Viral Satu Keluarga Kena Corona, Berselang 30 Menit Ayah dan Ibu Meninggal

Viral Satu Keluarga Kena Corona, Berselang 30 Menit Ayah dan Ibu Meninggal

Kisah viral berikut ini hendaknya menjadi pembelajaran berharga untuk kita semua agar tidak menyepelekan pandemi, Parents.

Sudah berbulan-bulan lamanya pandemi terjadi di Indonesia juga berbagai belahan dunia lainnya. Dari hari ke hari, virus Corona pun kian berkembang. Angka kejadiannya sendiri di Indonesia masih terus meningkat. Belum lama ini kabar viral satu keluarga kena Corona pun menyeruak.

Beberapa waktu belakangan ini klaster keluarga mulai menjadi sorotan karena banyaknya penularan yang terjadi dari satu orang keluarga ke anggota keluarga lainnya. Ada banyak kasus yang menunjukan peristiwa ini, yang terbaru adalah adanya kabar menjadi viral ini. Di mana  virus Corona menginfeksi keluarga besar hingga berakhir pada meninggalnya beberapa anggota keluarga.

Kabar Viral Satu Keluarga Kena Corona

Satu Keluarga Kena Corona

Kisah pilu rupanya dialami oleh salah seorang warganet yang baru saja kehilangan anggota keluarga karena virus ini. Kondisi keluarga terungkap saat pemilik akun @Nonameaja35 membalas salah satu tweet di media sosial.

Secara singkat ia menceritakan bahwa keluarga besarnya terinfeksi virus ini. Dirinya menuturkan bahwa ia sampai harus rela kehilangan sosok ayah, ibu, hingga neneknya.

Setelah keluarganya terpapar, pemilik nama lengkap Syah Fridan Alif ini pun harus menjalani perawatan karena kondisi yang sama. Sedih lagi, anggota keluarga yang meninggal harus pergi dalam jeda waktu yang singkat.

Artikel Terkait : 5 Artis ini punya cara hindari virus corona, seperti apa?

Kehilangan Ayah dan Ibu Berselang 30 Menit

Satu Keluarga Kena Corona

Bahkan, ia menuturkan bahwa kedua orangtuanya meninggal, hanya berselang 30 menit. Mengalami kisah pilu, ia pun meminta pada semua masyarakat agar tetap waspada dan ingat jika virus Corona bisa menyebabkan kematian.

“Covid nggak main-main loh, ya, keluargaku kena semua, ayah dan mamaku meninggal dalam 1 hari, selisih 30 menit saja.

Kemudian besoknya nenekku juga meninggal, sedangkan aku dirawat 18 hari, dan sekarang harus hidup sendirian, jadi jangan dianggap remeh,” tulis akun @Nonameaja35.

Curhatannya ini pun mendapatkan banyak reaksi. Ia mendapatkan banyak likes dan komentar yang menyemangati agar bisa tetap semangat menjalani perawatan.

Artikel Terkait : Belanja kebutuhan rumah di tengah corona? Ini 6 tips aman untuk Anda!

Hidup Sendirian..

Satu Keluarga Kena Corona

Kejadian tersebut tentunya membuat dirinya terpukul. Saat hari pemakaman, ia hanya bisa melihat anggota keluarganya dikebumikan dalam jarak yang jauh.

Dirinya yang positif terinfeksi virus Corona pun harus dirawat di rumah sakit. Tidak ada yang menunggu atau menemaninya lagi.

“Dirawat di rumah sakit juga sendirian, tidak ada keluarga yang nungguin, jadi sedih kalo ingat itu, meninggal dalam kesendirian, pemakaman juga super ketat, hanya boleh lihat dari kejauhan. Nih, buktinya, ortuku meninggal dalam sehari, hanya beda 30 menit,” lanjutnya.

Syukurnya, setelah mendapatkan perawatan, kini kondisinya sudah sepenuhnya sembuh dari infeksi Corona. Selama 18 hari, ia menjalani perawatan hingga memerlukan bantuan oksigen karena kondisi sesak napas yang dialaminya.

Artikel Terkait : 2 Bayi terinfeksi virus corona, salah satunya diduga terpapar dari keluarga

Jangan Sepelekan Kluster Keluarga

Satu Keluarga Kena Corona

Klaster keluarga terjadi saat salah satu anggota keluarga terinfeksi virus Corona, lalu menularkan pada anggota keluarga lainnya. Seperti halnya yang terjadi pada kabar yang telah viral tersebut, anggota keluarga bisa terinfeksi saat ada di rumah sendiri.

Kondisi ini bisa dibilang berbahaya karena keluarga merupakan satuan unit masyarakat yang paling kecil. Pemantauan pun akan semakin sulit dan perlu ekstra dilakukan.

Di beberapa kota di Indonesia kini telah dilaporkan adanya klaster keluarga yang bahkan sudah menelan korban jiwa. Dilansir dari Pandemic Talks, ada beberapa penyebab klaster keluarga bisa terus berkembang, di antaranya :

  • Budaya silaturahmi yang sudah mengakar dan sulit lepas bahkan ketika pandemi terjadi. Kondisi ini bisa menyebabkan penularan yang cukup masif pada anggota keluarga yang rentan.
  • Kegiatan kumpul warga yang jua sudah menjadi aktivitas keseharian masyarakat baik di kota maupun desa. Misalnya saja kegiatan keagamaan, arisan, sekadar kumpul di warung, kerja bakti, dan lain sebagainya.
  • Membiarkan anak-anak main secara bebas tanpa adanya protokol kesehatan yang baik. Meskipun anak tak terinfeksi, busa saja ia menjadi carrier atau pembawa virus bagi anggota keluarga lainnya.
  • Rasa bosan dan tak dapat menahan diri untuk bepergian piknik, jalan-jalan dan belanja ke mal, atau bahkan liburan ke luar kota.

Dari kejadian yang dialami oleh Syah Fridan Alif itu hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua, Parents. Klaster keluarga bisa jadi salah satu bentuk penularan yang juga mungkin dialami siapa pun.

Meskipun tengah berkumpul dengan keluarga, ada baiknya memang protokol kesehatan tetap diterapkan. Khsusunya bagi mereka yang masih rutin bepergian atau beraktivitas di liar ruangan, penerapan protokol kesehatan haruslah tetap ketat dilakukan.

Artikel Terkait : Klaster Keluarga Covid Bertambah, 211 Anak di Bekasi Terjangkit Corona

Baca Juga :

Jangan Lengah! Transmisi COVID-19 Mulai Ancam Klaster Keluarga

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner