Dikira ADHD karena hiperaktif, anak ini ternyata alami sleep apnea

lead image

Hiperaktif dan emosional memang indentik dicap sebagai anak dengan ADHD. Namun, siapa sangka ternyata gejala ini bisa menjadi gejala sleep apnea pada anak?

Biasanya, anak-anak yang terlihat hiperaktif dan tidak dapat mengendalikan emosi mereka akan didiagnosis sebagai anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau biasa dikenal gangguan ADHD. Namun baru-baru ini, seorang ibu menemukan bahwa sleep apnea pada anak balita dapat dengan mudah salah didiagnosis sebagai ADHD.

Ternyata diagnosis ADHD putranya adalah sleep apnea pada anak

Melody Yadzani, seorang ibu asal Amerika, memperingatkan para orangtua untuk mewaspadai gejala sleep apnea pada anak, setelah putranya mengalami salah didiagnosis menderita ADHD.

Dia menjelaskan pengalamannya dalam postingan Facebook, yang telah banyak dibagikan dan menjadi viral. Dalam postingan tersebut, ia menceritakan tentang bagaimana putranya, Kian yang berusia 8 tahun, memiliki masalah perilaku di usia satu tahun.

Saat di sekolah perilakunya membaik, tetapi tetap sama ketika dia berada di rumah. Ia menjelaskan bagaimana gejala yang dialami anaknya secara kronologis:

Saat di usia 1 tahun, Kian …

  • Alami tantrum jika dia sedang marah.
  • Terobsesi oleh hal-hal sepele, katakanlah sehelai rambut di kamar mandi, yang menyebabkan dia menolak untuk mandi dan emosi berlebihan.
  • Mudah kesal dan marah
  • Hampir tidak makan apa pun karena pilih-pilih makanan.

Di usia 2 tahun, Kian …

  • Tantrumnya kian memburuk. Dia sangat emosional karena hal-hal kecil, tidak seperti teman-temannya yang dapat mengatasi kemarahan mereka. Melody menerima laporan tentang perilaku Kian dari sekolah setiap hari.
  • Membangunkan semua orang dengan tantrumnya, kira-kira jam 5 pagi setiap hari. Dia memukul benda-benda, melemparkannya ke sekeliling, dan banyak berteriak.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/sleep apnea.jpg Dikira ADHD karena hiperaktif, anak ini ternyata alami sleep apnea

Setelah membawanya ke terapis, tim medis profesional menyarankan Kian dievaluasi untuk diagnosa ADHD. Sementara itu, Kian juga menderita batuk kronis, sehingga Melody juga membawanya ke pulmonologist, yang juga merujuknya ke ahli alergi.

Kunjungan ke dokter gigi juga menunjukkan bahwa gigi anaknya sudah rusak. Rupanya, dia menggertakkan giginya di malam hari.

Artikel yang mengubah segalanya

Rupanya, semua berubah setelah Melody melihat dan membaca potongan suatu artikel dari Washington Post bahwa segala sesuatu “semua sudah ada jalannya” dan “mengubah hidup kita”.

Artikel ini menguraikan tentang bagaimana ADHD, gangguan tidur yang tidak teratur, dan pernapasan  mulut semuanya berkaitan satu sama ain. “Setiap kata dalam artikel tersebut terdengar seperti Kian,” tulisnya.

Melody awalnya mencurigai ada sesuatu yang memengaruhi tidur Kian. Tidak hanya karena Kian tidak bisa mengendalikan tantrumnya, tapi ia juga memiliki lingkaran hitam di bawah matanya.

Perubahan “180 derajat”

Setelah mendapat ilham, sang ibu segera membuat janji dengan beberapa spesialis, yaitu dokter spesialis anak untuk telinga, hidung, dan tenggorokan, ortodontis, dan juga masalah tidur untuk membuktikan kecurigaannya tentang sleep apnea pada anak. 

Awalnya staf medis meragukan kecurigaan sang ibu, tetapi mereka menyediakan pencitraan sinus dan studi tidur untuk memeriksa apakah ada yang salah dengan Kian.

Secara mengejutkan, melalui tes-tes tersebut, Melody menemukan bahwa sinus Kian tersumbat dan meradang. Penelitian tentang tidur juga menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah, Kian tidak mengalami fase tidur REM (deep sleep) pada penelitian pertama, dengan penyerapan oksigen yang sangat rendah.

Ternyata, Kian juga mengalami sakit kepala setiap hari. Tapi dia pikir itu normal jadi dia tidak memberi tahu orangtuanya tentang masalah ini.

Setelah dokter mengangkat amandel dan adenoid Kian, ada perbedaan instan dalam perilakunya. Seperti:

  • Bisa bernapas dari hidungnya setelah melewati semua prosedur operasi,
  • tidak lagi emosional hingga tantrum,
  • tidak terobsesi pada hal-hal sepele,
  • memiliki nafsu makan yang besar,
  • tidak terlalu pilih-pilih makanan,
  • dan mengalami perkembangan besar 14 hari pasca operasi.

Kian tidak memiliki masalah pada rahang dan lidahnya. Selanjutnya, penelitian tidur berikutnya menghasilkan hasil yang baik, yaitu 6 jam tidur dalam fase REM, dengan penyerapan oksigen di atas patokan minimal.

Jelas, Kian hingga saat ini tidak lagi mendapatkan laporan perilaku buruk dari sekolah. Meskipun dia memiliki sleep apnea ringan, namun akhirnya bisa ditangani.

Lihat postingan Facebook Melody di bawah ini:

 

Artikel terkait: 3 Masalah Tidur Pada Balita dan Cara Mengatasinya

Melody peringatkan Parents agar menghindari kesalahan diagnosis

Ibu Melody memiliki sejumlah kecurigaan terhadap gejala-gejala yang dialami anaknya, seperti bernapas dengan mulut, gejala ADHD, menggeratakan gigi, lingkaran hitam di bawah mata, dan mendengkur.

Menurutnya, tanda-tanda ini tidak normal dan perlu penanganan ahli yang profesional, dan memperingatkan para orangtua lainnya untuk mencoba studi tidur terlebih dahulu, jika ada kemungkinan diagnosis ADHD.

Seorang dokter ahli tidur dan saraf, W. Christopher Winter mengatakan bahwa anak-anak memang kerap memperlihatkan rasa kantuk dengan cara yang berbeda dibanding orang dewasa. Saat mengantuk, anak-anak bisa saja berperilaku hiperaktif. “Banyak dari mereka yang menjadi lalai dan tidak berperilaku sebagai mana mestinya,” ungkap Winter.

 

Untuk menghindari salah diagnosis, sebaiknya selalu peka dengan kondisi anak-anak kita dan periksakan kondisinya ke dokter ahli ya, Bun!

 

Dilansir dari artikel Kevin Wijaya Oey di theAsianparent Singapura
Baca juga: 

7 Tanda masalah tidur pada anak yang sering tidak disadari orangtua

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.