TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikuti Meski Diam Saja

Bacaan 4 menit
Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikuti Meski Diam Saja

Jika seorang duda sering mendapat sebutan sebagai “duda keren” yang bermakna positif, mengapa sebutan untuk janda lebih sering berkonotasi negatif. Ada apa dengan janda?

Istilah janda sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘janda’ memiliki makna perempuan yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suaminya. Namun, seringkali status ini mendapat stigma negatif dari masyarakat, ada apa dengan janda?

Sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan seorang janda, ya. Entah mereka menjadi janda karena memutuskan untuk bercerai atau ditinggal meninggal oleh suaminya, seharusnya hal tersebut tidak membuat seorang perempuan dipandang sebelah mata.

Namun, kenyataannya tidak seperti itu.

Seorang janda penuh dengan stigma negatif

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikutinya

Saya memiliki seorang teman yang ditinggal meninggal suaminya, saat anak pertamanya baru berusia beberapa bulan. Dia bercerita, hal yang paling sulit menjadi seorang janda bukan hanya harus membesarkan anak sendirian, tetapi lingkungan sekitar.

Beberapa kali teman saya ini mendengar dirinya digunjingkan oleh tetangga karena ditinggal meninggal suami di usia muda. Bahkan, ada beberapa teman laki-lakinya yang membatasi pertemuan dengan dirinya—atau paling tidak, tidak bertemu hanya berdua—karena tidak mau istrinya marah suaminya bertemu dengan janda. Padahal, itu dilakukan saat bekerja!

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikuti Meski Diam Saja

Psikolog klinis anak, dewasa, dan keluarga Roslina Verauli, M.Psi.,Psi, menuliskan sebuah unggahan di Instagram pribadinya, dengan judul Ada apa dengan status JANDA? pada 31 Maret 2022 lalu.

“Menyandang status janda merupakan pengalaman negatif akut bagi yang mengalaminya. Terutama di negara berkembang. […] Mereka sendirian dalam menghadapi berbagai masalah ekonomi, sosial, dan psikologis, antara lain; dituntut untuk mampu menafkahi diri dan anak-anaknya, menghadapi buruknya stigma sosial, kehilangan relasi dan dukungan keluarga, hilangnya perasaan diri berharga, bahkan perasaan ketakutan untuk hidup seorang diri,” tulisnya.

Jadi, apa yang dirasakan teman saya memang valid: Seorang janda penuh dengan stigma negatif, yang seharusnya tidak diterima olehnya.

Ada apa dengan janda? Seharusnya mereka merasa bangga

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikutinya

Dilansir dari laman JawaPos.com, politisi dan pemerhati isu pemberdayaan perempuan Firliana Purwanti mengatakan, perempuan yang bercerai karena menjadi korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) atau pernikahan yang toksik, seharusnya merasa bangga. Menurutnya, janda cerai seperti itu sama terhormatnya seperti janda yang ditinggal meninggal suaminya.

“Justru para janda cerai harus memberikan apresiasi kepada diri mereka sendiri karena berhasil dan berani keluar dari pernikahan toksik atau pernikahan yang kurang menyenangkan,” ujarnya.

Sayangnya, tidak semua perempuan berpikir seperti itu karena dalam banyak kasus KDRT, 70 persen perempuan justru lebih memilih kembali ke pasangannya yang toksik karena takut menjadi janda dan mendapatkan stigma negatif dari masyarakat.

Padahal, janda lebih rentan mengalami masalah kesehatan

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikutinya

Menurut Roslina dalam status yang ditulisnya di Instagram, perjuangan para janda yang menghadapi berbagai masalah ekonomi, sosial, dan psikologis sangat berat. Tidak heran membuat mereka rentan mengalami depresi, kecemasan, hingga trauma. Semua perasaan tersebut dirasakan selama masa transisi berstatus sebagai janda, bahkan hingga tiga tahun setelahnya.

“Apalagi bila tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi mereka rendah. Mereka rentan menjadi obyek dari eksploitasi sosial budaya. Bahkan jargon ‘janda semakin terdepan’-pun seringkali dimaksudkan dalam konteks negatif, seperti; pelakor yang sukses mengambil suami perempuan lainnya,” tulisnya.

