"Sempat menolak punya anak, kini aku siap mati untuk bayiku," curhat seorang ibu

"Sempat menolak punya anak, kini aku siap mati untuk bayiku," curhat seorang ibu

"Tanpa sepengetahuan suami, aku mencoba berbagai cara menggugurkan kandungan," tutur ibu ini. Begini kronologis kisahnya Parents.

Setiap pasangan menikah memiliki cara dan keputusannya tersendiri dalam menjalani hubungan. Keputusan untuk memiliki momongan, misalnya. Ada yang memprioritaskan ingin memiliki anak sesegera mungkin, namun ada juga yang memang belum atau tidak mau punya anak terlebih dahulu.

Seorang Bunda, pembaca TheAsianparent membagikan curahan hatinya mengenai keputusan ia dan sang suami yang awalnya tidak terlalu mengidamkan kehadiran buah hati. Namun karena ‘desakan’ dari mertua untuk memiliki cucu, keduanya pun akhirnya memutuskan untuk mencoba punya anak.

Ketika kehamilan benar-benar terjadi, ibu ini sempat merasa tidak bisa menerima nasib, terlebih keputusan memiliki anak tidak datang dari hatinya sendiri. Pada prosesnya, ia sempat melakukan beberapa kali percobaan menggugurkan kandungan, namun tidak berhasil.

Kelahiran buah hatinya ternyata mengubah semua yang ia rasakan. Bagaimana ya cerita Bunda satu ini selengkapnya?

Artikel terkait : Curahan hati seorang ibu: “Saya merasa menjadi ibu yang buruk….”

Merasa kebahagiaan sudah cukup dan tidak mau punya anak

Berikut ini adalah curahan hati ibu yang tidak ingin memiliki anak:

tidak mau punya anak

“Aku berpacaran dengan suami 6 tahun lamanya.

Aku sangat menikmati hari demi hari bersama dia. Dan aku sangat amat bahagia menjalin cinta dengan pria yang sangat aku cintai, hingga akhirnya kami menikah.

Setelah menikah kehidupanku bertambah bahagia, menikmati hari demi hari dengan ikatan yg sudah halal. Menyenangkan sekali.

Hingga aku merasa kebahagiaanku sudah sangat cukup. Aku sudah sangat bahagia hidup hanya berdua dengan suami.”

“Aku rasa aku tidak perlu punya anak”

Ya , itulah kata-kata yang selalu aku katakan pada suami.

Punya anak hanya akan membatasi kebahagiaanku. Punya anak akan membuat aku dan suami menjadi jauh.

Dengan punya anak, aku dan suamiku tidak lagi bisa bermesraan, tidak lagi bisa seromantis dulu. Punya anak hanya akan membuat kebahagiaanku dan suami terganggu.

7 bulan sudah rumah tanggaku terlewati tanpa hadirnya seorang anak. Bahagia, itulah yg aku rasakan setiap hari.

Aku dan suami nyaman dengan keadaan seperti ini karena memang ini keputusanku sejak awal menikah yaitu tidak ingin punya anak. (Walau suami kadang merayu agar aku mau punya anak) Aku tetap pada pendirianku.

Omongan-omongan orang tentangku karena aku belum juga hamil tak membuatku risih. Aku tetap nyaman dan tak memperdulikannya. Dalam pikirku, bahagiaku sudah cukup hanya berdua dengan suami.” 

Pembuktian pada mertua

tidak mau punya anak

“Hingga pada suatu hari, mertuaku bertanya apakah ada masalah dg kesuburanku. Karena sampai bulan ke 7 pernikahanku, aku belum juga hamil.

Aku tak terima dengan pertanyaan itu. Hingga aku putuskan saat itu juga AKU INGIN PUNYA ANAK. Aku ingin membuktikan pada mertuaku bahwa aku wanita seutuhnya. Dan aku juga bisa mengandung seperti yang lain.

Bulan berikutnya, tepat bulan ke 8 pernikahanku. Aku hamil, aku bahagia. Sangat. Akhirnya aku bisa membuktikan pada mertuaku bahwa aku juga bisa menjadi seorang ibu.

