Benarkah bayi sudah bisa mendengar sejak dalam kandungan?

Benarkah bayi sudah bisa mendengar sejak dalam kandungan?

Berikut tahapan proses tahapan kemampuan mendengar janin yang perlu Parents ketahui.

Orangtua mana yang tidak khawatir saat mengetahui anaknya tidak merespon ketika dipanggil, atau saat diberikan mainan yang bisa merangsang pendengarnya. Oleh karena itu penting bagi Parents untuk mengetahui tahapan proses mendengar bayi. 

Faktanya, kemampuan mendengar bayi sudah terbentuk sejak masih di dalam kandungan, dimulai sejak berusia janin berusia 23-27 minggu. Maka tak mengherankan jika orangtua dianjurkan untuk menjalin komunikasi dengan janin sedini mungkin, 

Ketika usia kandungan 20 minggu, ternyata janin sudah bisa memberikan reaksi pada nada rendah. Lalu, saat memasuki usia 35 minggu, janin akan mulai memberikan reaksi pada nada menengah dan tinggi.

Sementara itu, saat bayi sudah dilahirkan, proses mendengar pada bayi juga akan dipengaruhi oleh usia serta tahap perkembangan dan tingkat gangguan pendengaran.

Artikel terkait : Hati-hati membersihkan telinga anak, bisa merobek gendang telinga!

Meskipun begitu, tidak bisa dipungkiri untuk bayi baru lahir, yaitu dalam dua bulan pertama kehidupan, sulit bagi orangtua untuk mengetahui bagaimana kondisi pendengaran bayi. Pasalnya, bayi cenderung belum bisa memberikan respons apa pun pada suara.

Kalaupun memberikan respons, itu sangat sulit untuk terdeteksi. Misalnya, bayi mungkin hanya melebarkan mata atau bergerak dalam tidurnya ketika ia mendengar suara.

Patut diketahui, jenis suara yang justru dapat didengar baik oleh bayi adalah suara dengan nada lembut. Sehingga, bayi akan lebih memberikan respons suara pada tingkat yang lebih lembut daripada menanggapi suara-suara lain di sekitar rumah.

Bayi juga lebih tertarik pada suara-suara kompleks seperti mainan kerincingan atau musik. Namun, jika bunyi itu diulang terlalu sering, bayi justru akan kehilangan minat dan mungkin berhenti untuk memberikan respons.

Proses Mendengar : Respons bayi saat mendengar suara sesuai dengan usia

proses mendengar

Berdasarkan informasi dari Australian Hearing, terdapat respons yang berbeda pada setiap bayi jika mendengar suara. Perbedaan itu berdasarkan dengan usia bayi.

1. Bayi usia 0 – 28 hari

  • Merespons terbaik untuk suara terdekat.
  • Terkejut mendengar suara yang dirasa keras untuknya.
  • Memperluas mata atau berkedip saat ada suara tiba-tiba. Bahkan mungkin bayi juga bisa menjadi merasa tertekan.
  • Bangun dari tidurnya sebagai respons terhadap suara. 
  • Gerakan mata. Misalnya, bayi baru lahir dapat mengarahkan mata mereka ke arah suara yang terus menerus di dekatnya.
  • Untuk suara-suara tertentu, tubuh bayi mungkin saja menegang.

2. Bayi berusia 1 – 4 bulan

  • Memperluas atau mengedipkan mata dan mungkin mengerutkan alis sebagai respons terhadap suara.
  • Mata akan melirik ke arah sumber suara.
  • Diam dan tegang, khususnya apabila suara itu mengejutkan.
  • Mulai bisa memutar kepala ke arah suara, khususnya untuk bayi yang berusia  4 bulan.

3. Bayi berusia 4 – 7 bulan

  • Memutarkan kepala ke arah suara, tapi hanya dapat menemukan suara secara langsung jika berada pada tingkat yang sama dengan telinga.
  • Muncul ketertarikan untuk mendengarkan.

Proses Mendengar : Jenis pendeteksian dini terhadap pendengaran bayi

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebelum orangtua mendeteksi sendiri bagaimana pendengaran bayi, idealnya juga melakukan deteksi dini gangguan pendengaran terlebih dahulu. Hal ini perlu dilakukan sebagai antisipasi terjadinya gangguan pendengaran dan wicara.

Ada 2 deteksi dini yang umum dilakukan yaitu, skrining pendengaran dan pemeriksaan otoaccoustic emission (OAE) diagnostik dan brainsteam evoked response audiometry (BERA). Waktu pemeriksaannya pun berbeda, yaitu pada 48 jam pertama kehidupan dan saat bayi menjelang 3 bulan.

Skrining pendengaran dilakukan untuk mengetahui kondisi rumah siput (koklea) yang berperan sebagai sensor terhadap bunyi dari sekitarnya. Sedangkan pemeriksaan OAE diagnostik dan BERA untuk mengetahui kondisi saraf atau yang dikenal sebagai gangguan sensorineural.

Sementara itu, agar fungsi pendengaran bayi dapat berkembang dengan baik, idealnya perlu melakukan kontrol sesuai jadwal selama masa kehamilan. Sehingga perkembangan janin, termasuk perkembangan indera pendengaran bisa dapat diketahui dengan baik.

Selain itu, pemeriksaan TORCHS juga disarankan dan sebaiknya menghindari pemakaian obat-obatan yang bersifat toksik bagi telinga, terutama di trimester pertama kehamilan.

Itulah informasi terkait proses mendengar pada bayi yang wajib Parents perhatikan. Semoga bermanfaat, ya.

Referensi : aussie deaf kids dan IDAI

Baca juga :

Inilah 4 jenis gangguan pendengaran pada anak dan cara mengobatinya!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner