Waspadai Plasenta Lepas pada Trimester Kedua dan Ketiga

Plasenta lepas seringkali tidak menunjukkan gejala berarti. Apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi risiko kehamilan ini?

Ada baiknya setiap ibu hamil mengetahui risiko plasenta lepas atau ruptured placenta.

Ada baiknya setiap ibu hamil mengetahui risiko plasenta lepas atau ruptured placenta.

Ruptured plasenta atau plasenta lepas merupakan kejadian yang sangat mendadak, bisa terjadi tanpa gejala, atau malah hanya salah satu atau keseluruhan tanda-tanda ruptus.

Meskipun begitu, dokter bisa saja mendeteksi kemungkinan terjadinya risiko terjadinya plasenta lepas ini dengan melihat tanda-tanda kesehatan atau kondisi ibu saat pemeriksaan rutin.

Karena itu biasakan untuk mencatat vitamin, supplemen, atau obat-obatan apa saja yang ibu konsumsi selama hamil. Dokter mungkin saja sudah mencatatnya pada rekam medis ibu, namun bila ibu juga mengkonsumsi obat, vitamin atau suplemen lain di luar yang dokter berikan, maka tuliskanlah pada sebuah buku catatan.

Kemudian letakkan catatan beserta rekam medis ibu di tempat yang mudah diraih, dan beritahukan kepada suami atau anggota keluarga lain yang mungkin akan membantu ibu bila ada kejadian darurat.

Diagnosa ruptured plasenta/ plasenta lepas

Dokter akan mendiagnosa plasenta lepas berdasarkan kondisi ibu dan bayi serta gejala yang terjadi, apakah berat, ringan atau sedang.

Jika ibu dan janin dalam kondisi mengkhawatirkan, maka yang pertama kali dokter perhatikan adalah menjaga keselamatan ibu dengan cara memberi ibu oksigen, memberi tambahan cairan, dan jika perlu, melakukan transfusi darah.

Setelah kondisi ibu stabil, atau bila ibu datang ke rumah sakit dalam kondisi stabil, maka dokter akan memeriksa apakah ada kontraksi yang terjadi, seberapa kuat dan seberapa sering hal itu terjadi.

Dokter mungkin saja akan memeriksa jalan lahir atau serviks untuk memastikan berat-ringannya pendarahan, atau apakah pendarahan terjadi karena robeknya jalan lahir, infeksi, atau gangguan lain non kanker.

Selama proses pemeriksaan tersebut, detak jantung janin juga akan dimonitor. Pemeriksaan USG dilakukan untuk memastikan apakah ada gumpalan darah di dalam uterus dan menyebabkan plasenta previa yang biasanya juga menjadi penyebab pendarahan.

Apabila Ibu memiliki rhesus darah negatif dan mengalami pendarahan vagina pada trimester kedua, maka ibu membutuhkan suntikan anti-D-immunoglobin.

Bila ibu positif mengalami ruptured plasenta/ plasenta lepas

Penanganan plasenta lepas tergantung pada beberapa hal; seperti apakah due date sudah dekat, seberapa parah pendarahan, serta kondisi janin apakah sudah masuk gawat janin atau tidak.

Operasi caesar sebetulnya merupakan tindakan terbaik untuk menangani plasenta lepas, meskipun itu artinya bayi harus lahir prematur (yang kadang juga membawa resiko persalinan lainnya).

Namun, bila dokter memutuskan ruptus ibu adalah ruptus minor, maka bisa saja persalinan ditunda sementara waktu. Tentu saja dengan catatan bahwa bayi dalam kondisi aman.

Bila bayi harus dilahirkan, maka dokter akan memberikan ibu steroid guna mempercepat pematangan jantung pada janin dan melindungi janin dari permasalahan pasca bayi dilahirkan seperti kesulitan bernapas, pendarahan otak, bayi kuning dan lain sebagainya.

Kadang-kadang plasenta lepas membuat ibu dan bayi dalam kondisi gawat. Misalkan karena ibu kehilangan banyak darah, maka dokter akan memastikan ibu untuk mendapat bantuan oksigen, cairan infus, dan tambahan darah.

Sayangnya, kondisi gawat seringkali membuat bayi tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal sebelum dilahirkan.

Bagaimana cara mencegahnya? Bacalah ulasannya di halaman berikut:

Bagaimana mencegahnya?

Risiko ibu untuk mengalami plasenta lepas akan meningkat apabila pernah mengalami hal serupa pada kehamilan sebelumnya. Jika umumnya rasio kejadian ruptured placenta adalah 1 dari 25 kehamilan; maka untuk ibu yang pernah mengalaminya dua kali pada kehamilan sebelumnya, resiko akan meningkat menjadi 1 dari 5 kehamilan.

Sayangnya lagi, plasenta lepas seringkali tidak bisa dicegah. Namun, beberapa hal ini akan mengurangi resiko kejadian lepasnya plasenta:

  • Selalu penuhi jadwal periksa kehamilan ibu, terlebih bila ibu hamil di atas usia 35 dan/ atau memiliki tekanan darah tinggi. Adalah penting untuk memastikan tekanan darah ibu tetap normal.
  • Saat berkendara, pastikan bahwa Ibu selalu menggunakan sabuk pengaman, seberapa pelan pun ibu biasa berkendara.
  • Hindari rokok, minuman beralkohol terlebih obat-obatan terlarang
ref: babycenter.com, webMD.com dan beberapa sumber lain

Baca juga artikel menarik lainnya:

Bolehkah Mengecat Rambut Saat Hamil?

Bayi Prematur Lahir 3,5 Bulan Lebih Awal, Berhasil Hidup

Pentingnya Seafood dalam Menu Makanan Sehat Ibu Hamil