Karena awalnya tidak mau punya anak, aku sempat mencoba aborsi

tidak mau punya anak

“Hari demi hari berlalu, aku mulai merasa tidak nyaman dengan kehamilank . Aku mulai menyesal dengan kehamilanku ini.

Dan tanpa sepengetahuan suamiku, aku mulai mencoba berbagai macam cara untuk menggugurkan kandunganku. Tapi tak satupun berhasil.
Aku frustasi, aku tidak ingin punya anak .

Selama kehamilan, suamiku sadar atas tingkah lakuku yang aneh. Dia satu satunya orang yang menjaga dan mendukungku selama kehamilan.

Artikel terkait : Penuhi permintaan terakhir istri, Ayah ini donorkan organ tubuh bayinya yang meninggal

Bayi sungsang, harus melahirkan secara caesar

“Selama masa kehamilan pun, aku hanya banyak diam, tak mendengar kata orangtuaku untuk banyak gerak agar bayi cepat berputar. Aku tak peduli pada bayi dalam perutku.

Benar saja pikirku. Semenjak aku hamil, aktifitasku menjadi terbatas. Kegiatanku bersama suami yang tadinya setiap minggu kami pergi keluar kota hanya untuk jalan-jalan tidak lagi kami lakukan.

Kesal, benci rasanya. Sekali lagi aku tidak ingin punya anak.

Dari USG pertamaku di bulan ke 4, bayi sungsang. Sampai usia 39 minggu, posisi bayi tetap sungsang.

Mau tidak mau aku melahirkan dengan cara sesar.”

Mendapatkan keajaiban saat si kecil lahir

“Entah ada keajaiban apa, setelah sadar dari operasi. Aku melihat bayi mungil yang sangat cantik. Dia mirip sekali denganku kata orang-orang.

Yang tadinya aku bersikeras tidak menginginkan anak ini, begitu melihatnya aku menangis sejadi-jadinya.

Rasa sesal terlalu menyesakkan hatiku. Ibu macam apa aku ini? Dikaruniai bayi cantik sehat sempurna dan aku menolaknya?! Air mata terus mengalir.

Hari demi hari berlalu . Dan aku masih selalu menangis jika mengingat dulu pernah dengan sangat ingin menghilangkan anakku.

Kehadiran anak membuat hidup kami lebih harmonis dan bahagia

“Ternyata dengan punya anak justru membuatku dan suami makin harmonis. Memiliki anak justru membuatku dan suamiku semakin dewasa. Punya anak ternyata membuatku dan suami semakin bahagia .

Hari ini tepat 4 bulan usia anakku. Rasa sesal itu masih ada tapi aku balas dg kasih cinta yg takan habis untuknya. Kupersembahkan hidup dan waktuku sepenuhnya untukmu, anakku.

Curahan hati Bunda ini bisa selengkapnya dilihat di sini.

Beberapa hal yang membuat seseorang tak mau punya anak

Terkait dengan kisah Bunda di atas, ternyata ada beberapa alasan yang diketahui bisa membuat perempuan belum atau tidak mau memiliki anak. Beberapa diantaranya adalah :

  • Sudah merasa cukup bahagia dengan kehidupan pernikahan tanpa kehadiran buah hati, seperti kisah di atas.
  • Adanya rasa khawatir akan kehadiran anak karena tidak yakin bisa menjadi seorang ibu yang baik.
  • Kekhawatiran akan karir di kehidupan profesional.
  • Kondisi finansial keluarga yang memang belum memadai.
  • Belum siap secara emosi untuk menambah kewajiban mendidik dan merawat anak.
  • Kekhawatiran memiliki anak yang tidak diharapkan.
  • Ingin memaksimalkan kehidupan sosial.

Apa pun keputusan yang sama-sama dibuat, asalkan sudah disepakati dan dipikirkan dengan matang, sebaiknya jalani dengan sepenuh hati. Selain itu sebaiknya kita memang tidak menghakimi pasangan lain atas berbagai keputusan yang mereka inginkan.

Nah, bagaimana dengan kisah pernikahan Parents? Share bersama orangtua lain di theAsianparent Apps yuk.

Sumber tambahan : mic.com, abc.net

Baca Juga :

Kisah istri yang diselingkuhi saat hamil, apa yang sebaiknya dilakukan?

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.
app info
get app banner