Benarkah Positive Parenting Berdampak Buruk?

Penelitian menunjukkan bahwa positive parenting ternyata memberi dampak buruk pada anak. Benarkah demikian? Bagaimana seharusnya kita melakukannya?

Positive parenting ternyata bisa berdampak buruk.

Positive parenting ternyata bisa berdampak buruk.

Salah satu artikel dailymail.co.uk menyebutkan bahwa London School of Economics (LSE) telah melakukan sebuah penelitian tentang positive parenting, prinsip parenting yang ditekankan oleh pemerintah Inggris kepada rakyatnya.

Hasil penelitian tersebut ternyata sungguh mengejutkan. Alih-alih membuat anak menjadi pribadi yang baik dan positif, positive parenting ternyata malah membuat mereka tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Hal ini terjadi karena orangtua mereka tidak pernah memberikan hukuman untuk tindakan-tindakan mereka yang salah.

“Peraturan pemerintah Inggris yang menekankan orangtua untuk selalu menghargai anak-anak sangatlah susah untuk dilaksanakan,“ ujar Helen Reece dari LSE.

“Akan lebih baik bila para orangtua mengikuti instuisi mereka; kapan harus menghukum dan kapan harus memuji anak,” ucap Helen lebih lanjut.

Jadi, apakah cara pengasuhan positive parenting salah?

Dasar positive parenting

Faudzil Adhim, salah satu pakar parenting dalam bukunya menyebutkan bahwa dasar dari positive parenting adalah merangang inisiatif anak, kemudian mendorong semangat, serta menunjukkan penerimaan yang tulus dan perhatian yang hangat atas kebaikan yang mereka lakukan.

Kunci utamanya adalah komunikasi yang baik. Melarang anak pun dimulai terlebih dahulu dengan kalimat positif, menunjukkan apa yang harus dilakukan, agar anak-anak lebih siap menerima nasehat.

Jadi, intinya tidaklah terus memberikan penghargaan, namun mengkomunikasikan apa yang baik dan yang buruk dengan komunikasi yang baik.

Wujud positive parenting

Jadi, bagaimanakah positive parenting harus dilakukan? Berikut adalah 10 wujud dasar positive parenting yang bisa Parents terapkan dalam mengasuh anak.

1. Berikan contoh yang baik

Aturan ini adalah aturan parenting yang tidak bisa ditawar, karena secara naluri anak-anak akan mencontoh orang dewasa di sekitarnya. Jadi, bila kita terbiasa bersikap baik kepada mereka, maka semua nasehat pun akan lebih mudah mereka terima.

2. Beri gambaran tegas antara yang benar dan salah

Anak-anak, terutama balita, tentu saja belum terlalu memahami mana tindakan yang baik dan mana yang buruk. Sudah menjadi tugas kita untuk memberikan batasan tersebut.

Kata “tidak” atau “jangan” yang kita ucapkan harus mampu menghentikan mereka bertindak lebih jauh atau menerima konsekuensi dengan lapang dada jika mereka melanggarnya.

3. Konsisten

Konsisten dengan aturan yang sudah dibuat akan membantu anak-anak untuk erus mendengarkan perkataan kita. Sekali saja kita tidak konsisten, anak-anak akan dengan mudah menggunakan kesempatan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

4. Kendalikan diri

Anak-anak sangat mudah untuk membuat kita marah. Jadi jangan biarkan tingkah mereka membuat Anda cepat naik darah.

Baca juga: Mengatasi Rasa Marah pada Anak

Tahan sesaat untuk bertindak sebelum Anda tenang, karena kemarahan Anda bisa jadi akan menyulut kemarahan yang lain.

5. Beri larangan dengan alasan yang jelas

Ada banyak hal yang membuat kita melarang anak, hanya karena kita tidak ingin mereka melakukannya. Misalkan melarang mereka bermain hanya karena kita malas membersihkan rumah. Atau marah saat diminta membacakan buku dongeng yang itu-itu saja karena kita sebetulnya sudah bosan.

Dalam pola asuh positive parenting, melarang anak harus dengan alasan yang jelas. Misalkan “Boleh main asal adik juga bantu merapikan”, “Lebih baik tidak berlari di dalam rumah, Ibu khawatir nanti adik terbentur”.

Cara anak-anak berpikir tidaklah seperti orang dewasa, apa yang kita anggap membosankan atau sia-sia, bisa jadi sangatlah penting dan berharga untuk mereka.

6. Pahami anak

Bekal yang tak kalah penting dalam positive parenting adalah memahami anak. Sesekali cobalah untuk menempatkan pandangan dan perasaan kita dari sudut pandang anak. Kemudian biarkan anak-anak tahu bahwa kita sebagai orangtuanya sangat memahaminya.

Kalimat seperti “Ibu tahu engkau sedih, tapi…”, “Ibu tahu adik asyik sekali bermain, hanya saja …”, atau “Oh, Adik takut, …” akan membuat si Kecil tahu bahwa ia memiliki tempat untuk berlindung.

7. Gunakan kata “Ya” alih-alih “Jangan” atau “Tidak”

Jika memang situasinya memungkinkan, menggunakan kata kalimat yang positif akan lebih baik dibanding menggunakan kalimat negatif. Jadi, ketika si Kecil menolak untuk mandi karena asyik bermain; alih-alih mengatakan, “Udah ngga boleh main lagi, adik harus mandi!” cobalah katakan “Oke, sepuluh menit lagi mandi, ya.”

Baca juga: Berbagai Alternatif Kata “Jangan”

Dengan menggunakan kalimat yang bernada positif, diharapkan anak-anak akan terdorong untuk menjawab atau bereaksi lebih efektif.

8. Mulailah sedari kecil

Kita semua tahu bahwa adalah lebih mudah untuk mendidik anak melakukan hal yang positif semenjak kecil.

Jadi, buatlah rutinitas harian sepeti mandi dan menggosok gigi menjadi hal yang menyenangkan. Biasakan kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” menjadi kebiasaan mereka.

9. Luangkan waktu

Nasehat untuk meluangkan waktu bersama anak, memang lebih mudah dikatakan daripada dikerjakan. Kebanyakan dari kita mudah sekali mengalihkan perhatian kepada gadget, pekerjaan rumah, atau pekerjaan kantor, padahal sedang bersama dengan anak.

Solusinya, luangkan waktu setengah atau satu jam saja untuk mendengarkan semua keluhan atau keresahan yang si Kecil rasakan.

Kemudian buat kesepakatan dengannya bahwa setelah itu Parents harap mereka bisa menghabiskan waktu bersama, walaupun Parents ingin sambil mengerjakan pekerjaan lain sementara ia bermain di dekat Anda.

10. Peluk lah si Kecil, saat ia gagal atau sedih

Anak-anak sesungguhnya hanya ingin merasa dicintai. Dan mereka berharap kita akan ada di sisi mereka saat mereka sedih. Jadi, ketika si Kecil gagal meraih apa yang ia inginkan, rentangkanlah tangan Parents, dan biarkan ia bersandar sesaat di dada Parents.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

Referensi: Dailymail.co.uk, sg.theAsianparent.com, buku Adhim, Mohammad Fauzil. Positive Parenting. Cet. Ke-1 Bandung: Mizania, 2006