Curahan hati istri kepada suami tentang tanggung jawab mengurus anak

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Ayah, dengar suara hati istri ini ya. Jangan sampai istri kelelahan mengurus anak sendirian.

Pernahkah Bunda merasa bahwa soal urusan anak, suami adalah tipe yang ‘terima beres’? Pernahkah suami seperti itu mendengar suara hati istri yang harus mengurus anak sendirian?

Saat berusaha mendapatkan anak, orangtua melakukannya berdua. Namun saat anak sudah lahir, meminta suami agar mau ikut mengurus anak ternyata butuh perjuangan tersendiri.

Beberapa ayah memang punya kesadaran untuk mau mengurus anak. Tapi sebagian besar menyerahkan begitu saja sepenuhnya pada istri untuk mengurus anak karena merasa istrinya lebih ahli dari dirinya.

Parahnya lagi, beberapa ayah merasa bahwa tugas mengurus anak sebenarnya adalah pekerjaan istri. Belum lagi ditambah dengan pekerjaan rumah lainnya, sedangkan suami hanya bertugas cari uang saja.

Benar bahwa cari uang penting, tapi anak-anak juga butuh ayahnya. Berikut ini suara hati istri ketika menyadari bahwa suaminya tak tergerak ikut andil mengurus anak:

Menjadi seorang ibu dari anak kecil bisa menjadi pekerjaan yang tanpa pamrih. Jam kerja yang mustahil (24/7, 365 hari dalam setahun), tidak ada gaji, dan ‘boss’ Anda memanfaatkan Anda.

Kita semua pantas mendapat pujian lebih dari yang pernah kita terima. Selama hampir dua dekade akan kita habiskan untuk membesarkan anak-anak dari bayi kecil sampai jadi orang dewasa yang mandiri dan siap terbang dari sarang kita.

Artikel terkait: Surat terimakasih dari istri yang hampir frustasi pada suaminya.

Cangkir bertuliskan “Mama terbaik di dunia” tidak akan pernah cukup untuk merayakan pekerjaan yang sudah kita lakukan. Inilah kenyataan yang kita tahu.

Tapi ada masanya, dan hanya sekali, ketika aku benar-benar merasa tidak suka dianggap sebagai orangtua yang sangat handal. Itu adalah saat suami memintaku untuk menemani salah satu dari anak-anak kami ke kamar mandi, untuk memasakkannya keju panggang, atau untuk mengambil mainan yang telah anak-anak jatuhkan ke lantai ruang tamu.

Karena aku sangat ahli dalam hal mengasuh anak – jauh lebih ahli dari suamiku, dia akan meminta tolong aku untuk melakukannya. Jadi aku yang harus melakukannya… lagi dan lagi dan lagi.

Ya, suamiku yang manis, aku benar-benar seorang ibu yang baik. Aku mahir memanipulasi anak-anak untuk melakukan apa yang aku inginkan dengan tepat waktu.

Dan ya, aku setuju bahwa aku punya lebih banyak waktu praktek mengasuh daripada kamu. Lagi pula, aku sering di rumah bersama mereka saat kamu bekerja di kantor (dengan secangkir kopi dan waktu istirahat kantor!). 

Selama waktu tambahan itu, aku telah mempelajari beberapa trik untuk membuat kita semua selalu tepat waktu dan sesuai jadwal tanpa harus ada yang tantrum, kapan pun itu terjadi.

Tapi apakah itu berarti aku ‘lebih baik’ daripada kamu? Sama sekali tidak.

Aku telah melihat kamu bisa menyelesaikan setiap tugas mengasuh anak dengan baik. Mungkin memang tidak semuanya dilakukan persis seperti apa yang aku lakukan.

Tapi kamu, pasanganku, berhasil menyelesaikannya dan anak-anak tetap baik-baik saja. Bahkan mungkin mereka juga menghargai caramu yang lebih santai dan menyenangkan.

Kamu menyebut aku lebih baik darimu? Ingat, anak-anak kita masih berusia 6 dan 3 tahun, dan kamu justru melakukan trik-trik manipulatif yang tidak mereka sadari bahwa mereka telah melakukan apa yang kamu perintahkan.

Memujiku tidak akan membuatku ingin menggiring anak-anak ke kamar mandi (yang entah kenapa, aku harus memohon supaya mereka mau menyudahi sesi mandi 30 menit kemudian); atau mencoba meyakinkan anak kami bahwa jika hanya makan keju panggang, hot dog, dan permen, nutrisinya tidak seimbang; atau mengingatkan putri kita bahwa dia perlu menyisir rambutnya untuk yang ke 12 kalinya pagi ini.

Aku telah melakukan semuanya sejuta kali dengan berbagai tingkat kesuksesan.

Aku tahu bahwa kamu tidak ingin melakukan tugas menjengkelkan ini, tapi membesarkan anak-anak membutuhkan peran kedua orangtua. Tapi sejujurnya, salah satu dari kita harus bergantian mengambil peran mengurus anak.

Aku mungkin cukup baik dalam hal mengurus anak, tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian. 

Suara hati Katharine Stahl ini jadi teguran untuk para suami agar mau berkontribusi mengurus anak. Karena anak mestinya mendapat kasih sayang dari orangtuanya secara seimbang, bukan hanya ibu saja.

 

Baca juga: 

“Dia Butuh Kamu” – Surat Terbuka Seorang Istri Untuk Para Suami

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Favorit Bunda Kisah Inspiratif