Rana dan Reza, Anak Homeschooling yang Buktikan Bahwa Belajar Sendiri juga Bisa Berprestasi

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Membuat kurikulum untuk anak sendiri memang tak mudah. Untuk itu, Dina Sulaeman berbagi pengalaman cara mendidik anak homeschooling agar tetap berprestasi.

Kirana Mahdiyah Sulaeman dan Reza Sulaeman adalah kakak beradik asal Bandung yang menjalani homeschooling (HS). Sebagai anak Homeschooling, mereka mengatur sendiri minat belajar dengan waktu yang dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan belajar di lembaga pendidikan tertentu untuk les mata pelajaran yang sebenarnya tak beda jauh dengan sekolah konvensional.

Uniknya, sejak awal, yang memilih untuk homeschooling adalah mereka sendiri. Reza memulai homeschooling lebih dulu dari kakaknya. Sedangkan Kirana mulai mengikuti jejak adiknya saat mulai masuk SMP.

Sejak lulus dari TK yang dikelola oleh ibunya sendiri, Reza memang enggan melanjutkan ke SD (Sekolah Dasar) konvensional, "Reza sudah saya ajak ke beberapa SD. Dia menolak dan berkata, 'mau belajar sama mama saja'." ujar ibunya, Dina Y Sulaeman.

Akhirnya, Dina dan suami mulai mempelajari buku-buku tentang cara mendidik anak homeschooling. Selain itu, ia juga berdiskusi dengan para praktisi homeshooling. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ia membiarkan Reza tidak masuk SD dan mulai belajar di rumah.

Beda cerita dengan kakaknya, Kirana, yang merupakan lulusan sekolah alam dengan nilai Ujian Nasional (UN) yang memuaskan di SD-nya. Pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris, ia mendapatkan nilai sempurna, 10. Sedangkan untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, ia mendapatkan nilai 8.20.

Prestasi tersebut belum ditambah dengan yang ia capai di luar sekolah seperti menulis buku dan bermain musik klasik. Kalau mau, ia bisa saja memilih untuk melanjutkan ke SMP favorit.

Rana dan Reza

Ia memang sempat bingung untuk memilih, akan sekolah SMP seperti teman-temannya atau menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling. Orang tuanya memberikan buku-buku seputar dunia HS sebagai bahan pertimbangan. Bukannya memutuskan, ia malah semakin bingung dan meminta orangtuanya untuk memutuskan pilihan terbaik untuknya.

Rana, panggilan akrab Kirana, menuangkan perasaannya seputar HS lewat blog pribadinya. Ia juga sering menulis tips belajar dan pengalamannya selama menjalani HS di laman tersebut. Selain itu, ia tak segan berbagi pengalaman magang yang juga mengajarkannya pada prinsip-prinsip keadilan dan cinta lingkungan di sana.

Metode belajar homeschooling

Dina menerangkan, karena Rana sudah terbiasa belajar a la sekolah, ia banyak belajar sendiri dari buku dan situs belajar berbayar zenius.net. Dari laman tersebut, yang dia pelajari adalah mata pelajaran yg akan diuji dalam ujian Paket B (SMP) dan Paket C (SMA).

Ia memanfaatkan sisa waktu belajarnya untuk menekuni musik, menulis, belajar videografi, dan membaca buku-buku non akademis yang diminatinya. Hobi, belajar otodidak, magang, mengikuti berbagai kompetisi, serta kepanitiaan membuatnya punya segudang pengalaman yang bahkan jarang dimiliki oleh anak yang sekolah lewat jalur konvensional.

"Sedangkan Reza, karena belum pernah sekolah, dia belajar semaunya saja, sesuai yang dia minati. Yang saya wajibkan adalah belajar di situs belajar berbayar ixl.com untuk matematika dan raz-kids.com untuk bahasa Inggris," terang istri dari Otong Sulaeman ini.

Untuk mata pelajaran sains dan lainnya, Reza mempelajarinya lewat buku-buku, "saya sangat sering membelikannya buku-buku dari berbagai tema, dan dia suka sekali membaca. Jadi pengetahuannya luas. Hanya saja, kalau di tes al a buku pelajaran, mungkin saja dia tidak bisa jawab."

Namun, karena saat ini Reza sudah setara dengan kelas 5 SD dan pada kelas 6 SD nanti harus ujian kejar paket A, Dina dan suaminya memutuskan agar Reza mengikuti les mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang diujikan selama 4 kali seminggu. Selain itu, ia juga harus latihan ujian dari buku soal dan membaca pelajan yang diujikan.

Sebagai orangtua, Dina sadar betul bahwa sejatinya, pendidikan anak adalah tanggung jawab penuh kedua orangtua. Baginya, sekolah adalah lembaga yang membantu orangtua untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut.

"Ada anak-anak yang enjoy di sekolahnya dan berprestasi, tapi ada juga anak-anak yang merasa sekolah tidak nyaman untuknya. Jadi, yang perlu dilakukan adalah diskusi dengan anak. Yang terpenting ditanamkan adalah 'belajar itu adalah kepentingan mereka', bukan kepentingan ayah-ibu'. Merekalah yang butuh dan perlu belajar."

Prinsip pentingnya belajar ini ditanamkan kuat-kuat kepada kedua anaknya. Sampai-sampai Rana menuliskan pemikirannya tentang mencintai ilmu dari hati di blognya sambil berbagi pengalaman seputar belajar lewat Khan Academy.

"Kebanyakan yang terjadi, orang tua sibuk ngomel menyuruh anak untuk belajar di saat anaknya sendiri malas-malasan. Apalagi jika si anak tidak tau apa gunanya belajar atau hanya belajar hanya demi ujian. Perasaan butuh belajar itu bisa distimulasi dengan cara mengaitkan pada keperluannya sendiri," jelas ibu yang meraih gelar Doktor Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran ini.

Ia mencontohkan metode belajar yang diterapkan pada Reza. Karena suka mengutak-atik animasi dan editing video secara otodidak lewat tutorial berbahasa Inggris, otomatis ia harus memahami berbagai kosa kata dalam bahasa tersebut.

Salah satu video hasil belajar otodidak tersebut digunakan untuk menyalurkan kegemaran Reza pada serial Anime favoritnya, Naruto.

Perempuan asal Minang bersuamikan Bandung ini bersyukur bahwa metode belajar yang ia terapkan cocok untuk Reza, "Alhamdulillah dengan belajar otodidak di raz-kids.com dengan beberapa kali pendampingan, dia bisa memahami berbagai tutorial. Saat membaca buku berbahasa Inggris bersama saya, kelihatan bahwa kemajuan kosa kata dan pemahaman teksnya melampaui standar anak kelas 5 SD."

Untuk ijazah, les musik yang diikuti Rana mengeluarkan ijazahnya dari Associated Board of the Royal Schools of Music (ABRSM) London. Sedangkan, ujian paket C tetap harus diikuti oleh Rana agar bisa masuk ke jenjang universitas. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) 129/2014.

Dina mengakui bahwa ada kalanya metode belajar a la anak homeschooling yang ia terapkan tak selamanya mulus. Sebagai ibu, kadang ada masanya ia merasa tidak mampu atau tidak sanggup menghadapi anak dan hal itu akan merambat pada frustasi.

Misalnya ketika melihat anak malas atau sekedar tergoda untuk membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain, "tapi ketika mengingat kembali konsep, tujuan besar, dan mensyukuri segalanya, biasanya normal lagi. Kalaupun anak pergi sekolah, kita juga akan menemui masalah-masalah yang lain."

Baginya, apapun jenis pendidikan yang dipilih untuk anak tidak akan menjamin bahwa pada prakteknya nanti segala rencana yang disusun tidak akan berjalan mulus 100%.

Karena sebagian besar hal-hal penting yang dipelajari oleh anak-anaknya didapatkan dari internet, Dina memiliki trik khusus untuk menyiasatinya. Misalnya dengan menanamkan pelajaran seputar akhlak, penjelasan medis tentang adanya kerusakan otak karena pornografi, dan menyiasati letak komputer di ruang tengah sehingga apa yang dibuka oleh anak akan mudah terlihat oleh semuanya.

Selain itu, ia juga menerapkan screen time sehari maksimal 1 jam untuk menonton film dan main game. Kemudian, 3-5 jam digunakan untuk mengutak-atik animasi maupun belajar editing video dan belajar di website wajib, "sisanya harus diisi dengan membaca buku."

Sebagai orangtua yang sangat menekankan pentingnya budaya membaca dan pendidikan, kegiatan membaca buku sangat ia tekankan karena akhir-akhir ini ada kecenderungan bahwa kemampuan baca anak dan orang dewasa jadi menurun karena terlalu banyak berinteraksi dengan internet.

"Saya ingin mencegah anak-anak terpapar dampak seperti itu. Saya ingin mereka tetap mampu membaca buku-buku tebal karena itu penting untuk studinya di masa depan. Selain itu, pemahaman melalui buku akan lebih komprehensif daripada pemahaman melalui artikel singkat di internet," paparnya.

Ia dan suami juga mengajarkan anak belajar sains dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, jalan-jalan ke Planetarium untuk belajar astronomi dan belajar percobaan sains lewat kegiatan memasak.

Mengembangkan kecerdasan emosional anak

Tak hanya menekankan aspek pelajaran umum, agama, dan seni. Dina dan suami juga menekankan pentingnya life skill dan empati untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak.

Dengan ini diharapkan dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual, kinestetik, seni, maupun kecerdasan emosional anak. Jika banyak orang yang ragu tentang bagaimana perkembangan sosial anak yang menjalani HS, Dina dan suami membuktikan bahwa anak homeschooling tetap akan tetap bisa punya banyak teman seperti mereka yang sekolah konvensional.

Misalnya dengan ikut berbagai kegiatan sesuai minat bakat seperti musik, klub bulutangkis, atau bergabung dengan komunitas seperti pramuka khusus anak homeschooling. Kadang, Dina mengikutkan anaknya dalam acara gathering dengan berbagai komunitas.

"Saya sering mendapati anak-anak yang sekolah tapi tidak bisa bersikap manis kepada sanak keluarga maupun tamu yang datang ke rumah maupun anak yang ketika di sekolah suka membully teman. Menurut saya, tetap saja proses sosialisasi terbaik adalah pendidikan di rumah."

Sebagai contoh, penting bagi orang tua untuk mendidik anak-anak agar bersikap baik kepada sesama dengan berbagai jenjang usia. Salah satu cara terpenting menurutnya adalah dengan melibatkan anak-anak pada kegiatan domestik di rumah.

Melibatkan anak-anak untuk memasak, membereskan rumah, belanja ke warung, mencuci baju, dan sebagainya akan membuat mereka memiliki life skill dan empati pada orang lain.

"Jadi saat mereka berkunjung ke rumah nenek, misalnya. Mereka tidak canggung membantu di dapur atau menyapu rumah. Mereka juga mampu bersikap sopan dan menghargai masakan orang lain, karena tahu repotnya memasak. Lebih penting lagi, mereka mampu mandiri. Sehingga ketika mereka harus berpisah dari orangtua untuk kuliah di luar kota dan lainnya, mereka akan mampu mengurus diri sendiri."

Jika Parents ingin mendidik anaknya dengan sistem homeschooling, Dina menyarankan agar membaca dulu banyak buku tentang seluk beluknya terlebih dahulu sebelum benar-benar membuat keputusan tersebut. Misalnya buku Homeschooling karya Mary Griffith, Cinta yang Berpikir karya Ellen Kristi, maupun dari laman online seperti Rumah Inspirasi.

"Jadi orangtua benar-benar paham konsep HS seperti apa, bagaimana menjalankannya. Berdiskusi dengan praktisi HS juga perlu, tapi membaca sendiri buku-bukunya jauh lebih penting dilakukan," tutupnya.

Saat ini, Kirana telah menulis 8 buah buku. Salah satunya adalah seri KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) yang berjudul Two Beautiful Princesses yang ditulisnya saat SD dan sudah dicetak ulang sebanyak 6 kali. Semoga prestasi Rana dan Reza semakin bertambah ya dari waktu ke waktu.

Bagaimana Parents, apakah berminat meniru jejak Otong dan Dina Y Sulaeman soal cara mendidik anak homeschooling ini? Bagikan pendapat Anda ya.

Baca juga:

Orangtua Homeschooling Berbagi Pengalaman

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Inspiratif