TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Mengenal Istilah Quiet Quitting, Fenomena Kerja Secukupnya Saja yang Sedang Tren

Bacaan 5 menit
Mengenal Istilah Quiet Quitting, Fenomena Kerja Secukupnya Saja yang Sedang Tren

Bukan berhenti kerja diam-diam, simak penjelasan tentang quiet quitting berikut ini!

Belakangan istilah Quiet Quitting sedang tren di media sosial terutama dalam perbincangan para pekerja. Istilah tersebut bukan ajakan untuk berhenti kerja diam-diam. Kata tersebut mengarah pada sebuah konsep untuk bekerja secukupnya. Tak perlu berusaha keras untuk meraih promosi dan fokus saja untuk work life balance.  

Dipopulerkan oleh TikTokers 

Quiet Quitting

Sumber : Unsplash

Kepopuleran istilah ini bermula saat seorang konten kreator TikTok Zaid Khan membahas tentang konsep tersebut dalam dunia kerja. Video yang diunggah melalui akun Tiktok @zaidleppelin pada  Juli 2022 itu telah ditonton lebih dari 3 juta kali.

Khan mempopulerkan istilah ini saat pandemi covid-19. Maksud istilah ini bukan berhenti dari pekerjaan.  Ia menegaskan tak perlu terlalu keras bekerja lagi pula  nilai seseorang  tidak ditentukan oleh hasil produktivitasnya. 

 “Kamu masih melakukan tugasmu, tetapi kamu tidak lagi menganut mentalitas budaya  bahwa pekerjaan harus menjadi hidup.  Kenyataannya tidak demikian dan nilaimu sebagai pribadi tidak ditentukan oleh produktivitasmu,” ujarnya lagi. 

Artikel terkait : Mengenal Karoshi, Fenomena Bekerja Berlebihan dan Tanpa Cuti Sampai Meninggal

Apa itu Istilah Quiet Quitting?

Quiet Quitting

Sumber : Unsplash

Meski terdengar seperti ajakan untuk berhenti kerja diam-diam, istilah Quiet Quitting digambarkan sebagai perlawanan dari hustle culture, yakni tekanan untuk bekerja lebih keras dan lebih sibuk dari orang lain. Konsep ini mematahkan budaya tersebut dan menetapkan standar pada pekerjaan.

Istilah tersebut mungkin terdengar baru tetapi gagasan ini sudah ada sejak lama. Mengutio BBC, Anthony Klotz, profesor di School of Management University of College London mengungkapkan fenomenan ini telah telah muncul sejak beberapa dekade lalu meski dikenal dengan nama yang berbeda. 

“Meskipun ini berasal dari generasi yang lebih muda dan dalam kemasan baru, tren ini telah dipelajari dengan nama yang berbeda selama beberapa dekade: pelepasan, pengabaian, penarikan,” ujar Anthony Klotz. 

Klotz menambahkan penyebabnya  pekerja seringkali mempertahankan pekerjaan karena alasan tertentu. Kadangkala mereka juga tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bekerja melampaui standar juga memberikan tekanan yang menyebabkan stress. Pada akhirnya, mereka tidak lagi memprioritaskan karier mereka. 

Sama seperti dekade lalu, banyak pekerja milenial dan Gen Z merasakan hal serupa sehingga muncul istilah baru. Singkatnya, quiet quitting adalah sebutan bekerja secukupnya saja atau kerja sesuai standar. Termasuk juga bekerja sesuai gaji dan menolak pekerjaan tambahan tanpa bayaran yang sepadan.

Artikel terkait : Studi WHO: Jam Kerja yang Panjang Bisa Meningkatkan Risiko Kematian

Bagaimana Praktiknya Dalam Dunia Kerja?

Quiet Quitting

Sumber : Unsplash

Mengutip Tech Target, Quiet Quitting bukan berarti berhenti kerja melainkan seorang karyawan membatasi tanggung jawab hanya pada tugas-tugas yang berada dalam deskripsi pekerjaan mereka untuk menghindari jam kerja yang lebih lama. 

Para karyawan  masih memenuhi tugas pekerjaan mereka tetapi tidak menganut budaya “Work is life” dalam karier mereka. Mereka juga tidak ingin menonjol di hadapan atasan demi kenaikan jabatan atau manfaat lainnya. Berikut praktik-praktik yang sering terjadi di tempat kerja: 

  • Bekerja keras seminimal mungkin untuk menyelesaikan tugas  dan menetapkan batasan serta fokus pada work life balance. 
  • Menghilangkan pola pikir untuk dipromosikan atau dinaikkan gaji. 
  • Menolak pekerjaan lembur atau kerja tambahan 
  • Benar-benar tidak memikirkan pekerjaan saat jam kantor berakhir dan fokus mengurusi hal di luar pekerjaan.

Alasan Menerapkan Gagasan “Bekerja Secukupnya”

Quiet Quitting

Sumber : Unsplash

Gagasan untuk bekerja secukupnya ditengarai muncul akibat  jam kerja pada masa pandemi yang tidak teratur dan berantakan. Work from Home (WFH) juga telah mengubah dinamika tempat kerja. 

Sebuah survei tahun 2021 dari Gallup menemukan bahwa hanya 36% orang yang dilaporkan antusias dengan pekerjaan mereka. Menurut survei LinkedIn, beberapa orang tetap di pekerjaan mereka tetapi tetap mencari pekerjaan lain sambil mengumpulkan gaji, asuransi kesehatan atau tunjangan lainnya. Selain itu, gaji yang kecil  membuat mereka bertanya-tanya mengapa mereka harus bekerja begitu keras.

Beberapa hal lain yang menjadi alasan pekerja menerapkan  quiet quiting antara lain: 

  • Pandemi covid-19 yang mengubah perspektif dalam bekerja. 
  • Keinginan untuk meraih work-life balance.
  • Burnout dengan pekerjaan yang sudah mengganggu kesehatan mental.
  • Tempat kerja yang tidak aman dan kurang apresiasi.
  • Mementingkan kebahagiaan daripada karier. 

Artikel terkait : 5 Pekerjaan yang Terancam Digantikan oleh Robot, Apakah Pekerjaan Parents Termasuk?

Beberapa Dampaknya Bagi Pekerja 

Quiet Quitting

Sumber : Unsplash

Saat menerapkan, quiet quitting para pekerja tidak mengabaikan pekerjaan merek dan masih melaksanakan tanggung jawab hanya saja cukup sesuai kapasitasnya. Ini juga bisa menjadi langkah untuk mempertahankan kesehatan mental saat bekerja. Namun, di sisi lain, hal tersebut juga menjadi bumerang bagi para pekerja. 

Produktivitas pekerja telah menjadi perhatian perusahaan selama beberapa tahun terakhir untuj mencegah perlambatan ekonomi. Mengutip Time, perusahaan saat ini melihat skala produktivitas sebagai metrik untuk keunggulan dan memoderasi aktivitas karyawan.  

Perusahaan teknologi besar seperti Google memberi sinyal bahwa mereka memperlambat perekrutan dan dapat memberhentikan staf di tengah kekhawatiran tentang produktivitas. 

Cerita mitra kami
Parents Wajib Tahu! Ini Cara Atur Strategi Keuangan, Dana Darurat, dan Asuransi di Era Dinamis
Parents Wajib Tahu! Ini Cara Atur Strategi Keuangan, Dana Darurat, dan Asuransi di Era Dinamis
Edukasi Gizi Sejak Dini, 50 Chef Cilik Unjuk Kreativitas di Grand Final Weyoco Junior Chef Indonesia Season 5
Edukasi Gizi Sejak Dini, 50 Chef Cilik Unjuk Kreativitas di Grand Final Weyoco Junior Chef Indonesia Season 5
Kenyamanan Sehari-hari, Kenangan Sepanjang Masa: Cerita di Balik Petit Beary
Kenyamanan Sehari-hari, Kenangan Sepanjang Masa: Cerita di Balik Petit Beary
Dukung Pendidikan dan Lingkungan Sehat, PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk Gelar CSR di SDN 01 Cilangkap
Dukung Pendidikan dan Lingkungan Sehat, PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk Gelar CSR di SDN 01 Cilangkap

Bagaimana bila perusahaan justru temandang quiet quitting sebagai penurunan produktivitas? Bisa jadi orang-orang yang menerapkan konsep ini berada dalam urutan pertama dalam daftar pekerja yang di-PHK. Sebab, bekerja alakadarnya dianggap tidak memenuhi ekspektasi perusahaan. 

Jadi, boleh saja bekerja secukupnya, tapi hati-hati juga, jangan sampai hal ini menurunkan produktivitas yang berujung pada PHK. 

Employees Say ‘Quiet Quitting’ Is Just Setting Boundaries. Companies Fear Long-Term Effects

https://time.com/6208115/quiet-quitting-companies-response/

Why ‘quiet quitting’ is nothing new

https://www.techtarget.com/whatis/feature/Quiet-quitting-explained-Everything-you-need-to-know

Quiet quitting explained: Everything you need to know

https://www.bbc.com/worklife/article/20220825-why-quiet-quitting-is-nothing-new

***

Baca juga :

Berencana Berhenti Kerja? Pertimbangkan Dulu 7 Hal Berikut sebelum Memutuskan Resign

4 Tips agar badan tetap sehat meski sering kerja lembur

Posisi Meja Kerja yang Baik Menurut Feng Shui Supaya Karier Moncer

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Faizah Pratama

Diedit oleh:

Shafa Nurnafisa

  • Halaman Depan
  • /
  • Gaya Hidup
  • /
  • Mengenal Istilah Quiet Quitting, Fenomena Kerja Secukupnya Saja yang Sedang Tren
Bagikan:
  • 15 Film Korea tentang Perselingkuhan, Bikin Penonton Ikutan Naik Darah

    15 Film Korea tentang Perselingkuhan, Bikin Penonton Ikutan Naik Darah

  • 20 Arti Mimpi Ular Menurut Islam, Psikologi, hingga Primbon Jawa

    20 Arti Mimpi Ular Menurut Islam, Psikologi, hingga Primbon Jawa

  • 20 Rekomendasi Film Semi Dewasa Bagus untuk Ditonton Bareng Pasangan

    20 Rekomendasi Film Semi Dewasa Bagus untuk Ditonton Bareng Pasangan

  • 15 Film Korea tentang Perselingkuhan, Bikin Penonton Ikutan Naik Darah

    15 Film Korea tentang Perselingkuhan, Bikin Penonton Ikutan Naik Darah

  • 20 Arti Mimpi Ular Menurut Islam, Psikologi, hingga Primbon Jawa

    20 Arti Mimpi Ular Menurut Islam, Psikologi, hingga Primbon Jawa

  • 20 Rekomendasi Film Semi Dewasa Bagus untuk Ditonton Bareng Pasangan

    20 Rekomendasi Film Semi Dewasa Bagus untuk Ditonton Bareng Pasangan

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti