8 Panduan Dasar Mendisiplinkan Anak Sensitif

Mendisiplinkan anak sensitif memang sulit, tapi tidak berarti tidak bisa dilakukan. Lakukan semua tips berikut, pasti Anda berhasil.

Mendisiplinkan anak sensitif memang gampang-gampang susah. Karakter anak yang mudah terpancing emosinya saja, sudah menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Hanya sedikit saja kita menaikkan alis, maka ia akan langsung menangis. Mereka juga takut bahwa mereka akan mendapat masalah karena perbuatannya.

Anak-anak sensitif, biasanya tidak hanya sensitif secara emosional, namun seluruh indranya pun demikian. Suara berisik, sinar lampu yang terang, dan tekstur benda tertentu, bisa membuat mereka bereaksi berlebihan.

Anak sensitif kadang juga pemalu. Mereka sering ragu-ragu mencoba hal baru dan sering kesulitan mengatasi rasa frustasi, terlebih bila teman-temannya sudah menjulukinya sebagai anak cengeng atau si pemarah.

Jadi untuk mendisiplinkan anak tipe ini memang perlu trik-trik tertentu, dan juga kesabaran.

Aturan dasar mendisiplinkan anak sensitif

Tidak peduli anak kita termasuk anak yang sensitif atau tidak, kita tetap harus mendidiknya agar disiplin. Perilaku disiplin tentu akan membantunya mengatasi banyak masalah kelak ketika ia dewasa.

Namun anak sensitif butuh trik tertentu, karena suara keras, tindakan sedikit kasar, atau pemberian konsekuensi bisa saja malah menimbulkan masalah yang besar untuknya.

Jadi, langkah terbaik adalah memberinya bimbingan bagaimana untuk menjadi anak yang disiplin, dan mengapa hal tersebut penting untuk ia lakukan.

8 Panduan mendisiplinkan anak sensitif

#1. Terimalah mereka apa adanya

Setiap kita tentu ingin diterima sebagai apa adanya kita. Kita tidak akan pernah suka untuk mengubah perilaku atau temperamen kita seperti orang lain inginkan.

Begitu juga dengan si sensitif. Daripada berusaha mengubah sifatnya, menyebutnya si pemalu, atau malah si penakut, akan lebih baik bila melihat kepekaan si kecil sebagai kekuatannya atau anugerah.

Baca juga: Cara Mengajak Anak Pendiam Bergaul

#2.  Sediakan waktu agai ia dapat beristirahat

Kepekaannya terhadap suara, cahaya, situasi yang ramai bisa membuatnya sangat lelah. Hindari memberikan ia jadwal aktivitas yang berlebihan.

Sediakan tempat untuk menenangkan diri dengan aktivitas yang “lebih sunyi” seperti mewarnai, mendengarkan musik yang lembut melalui headphone, membaca buku, dan beritahu dia untuk melakukannya saat ia merasa lelah.

#3. Konsisten

Terkadang kita ingin mengendurkan aturan yang telah kita buat supaya ia tidak ngambek. Namun bila Anda sering membuat perkecualian dan kelonggaran tidak akan bermanfaat untuk kebaikan masa depannya.

Ingat, aturan dunia tidak akan pernah mengalah untuknya. Jadi, tetapkan batasan, dan terus konsisten menerapkannya.

#4. Hargai usahanya

Hargai apa yang telah ia lakukan, meski mungkin tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Misalnya katakanlah, “Ibu suka saat adik tidak lupa mengangkat sampah di dapur,” meskipun mungkin masih ada ceceran sampah yang tertinggal di dapur.

Penting juga untuk menghargainya saat ia bertindak atau berkata jujur. Pada umumnya, anak-anak sensitif suka berbohong guna menghindari masalah. Jadi, jangan lupa katakan penghargaan atas kejujurannya meski mungkin kejujuran itu menghasilkan situasi yang tidak menyenangkan baginya.

Mendisiplinkan anak, tidak berarti kaku dan tidak ada hadiah sama sekali. Sesekali tidak ada salahnya memberikan ia hadiah untuk membuatnya merasa berhasil melakukan sesuatu.

Ingatlah bahwa anak sensitif mudah sedih jika tidak mencapai yang ia inginkan. Bila si kecil merasa demikian, katakanlah, “Adik bisa coba lagi besok, kan?”

#5. Gunakan kata yang lebih positif

Mereka mudah  sedih bila melakukan sesuatu yang salah. Jadi daripada mengatakan, “Adik tidak boleh makan es krim kalo nggak habisin makan malam,” lebih baik katakan, “Setelah adik habiskan makan malam, adik bisa makan es krim …”

#6. Ajari mereka untuk mengekspresikan perasaannya

Anak-anak sensitif harus belajar mengekspresikan perasaanya secara verbal, seperti, “Aku takut, Ibu”, “Aku marah”, “Aku bingung” dan lain sebagainya. Mereka juga harus belajar cara yang tepat untuk mengatasi perasaannya tersebut.

Cobalah ajak anak untuk bicara, dengarkan apa yang ingin ia katakan. Tahan diri untuk menginterupsi perkataannya meski sebetulnya kita sudah sangat ingin marah.

Bila si kecil masih balita dan masih susah mengekspresikan perasaannya, Parents dapat memberikannya kartu atau balok emosi untuk membantunya memahami apa yang ia rasakan saat ini. Kartu emosi dapat dibuat sendiri.

Baca juga: Ide Membantu Anak untuk Mengenali Emosinya

#7. Ajari cara untuk memecahkan masalah

Akan ada sebuah perbedaan besar bila si sensitif tahu cara memecahkan masalahnya sendiri. Dia tidak hanya akan lebih mandiri dan percaya diri, tapi juga tahu cara mengatasi perasaannya yang mudah sekali merasa tidak nyaman.

#8. Tetap terapkan konsekuensi negatif

Meskipun si kecil termasuk sensitif, tapi dia juga perlu mendapat konsekuensi negatif seperti anak-anak yang lain. Menangis bukan berarti ia perlu kelonggaran.

Beri alasan logis mengapa Parents tetap memberinya konsekuensi negatif. Contoh: tidak meletakkan baju kotor di keranjang, maka baju tidak di cuci; atau menyuruhnya duduk menghadap dinding setelah memukul kakak/ adik.

Parents, mendisiplinkan anak adalah sebuah proses, seringkali hasilnya terlihat berbulan-bulan kemudian. Jadi, tetaplah konsisten, teruslah belajar, dan sediakan banyak “kesabaran”.

Percayalah, akan tiba masanya Parents tersenyum dan menuai hasilnya di kemudian hari.

Baca juga:

7 Strategi dan Catatan Penting dalam Melatih Kedisiplinan Anak