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikuti Meski Diam Saja

Hal ini bisa membuat seorang perempuan yang memutuskan untuk bercerai dari suaminya karena ingin kehidupan yang lebih baik, justru menghadapi tantangan yang lebih besar karena menjadi janda. Di sinilah kesehatan mentalnya bisa diuji.

Dalam jangka pendek, kesehatan mental yang terganggu bisa menyebabkan emosi yang tidak stabil sehingga mempengaruhi fisiknya, seperti sering merasa lelah, jenuh, dan pusing. Sementara dalam jangka panjang, gangguan kesehatan mental yang tidak diatasi bisa menyebabkan depresi.

Ada apa dengan janda dan apa yang bisa kita lakukan sebagai perempuan?

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikutinya

Mungkin bisa dimulai dengan berpikiran lebih terbuka karena tidak semua janda adalah pelakor alias perebut laki orang. Masih banyak janda di luar sana yang hidup secara terhormat dan mampu membesarkan anak-anaknya dengan baik.

Roslina menulis, sahabatnya bercerita bahwa di luar negeri, para janda di Kanada mendapat dukungan dari pemerintah agar bisa hidup mandiri. Dengan begitu mereka tidak tergoda untuk mengandalkan orang lain, apalagi menjadi perebut suami orang.

Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikuti Meski Diam Saja

Di Indonesia, hal tersebut sepertinya sulit untuk didapatkan. Untuk itu, kita sebagai sesama perempuan harus lebih saling mendukung, khususnya kepada para janda yang mungkin membutuhkan bantuan.

Cerita mitra kami
Parents Wajib Tahu! Ini Cara Atur Strategi Keuangan, Dana Darurat, dan Asuransi di Era Dinamis
Parents Wajib Tahu! Ini Cara Atur Strategi Keuangan, Dana Darurat, dan Asuransi di Era Dinamis
Edukasi Gizi Sejak Dini, 50 Chef Cilik Unjuk Kreativitas di Grand Final Weyoco Junior Chef Indonesia Season 5
Edukasi Gizi Sejak Dini, 50 Chef Cilik Unjuk Kreativitas di Grand Final Weyoco Junior Chef Indonesia Season 5
Kenyamanan Sehari-hari, Kenangan Sepanjang Masa: Cerita di Balik Petit Beary
Kenyamanan Sehari-hari, Kenangan Sepanjang Masa: Cerita di Balik Petit Beary
Dukung Pendidikan dan Lingkungan Sehat, PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk Gelar CSR di SDN 01 Cilangkap
Dukung Pendidikan dan Lingkungan Sehat, PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk Gelar CSR di SDN 01 Cilangkap

Jadi, ada apa dengan janda? Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya status mereka saja yang berbeda dengan perempuan bersuami atau perempuan lajang. Namun, hal itu tidak berarti seorang janda berbeda dengan perempuan lainnya.

 

Baca juga: 

Sejarah Hari Janda Internasional dan Alasan Perlu Diperingati

10 Artis Korea Berstatus Janda, Ada yang Suaminya Dibunuh

Tak perlu poligami, pria ini berniat mendapat pahala dengan menafkahi ratusan janda

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

theAsianParent Indonesia

  • Halaman Depan
  • /
  • Gaya Hidup
  • /
  • Ada Apa dengan Janda? Stigma Negatif selalu Mengikuti Meski Diam Saja
Bagikan:
  • 30 Film Semi Dewasa Thailand Terpanas Paling Populer dan Sensual!

    30 Film Semi Dewasa Thailand Terpanas Paling Populer dan Sensual!

  • 35 Film Dewasa Indonesia Terpanas Paling Populer, Cek!

    35 Film Dewasa Indonesia Terpanas Paling Populer, Cek!

  • 15 Arti Mimpi Potong Rambut, Pertanda Baik atau Buruk? Cek!

    15 Arti Mimpi Potong Rambut, Pertanda Baik atau Buruk? Cek!

  • 30 Film Semi Dewasa Thailand Terpanas Paling Populer dan Sensual!

    30 Film Semi Dewasa Thailand Terpanas Paling Populer dan Sensual!

  • 35 Film Dewasa Indonesia Terpanas Paling Populer, Cek!

    35 Film Dewasa Indonesia Terpanas Paling Populer, Cek!

  • 15 Arti Mimpi Potong Rambut, Pertanda Baik atau Buruk? Cek!

    15 Arti Mimpi Potong Rambut, Pertanda Baik atau Buruk? Cek!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti