya selama tiga menit.

f. Cermat mencari penyebabnya

Jangan hanya fokus untuk membuat anak tidak mengulangi kebiasaan berkata kotor atau kasar. Orangtua juga harus jeli mencari penyebab mengapa anak senang menggunakan kata-kata itu.

Apakah karena tiap kali dia berucap kata kasar, lalu ditertawakan oleh orang lain di rumah? Kalau memang demikian, beri pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak memberikan respons positif bila anak melontarkan kata-kata yang kurang pantas.

Minta mereka untuk tidak menganggap kata-kata itu sebagai hal yang lucu. Tekankan, bila anak mulai berkata kasar, jangan pedulikan dan pura-pura tidak tahu.

Umumnya anak akan segera menghentikan kebiasaan buruknya karena ia tahu tidak sukses mendapat perhatian dari perilaku tersebut.

****

Anak suka berkata kasar? Jangan dimarahi, ini 6 cara bijak menghadapinya

Referensi: Buku Keluarga Kita, Kompas.com

Baca juga

5 Prinsip mencintai anak yang perlu Parents terapkan, jangan sampai salah

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner