Benarkah Wanita Cerdas Cenderung Menolak Menjadi Ibu?

Benarkah Wanita Cerdas Cenderung Menolak Menjadi Ibu?

Sebuah studi mencoba mencari hubungan antara tingkat intelegensia seorang wanita dengan keengganannya untuk menjadi ibu.

Menjadi Ibu adalah kodrat wanita. Namun bagi beberapa wanita cerdas, ternyata itu adalah pilihan. Bagaimana menurut Anda?

Menjadi Ibu adalah kodrat wanita. Namun bagi beberapa wanita cerdas, ternyata itu adalah pilihan. Bagaimana menurut Anda?

Kaitan IQ dan keinginan menjadi ibu

Wanita cerdas ternyata cenderung memilih untuk tidak memiliki anak. Begitulah kira-kira hasil sebuah penelitian dari sebuah sekolah ekonomi London.

Penelitian tersebut diadakan Satoshi Kanazawa seorang peneliti pada bidang ekonomi, yang mencoba mencari hubungan antara kecerdasan seorang wanita, dengan keengganannya untuk memiliki seorang anak.

Ia mengatakan bahwa keinginan untuk memiliki anak menurun hampir seperempat setiap kenaikan IQ 15 poin. Wow!

“Klub selebritis tanpa anak”

Di Amerika, Oprah Winfrey, Cameron Diaz, dan Eva Mendez memilih untuk tidak menjadi ibu. “Aku punya kehidupan seperti ini karena aku tidak punya seorang anak,” ungkap Cameron Diaz. Sementara Mendez mengatakan bahwa hidupnya terlalu berharga untuk dibagi bersama seorang atau beberapa anak.

Di Inggris, beberapa wanita yang termasuk dalam kelompok smart women juga menolak untuk memiliki anak. Salah satunya adalah wartawan BBC, Kate Humble dan aktris kenamaan Hellen Mirren.

Humble mengatakan, bahwa ia merasa tidak memiliki rasa keibuan, jadi ia memutuskan untuk tidak memiliki anak sejak berumur 14 tahun. “Mungkin bagi Anda ini terdengar sangat egois, tapi sungguh, saya tidak pernah, dan tidak ingin memilik seorang anak pun.”

Kecemasan berlebih atau hanya alasan?

Jane, 32 tahun, seorang staff development dan telah menikah selama 3 tahun, menolak untuk memiliki seorang anak, karena ia tidak ingin kawatir sepanjang hidupnya tentang bagaimana harus merawat dan mendidik anak dengan baik, mencarikan sekolah yang tepat dan lain sebagainya.

“Bagi saya menjadi ibu adalah sebuah permasalahan yang tiada henti. Dan saya tidak berpikir bahwa kebahagiaan memiliki anak cukup sebanding dengan semua permasalahan itu. Banyak yang masih harus dipikirkan dan dipertimbangkan lagi,” tambah Jane tentang pilihannya

Biaya untuk membesarkan seorang anak, sesungguhnya tidak akan pernah menjadi masalah bagi para wanita cerdas ini. Hanya saja, mereka tidak melihat kebutuhan hadirnya seorang anak ditengah-tengah keluarga mereka. Bagi mereka, toh masyarakat menganggap bahwa sebuah keluarga adalah suami, istri, dan anak.

Baca juga: Tips mengasuh anak tanpa stres

Beberapa wanita menolak untuk memenuhi kodratnya sebagai ibu karena tuntutan pekerjaan dan kemungkinan karir yang lebih tinggi, sementara yang lain hanya tidak ingin memiliki seorang anak tanpa alasan yang pasti.

Masalah pokok yang diperdebatkan

Beberapa studi pernah dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh hubungan antara pasangan orang-orang terpelajar dengan menurunnya angka kelahiran bayi. Dan hasilnya sungguh mengejutkan; 1 dari 5 pasangan yang sekarang berumur 45 tahunan, ternyata tidak memiliki anak.

Jumlah itu meningkat hampir 43% pada pasangan yang menempuh jenjang pendidikan hingga tingkat lebih tinggi. Badan Statistik nasional sendiri mencatat bahwa jumlah wanita yang menolak untuk menjadi ibu meningkat dua kali lebih banyak sejak tahun 1990-an.

Sebenarnyalah para wanita tersebut menolak untuk menjadi ibu, bukanlah karena tidak suka untuk memiliki seorang anak, namun, sesungguhnya mereka kawatir tidak akan mampu memberikan kehidupan yang layak kepada anak-anak mereka kelak.

Perluasan kesempatan dan keuntungan bagi Ibu yang bekerja

Ibu yang bekerja selalu mencari cara untuk menjaga keseimbangan tanggung jawab dalam pekerjaan dan sebagai ibu. Keruwetan yang mereka hadapi sehari-hari telah mengubur naluri keibuan mereka. Hal seperti ini sesungguhnya dihadapi juga oleh para ibu pekerja lainnya.

Untuk itulah adanya kebijakan yang menyangkut wanita pekerja serta posisi wanita sebagai ibu, akan sangat mendorong mereka untuk tetap memenuhi panggilan kodrat keibuannya.

Misalkan kesempatan mendapat gaji selama cuti melahirkan, subsidi pembayaran tempat penitipan anak, jadwal bekerja yang lebih fleksibel, biaya kesehatan yang lebih ringan, dan aneka kemudahan lainnya dalam bekerja; pastilah akan membuat para wanita terpelajar itu untuk tetap memenuhi panggilan nalurinya sebagai ibu.

Baca juga: Aneka Permasalahan Ibu Bekerja

Bagi mereka yang sungguh-sungguh menolak untuk memiliki bayi, merekalah yang paling tahu, bagaimana kondisi diri mereka sendiri.

Tidak ada kebijaksanaan apapun yang dapat mengubah pemikiran mereka. Namun bagi mereka yang menolak karena alasan pengorbanan dan gaya hidup, aneka kebijakan yang ramah anak, bisa jadi akan mengubah pendapat mereka.

Menjadi ibu memang membutuhkan kerja keras, namun sesungguhnya juga penuh dengan hal-hal yang menyenangkan.

Membuat pekerjaan menjadi ibu menjadi lebih mudah tentu akan sangat membantu para wanita cerdas itu untuk kembali memenuhi kodrat keibuan mereka. Misalkan memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat kembali bekerja meski mereka telah memiliki anak.

Hal semacam ini tidak hanya akan menguntungkan untuk para wanita tesebut, namun juga bagi anak-anak dan lingkungan sosial mereka. Lihatlah Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook, dan penulis “Lean In” yang terus maju dan menuai kesuksesan karir meski telah memiliki anak; seharusnya menjadi contoh bagi para wanita cerdas untuk memenuhi kodrat keibuan yang telah Tuhan berikan untuk mereka.

Baca juga artikel menarik lainnya :

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner