Surat dari Ayah yang Bekerja di Luar Kota untuk Anak Lelaki yang dirindukannya

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Saat anak pertamanya yang spesial lahir, ia sudah mencurahkan waktu seluruhnya. Untuk anak kedua, ia justru terpaksa jadi ayah yang bekerja di luar kota.

Punya ayah yang bekerja di luar kota sampai susah bertemu memang jadi kenangan buruk bagi Adit. Namun, siapa sangka jika ia akhirnya terpaksa harus melakukan hal yang sama.

Ia harus bekerja di Jakarta, sementara istri dan kedua anaknya ada di Jogjakarta. Rasa bersalah, kesepian, dan kesedihan sering menghampiri dirinya karena tak bisa sepenuhnya mendampingi istri yang mengurus dua orang anak, satu diantaranya adalah anak berkebutuhan khusus.

Demi memberikan nafkah ke keluarga, sebagai ayah dan suami, Adit akhirnya melakukan hal yang setengah mati ia benci. Ia terpaksa meniru apa yang ayahnya dulu lakukan: bekerja di luar kota.

Untuk mengungkapkan rindu sekaligus rasa bersalahnya ia menulis surat untuk anak keduanya. Tulisan tersebut terbit di laman milik sang istri yang mempunyai rubrik khusus untuk tulisan suaminya: Diari Papi Ubii dalam gracemelia.com.

Blog Diari Mami Ubii / Credit: Halo Header.

Dear Aiden,

Apakah kamu tahu kalau kamu itu datang tiba-tiba? Ya- tanpa rencana. Mak bedunduk tau-tau udah nyempil aja di rahimnya Mami. Kamu tidak tahu betapa takutnya kami saat itu.

Soalnya sudah Papi Mami perhitungkan dengan presisi, tetep aja ternyata bisa “kebobolan.” Papi Mami takut banget setengah mati soalnya ya kakakmu aja masih butuh perawatan ekstra.

Lalu muncullah pertanyaan:

“Bisakah nanti kami adil ke anak-anak?”

“Sanggupkah kami ngurusin dua anak sekaligus?”

“Kalau yang ini berkebutuhan khusus juga, gimana?”
Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan parno lainnya.

Menjadi bapak dari 2 anak di usia yang belum genep 30 waktu itu blas ngga ada di kepala Papi. Dulu sih ya fokusnya Papi cuma kakakmu aja. Itupun waktu Mami hamil kamu, kami baru merencanakan memberikan kakak Ubii sepasang telinga bionik.

Mikirinnya aja udah bikin cenut-cenutan. Belum lagi nanti menjalaninya. Nah, ini malah dikasih anak satu lagi. Bajindul.

Kamu pelan-pelan mulai tumbuh di kandungan, tapi berasa engga. Semua perhatian tersita di persiapan operasinya Kak Ubii. Kami bolak-balik Jakarta-Jogja cuma buat mastiin Kak Ubii dapat yang terbaik.

Belum lagi memenuhi kebutuhan terapi, konsultasi dokter, pergi ke negara sebelah buat beli alatnya — segala macemnya semua tentang Kak Ubii. Sampai ada saatnya kamu “protes” minta diperhatikan dengan cara bikin mami diopname dua kali gara-gara pendarahan.

Di titik itu Papi baru nyadar kalo kamu bakal lahir lebih cepat. Dokter sih bilangnya kamu punya penis. Artinya, Papi akan punya anak lelaki.

Perasaan Papi biasa aja sih, ngga lebay gimana — tapi dipikir-pikir, ternyata keren juga ya punya anak sepasang gitu. Prioritas Papi saat itu adalah supaya kamu sehat. Titik.

Ngga kebayang sih Papi harus ngurus dua anak berkebutuhan khusus, Dek. Ngurus kakakmu aja, Papi Mami setengah mati jaga akal sehat.

Banyak yang muji-muji kami, bilang kalo kami ini orangtua yang patut ditiru. Pret lah. Tidak, Aiden. Kita ngga sesempurna itu. Papi Mami sudah kenyang sama Mental yang down berkali-kali.

Dan Papi pengen kamu belajar satu hal disini, Aiden: Ketidaksempurnaan itu bukanlah sebuah masalah.

Mental yang naik dan turun pas kamu masih di perut juga sering kejadian, tapi entah bagaimana caranya, kami mengatasinya dengan cantik. Terlebih-lebih saat hasil USG 4D keluar, yang menyatakan kamu bakalan jadi anak sehat.

Tapi Papi tidak bisa begitu saja percaya. Dulu waktu Kakak Ubii masih di perut, dokter-dokter juga pada bilang gitu.

Papi masih naruh kemungkinan terburuk di atas meja. Siapa tahu, Aiden. Harapan adalah sesuatu yang bahaya. Itu hal yang sangat sensitif. Jangan bermain-main dengan harapan yang terlampau tinggi.

Dan kemudian, sampai tanggal 10 September 2015 — tanggal dimana dokter menjadwalkan perut Mami dirobek buat ngelahirin kamu.,,

Papi anter Mami sampe depan ruang operasi, sendirian. Benar-benar sendirian. Oma Opa baru pada sibuk. Engkong dan Mak juga masih OTW dari Salatiga.

Papi blas ngga deg-degan apa gimana. Cuma bisa ngasih sugesti positif ke pikiran Papi sendiri. Ngga lama, Gendhis sama bapaknya dateng, nemenin Papi nungguin kamu lahir.

Kita bahkan ngga ngobrolin soal kamu. Malah ngobrolin hal remeh.

Sampe ada dua suster bawa gerobak kecil keluar ruang operasi. Di dalemnya ada kamu, dibungkus kain. Lalu Papi bengong, sampe dipanggil suster 2x tetep ngga ngeh.

Cepet amat Dek kamu lahirannya.

“Ini anak saya, sus?”
“Iya, Pak. Selamat ya!”

Inilah kamu.

Putih bersih, tembem, dan ngga ada kondisi paska kelahiran yang perlu dikuatirkan. Papi nggak yakin kamu tidur apa melek soalnya matamu sipit banget kayak Mami.

Papi bilang 'Hello' untuk pertama kalinya untukmu. Masih keinget banget lho detailnya.

Memperhatikan wajahmu adalah sebuah candu kebahagiaan tersendiri bagi Papi. Papi langsung potret kamu, terus Papi kirim ke temen-temen terdekat Papi. Mami yang tinggal lebih lama di ruang operasi.

Papi sempet kuatir — soalnya udah 2 jam tapi ngga keluar-keluar.

Akhirnya Mami keluar dengan mata sayu, dan ngomong ngelantur. Sumpah bagian ini lucu banget. Mami bilang, “Aku mau makan Hanamasa habis ini.”

Aiden Nebula Kayalaska.

Si kabut api kecil yang penuh cinta. Seorang anak lelaki putra matahari — Suryaputra. Namamu mengandung namaku. Mami yang pilihin namanya. Bagus ya? 🙂

Membesarkanmu adalah hal baru untukku. Kenapa? Karena kamu sehat, Aiden. Bersyukurlah dengan hal itu.

Dulu waktu nidurin Kak Ubii, Papi dengan bebasnya ngebanting pintu jedar jeder tanpa kuatir Kak Ubii bakal bangun.

Nah, tidak seperti Ubii, kamu punya indera pendengaran yang sempurna. Berisik dikit aja kamu bangun lalu nangis. LOL.

Kamu sering menangis. Kamu membuat rumah kita lebih berisik dari sebekumnya.

Seiring berjalannya waktu, menghabiskan waktu denganmu memberikan Papi kebahagiaan yang tak terkira. Banyak hal mirip dari diri kita.

Ngeliat kamu itu berasa ngaca ngeliat Papi waktu masih kecil. Kamu anak nomer 2, sama kayak Papi. Kamu suka mainan air, Papi banget. Kamu suka sepatu seperti halnya Papi yang suka sneakers.

Telapak tanganmu selalu lembab, sama seperti Papi. Cuma hidung aja — hidungmu mblesek ke dalem kayak Mami.

Dear Aiden,

Sekarang Papi ngga bisa ketemu kamu tiap hari. Papi kerja di Jakarta, sedangkan kamu nemenin Mami ama Kak Ubii di Jogja.

Seperti yang mamamu bilang, dia ingin membesarkanmu menjadi pelindung kakakmu.

Kamu nggak akan pernah tahu betapa hancurnya hati Papi karena harus meninggalkanmu karena urusan pekerjaan pada usia 3 bulan.

Papi kuatir kalau-kalau suatu hari nanti kamu bakal lupa ama Papi. Dan hal itu ternyata menjadi sebuah kenyataan— ada momen dimana kamu takut sama Papi gara-gara Papi ngga pulang dari Jakarta selama 2 minggu.

Kamu tidak mau Papi gendong. Kalau mau pun, wajah kamu kayak kecepirit (ekspresi saat seseorang mau buang air besar).

Kamu tahu malamnya Papi mewek di pojokan hahaha…

Punya bapak yang sering bepergian itu sangat tidak enak, Papi tahu betul soal ini. Dulu Opa juga sering ngga pulang gara-gara kerja.

Papi tahu rasanya — merindukan sosok ayah di dalam kehidupan sehari-hari. Tapi maafkan Papi, Aiden. Aku minta maaf telah membuatmu merasa sepeeri ir
Dear Aiden, tumbuh besarlah menjadi anak baik. Papi ngga bakal nuntut banyak dari kamu.

Tapi tolong, apapun yang terjadi, dengarlah apa kata Mamimu. Kamu tau Mami punya segudang beban di pundaknya.

Jangan menambah bebannya yang sudah berat di pundaknya lagi, Dan juga, jangan mengabaikan Papi. Papi tidak ingin menjadi sosok aneh di dalam otakmu yang dinamakan 'ayah'. Papi mencintaimu, kamu tahu betul soal itu.

Jadilah pemberani, jadilah sosok yang lembut, jadilah sosok yang tegas.

Berkontribusilah ke masyarakat, walaupun cuma seupil.

Tantangan yang bakal kamu hadapin besok bakal jauh beda dengan apa yang Papi dan Mami alami dulu. Kadang Papi takut bayanginnya. Makanya, jangan sampai ketinggalan informasi.

Jangan malas baca. Papi udah investasi buku bagus yang kelak bisa kamu baca untuk tahu bahwa dunia ini sangat luas.

Dan, yang paling penting, jangan gede cepet-cepet.

Love,

Papi

Tentang membunuh kebosanan dan melampiaskan rindu pada keluarga

Bukan hal yang mudah bagi Adit untuk menjaga kedekatan dengan anaknya. Ia selalu mencoba untuk tetap dekat dengan anaknya dengan cara memandikannya. Menurutnya, ini adalah salah satu cara yang cukup manjur juga.

"Biasanya habis saya mandikan, anak-anak (especially Aiden) jadi mau nempel lagi. Terus juga tiap pagi jalan-jalan puter kompleks, walaupun sekarang jarang soalnya lagi musim hujan."

Sebisa mungkin, saat pulang ke Jogja, Adit selalu mengajak sekeluarga untuk main keluar rumah sekalipun sekedar menemani Aden ke playground atau makan bareng-bareng. Pokoknya, selagi bisa, ia akan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Untuk membunuh rasa bosan karena tinggal sendirian di Jakarta, ia sering melakukan banyak hal di apartemen sendirian sambil chatting bersama istrinya, Grace. Kadang-kadang, ia juga main games. 

"Karena di kantor jam 4 udah kudu balik, saya sampai apartemen biasanya jam setengah 5. Kerasa banget bosannya. Jam segitu kalau mau keluar, males banget soalnya bakalan macet. Jadi ya spend time di apartemen aja- entah itu nonton Netflix disambi SMS-an sama Grace, main Nintendo 3DS, baca buku, atau ngerakit model kit," paparnya.

Kalau sudah sangat bosan, ia akan keluar apartemen untuk sekedar ngopi atau menghafalkan jalanan jakarta, "pernah kepikiran buat memberdayakan mobil dengan join Uber/Grab, tapi sampai sekarang belum kesampaian. Masih takut kesasar terus dimarahin penumpang," kelakarnya.

Untuk menjaga kehangatan keluarga saat berjauhan, ia biasa melakukan video call. Jika tidak memungkinkan, chatting di WhatsApp dengan intens atau saling berkirim foto aktivitas hari ini, dan sebagainya.

"Tiap jam makan, kami seringkali saling mengingatkan. Saya juga ngga bosen kirim teks remeh "baru ngapain?" atau "i love you." It sounds trivial, tapi bagi saya esensial. Soal rasa bersalah..." terangnya.

Ia mengakui bahwa rasa bersalah yang ada di dalam dirinya bukan untuk dihindari dan menghilangkannya pun bukan hal yang mudah, "butuh kerjasama kedua belah pihak. Saya mendengarkan dengan seksama dan (kalau bisa) memberi solusi jika Grace ada keluhan/masalah. Sedangkan dari Grace-nya, dia ngga serta-merta menyalahkan situasi dimana saya berada jauh dari dia."

Ia mengenang, "dulu setiap kali ada masalah, Grace nyeletuk, 'Kamu sih ngga ada disini.' Sekarang udah ngga pernah. Sedangkan dari sayanya, saya melakukan redemption tiap weekend. Mijitin Grace, gantiin sprei, cuci piring, dan lain-lain."

Ia juga mengingatkan bagi para lelaki untuk turut serta membantu pekerjaan domestik di rumah, "Ngga usah malu seorang cowo ngerjain domestic works. Tunjukin kalau kita juga peduli dengan rumah. Rumah yang bukan sekedar bangunan, tapi rumah tempat kita pulang," tutupnya.

Entah sampai kapan, jarak akan memisahkan antara Adit dan keluarganya. Yang jelas, saat ini mereka akan melakukan apapun agar selalu jadi keluarga hangat yang bahagia.

 

Baca juga:

Kisah Ketangguhan Mami Ubii: Aku Bangga Punya Anak Berkebutuhan Khusus

Dapatkan info Terkini Seputar Dunia Parenting

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Mengharukan