Anak tidak vaksin DPT, satu wilayah bisa terkena wabah Difteri

lead image

Anak tidak vaksin bisa jadi penyebab Difteri mewabah, karena adanya kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.

Merebaknya wabah difteri kini makin meresahkan. Menurut Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dari sejumlah kota di 20 provinsi yang terjadi wabah difteri sudah ada laporan kasus kematian pasien usia anak hingga dewasa. Saatnya periksa kembali status imunisasi anak Parents, karena anak tidak vaksin bisa jadi penyebab munculnya wabah difteri.

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Corynebacterium diptheriae. Difteri dapat menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan, terutama anak-anak.

Artikel terkait: Kenali gejala dan cegah penularan Difteri

 

Anak tidak vaksin DPT sebabkan kesenjangan kekebalan

Seperti dikutip dari www.depkes.go.id, munculnya KLB Difteri dapat terkait dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.

Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya. Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi, akibatnya anak tidak vaksin.

“Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk Difteri”, ungkap Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat.

Pencegahan utama Difteri adalah dengan imunisasi. Indonesia telah melaksanakan Program imunisasi termasuk imunisasi difteri sejak lebih 50 tahun. Keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95%.

Vaksin untuk imunisasi difteri ada 3 jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan.

Selanjutnya, diberikan Imunisasi Lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas-1 diberikan 1 dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas-2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

Lihat jadwal imunisasi anak selengkapnya di sini.

Vaksin gratis untuk stop wabah difteri

Meningkatnya kasus difteri, pemerintah juga sigap mengajak masyarakant untuk segera mengatasi masalah ini. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Mohamad Subuh mengungkapkan tiga provinsi sepakat lakukan Respon Cepat.

“Senin, 11 Desember 2017 Prov. Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat akan mulai melaksanakan ORI (Outbreak Response Immunization). Langkah ini dilakukan sebagai respon cepat terhadap berkembangnya kasus difteri di Indonesia,” kata Subuh.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2017/12/vaksin.jpg Anak tidak vaksin DPT, satu wilayah bisa terkena wabah Difteri

Dipilihnya Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat karena mengingat potensi transmisi penyakit menular masih tinggi. Transmisi yang tinggi itu didorong oleh padatnya jumlah penduduk, jumlah dan tingginya mobilisasi di tiga provinsi tersebut.

Selain itu, ketiga provinsi tersebut memiliki kasus yang banyak dan dilaporkan kelompok usia dewasa juga terkena. Di DKI Jakarta ada 22 kasus dilaporkan. Di Jawa Barat terdapat 123 kasus dengan 13 kematian yang tersebar di 18 kabupaten/kota. Kasus terbanyak ada di Purwakarta dengan 27 kasus disusul Karawang dengan 14 kasus.

Sementara di Banten terdapat 63 kasus dengan 9 kematian. Sampai sekarang ada 3 orang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang, 2 pasien dari Kota Tangerang dan 1 orang dari Depok.

Tingkat penularan difteri, sangat tinggi karena penularan bakteri melalui percikan ludah saat bersin atau batuk, itu sangat mudah menular. Karena itu,  harus segera melakukan ORI, artinya pemberian imunisasi ulang secara massal kepada seluruh wilayah yang terdapat kasus difteri.

“ORI dilakukan 3 putaran. Jarak pemberian putaran pertama dan kedua adalah 1 bulan, sedangkan jarak antara putaran kedua dan ketiga adalah 6 bulan. Putaran pertama dilaksanakan pada 11 Desember 2017, dilanjutkan pada 11 Januari dan 11 Juli 2018,” Subuh memaparkan.

Agar penyebab Difteri ini bisa diminimalkan secara cepat perlu kesadaran orangtua untuk melengkapi jadwal imunisasi anak. “Jika belum lengkap, agar dilengkapi,” ujar Oscar juga menegaskan.

Orangtua juga disarankan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Seperti, menggunakan masker bila sedang batuk dan segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat jika anggota keluarganya ada yang mengalami demam disertai nyeri menelan, terutama jika didapatkan selaput putih keabuan di tenggorokan.

Tidak ada alasan lagi buat anak tidak vaksin, kan? Ayo langsung cek buku imunisasi, Parents. Segera lengkapi jadwal imunisasinya, ya!

 

Baca juga:

Wabah penyakit Difteri kembali menghantui, ini pesan IDAI untuk orangtua