5 Mitos susu yang masih sering dipercaya, ini fakta yang Parents perlu tahu

5 Mitos susu yang masih sering dipercaya, ini fakta yang Parents perlu tahu

Jangan sampai salah lagi, berikut 5 mitos susu yang perlu Parents ketahui kebenarannya.

Mengonsumsi susu bikin gemuk? Atau, masih berpikir susu yang membuat perut jadi terasa mulas seakan ingin BAB? Apa benar? Jangan-jangan sekadar mitos saja.

Parents tentu cukup memahami bahwa susu merupakan makanan pertama yang diberikan kepada bayi. Sejak saat itu, susu menjadi bagian integral dari makanan untuk mendukung tumbuh kembangnya. Maka tak mengherankan jika susu dianggap sebagai pelengkap makanan yang menyediakan nutrisi penting.

Tak hanya satu nutrisi, susu sebenarnya mengandung tiga nutrisi yang membentuk makanan seimbang. Mulai dari protein, lemak, dan karbohidrat bersama dengan nutrisi mikro seperti kalsium, Vitamin B, kalium dan magnesium.

Sayangnya, sampai saat ini masih banyak kontroversi seputar susu mengenai manfaat kesehatannya, salah satunya pandangan yang mengatakan susu bikin gemuk.

Artikel terkait: Ini nama-nama bayi yang lahir hari Senin, berikut sifat dan karakternya

Kandungan susu yang dibutuhkan oleh tubuh

Dalam acara “Kupas Tuntas Kebaikan Susu untuk Tunjangan Kesehatan Tubuh”  yang digagas Frisian Flag Indonesia, dr. Diana F. Suganda, M.Kes, Sp. GK, menerangkan kalau susu mengandung 10% kebutuhan kalori harian, dan memiliki makro nutrien sangat penting untuk tubuh.

“Untuk susu sendiri mengandung makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang besar, karbohidrat 4%, protein tergantung dari berat badan. Nah, segelas susu bisa menyuplai 7,9 gram kebutuhan protein harian, dan lemak. Perlu digaris bawahi kalau susu mengandung asam lemak esensial,” ungkap dr. Diana.

Ia pun menambahkan, asam lemak esensial meruapakan lemak yang tidak dihasilkan tubuh tapi sangat dibutuhkan. Sedangkan makronutrien berfungsi dalam membantu kordinasi tubuh (mengatur gerak tubuh), susu juga mengandung vitamin dan mineral.

Tak hanya itu, dokter gizi yang berpraktik di RS. Pondok Indah ini juga menyayangkan, kalau sampai saat ini masih banyak pandangan yang keliru terkait dengan susu. Tak hanya mitos yang mengatakan kalau susu bikin gemuk, ia menjabarkan beberapa mitos lain yang perlu diluruskan.

5 Mitos susu masih banyak dipercaya

Mitos 1: Susu bikin gemuk 

mitos susu bikin gemuk

Salah satu yang sering kita dengar adalah pernyataan yang menyatakan kalau susu sering membuat seseorang jadi gemuk. Kenyataannya, menjadi gemuk atau tidak seseorang tergantung asupan lemak dan kalori yang dikonsumsinya dari makanan.

“Sebenarnya yang bikin gemuk adalah total kalori harian yang melebihi kebutuhan. Bila masih minum susu tapi makannya melebihi kalori haria, ya jadi gemuk.  Justru susu yang mengandung kalsium dan protein membantu penurunan berat badan pada dewasa obesitas,” jelas dr. Diana.

Jadi masih percaya kalau susu bikin gemuk?

Mitos 2: Susu hanya untuk pertumbuhan anak

“Ternyata dari penelitian, dewasa masih membutuhkan kalsium sebanyak 1000-1200 mg/hari, memang kita tahu sumber kalsium itu banyak tidak hanya susu, tapi juga bisa dari sayur-sayuran hijau, daging merah. Jadi ternyata susu itu tidak hanya untuk masa pertumbuhan anak, dewasa pun masih butuh,” kata dr. Diana.

Mitos 3: Susu hanya untuk kesehatan tulang

“Faktanya, susu bisa mengontrol tekanan darah, karena apa? Hipertensi faktor risiko kardiovaskular, di dalam susu ada mineral, kalsium, kalium magnesium dan seng bisa mengatur tekanan darah. Ternyata di dalam susu ada mineral, dll itu berfungsi mengatur dan mengontrol tekanan darah,” imbuh dr. Diana.

Selain itu, menurut Journal of the American Collage of Nutrition, 2011 Diet tinggi produks susu dapat mengurangi gejala pada penderita kanker kolorektal dan memperpanjang masa hidup.

Ini karena seseorang yang rutin menum susu memiliki antioksidan glutathion dalam jumlah yg tinggi di otak. Glutathion adalah antioksidan yang perannya melindungi otak dari reaktif oksigen spesies dan radikal bebas. Glutathion mengurangi stres oksidatif pemicu parkinson, alzheimer, demensia dll.

Direkomendasikan menkonsumsi 3 sajian produk susu susu, keju yoghurt, untuk memperbaiki fungsi otak.

susu bikin diare

Mitos 4: Susu bikin diare

Menurut Journal Nutrition, 2006 metaanalis dari 21 penelitian yang membandingkan efek susu dengan plasebo pada individu tanpa gangguan pencernaan, ternyata laktosa bukan penyebab masalah pencernaan.

“Penyebab diare ternyata banyak faktor, yaitu obat-obatan, antibiotik, infeksi bakter atau virus, infeksi saluran pencernaan, dan intoleransi makanan, justru produk susu dipakai untuk terapi diare yang disebabkan pada dewasa.”

Jadi bila ada seseorang merasa diare setelah minum susu dr. Diana menegaskan kalau ada penyerta lainnya yang menyebabkan diare, dan penyebab diare bukan dari susu.

Mitos 5: Jenis susu tertentu yang baik untuk tubuh

“Menurut penelitian Skandinavia Journal of Primary Health tahun 2013, lemak susu berhubungan dengan tingkat yang lebih rendah dari obesitas, maksudnya kalau kita minum susu yang mengandung lemak pasti kita lebih kenyang ternyata saat kenyang membuat asupan lainnya berkurang, jadi susu full cream boleh dikonsumsi tapi tetep diatur dengan pengaturan kolori, tidak boleh berlebihan,” ungkap dr. Diana.

Nah Parents sudah tahu kan kalau 5 hal di atas ternyata mitos? Hanya saja, konsumsi susu tetap harus diseimbangkan dengan asupan lainnya ya!

Baca juga: 

Tips Memilih Susu UHT dan Susu Segar yang Baik Untuk Anak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.
app info
get app banner