Benarkah bayi pneumonia karena tidur di bawah kipas angin? Simak penjelasan dokter

lead image

Benarkah tidur terpapar kipas angin bisa sebabkan paru-paru basah atau pneumonia? Berikut ini penjelasan medisnya.

Seorang ibu di Thailand percaya bahwa anaknya mengalami kondisi pneumonia pada bayi, atau paru-paru basah akibat sering tidur di bawah kipas angin. 

Menurut ibu ini, anaknya adalah bayi yang sehat dan jarang sakit. Dia percaya sepenuhnya bahwa setelah anaknya kena selesma, tidur di bawah kipas angin menyebabkan sang buah hati kena paru-paru bengkak, yang kemudian berkembang menjadi pneumonia.

Setelah anaknya menjalani perawatan selama 3 hari di rumah sakit, ibu ini mengatakan bahwa diagnosis dokter juga menyatakan sang anak kena pneumonia. Untungnya, kondisi si kecil berangsur membaik.

Dokter menganjurkan agar anaknya beristirahat total, dan jangan membiarkan bayi tidur tanpa pakaian, serta kipas angin yang dinyalakan terlalu kencang.

Artikel terkait: Pneumonia menyerang anak Kim Kadarshian, waspadai risikonya terhadap anak Anda

Apakah kipas angin bisa menyebabkan pneumonia pada bayi?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/fan 1543302675.jpg Benarkah bayi pneumonia karena tidur di bawah kipas angin? Simak penjelasan dokter

Di kalangan medis, sebenarnya istilah paru-paru basah tidak ada. Pneumonia sendiri merupakan kondisi paru-paru radang. Namun karena tidak ada istilah tepat untuk menggambarkan kondisi jaringan paru yang bengkak karena mengandung banyak cairan, maka istilah ini digunakan. Demikian pendapat dr Agus Dwi Susanto, SpP, Dokter Spesialis Paru di RS Awal Bros Bekasi Timur. 

“Sampai saat ini, belum ada bukti medis yang menyatakan tidur di lantai atau memakai kipas angin menyebabkan paru-paru basah,” tambah dr. Agus seperti dikutip dari Detik

Melansir dari laman Kompas, hal serupa juga disampaikan oleh dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, SpA,  “Penyakit paru-paru basah itu tidak ada, yang ada adalah pneumonia atau radang paru-paru. Dan penyebabnya juga bukan karena tidur dengan kipas angin.”

Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia ini juga menyampaikan, bahwa pneumonia pada bayi bisa dicegah dengan menghindari faktor penyebabnya. Serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak dengan memberi asupan makanan bergizi, dan lingkungan yang bersih.

“Tidur dengan kipas angin boleh-boleh saja, tapi jangan diarahkan ke badan anak,” tuturnya. 

Namun, udara kipas angin bisa berbahaya jika kondisi ruangan tidak bersih. Angin yang bergerak bisa membawa debu, serbuk, bahkan bakteri yang dapat terhirup, apalagi jika diarahkan langsung ke anak.

Jadi selalu jaga kebersihan ruangan dan kipas anginnya ya, Parents.

Gejala pneumonia pada bayi yang perlu diwaspadai

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/04/pneumonia pada bayi 2.jpg Benarkah bayi pneumonia karena tidur di bawah kipas angin? Simak penjelasan dokter

Waspadai gejala paru-paru basah pada anak.

Pada paru-paru yang sehat, oksigen masuk ketika bernapas dan bergerak melalui tabung pernapasan, yang kemudian masuk ke dalam darah melalui alveoli. Alveoli adalah kantung udara kecil di dalam pembuluh darah kecil yang disebut kapiler. Ada sekitar 600 juta alveoli dalam satu sistem pernapasan.

Ketika udara yang kaya oksigen mencapai alveoli, oksigen dapat diserap ke dalam darah. Kemudian sel-sel darah merah dapat membawa oksigen ke seluruh tubuh. Tubuh membutuhkan oksigen untuk tetap bekerja dengan baik dan untuk tetap hidup.

Infeksi pneumonia pada bayi mengakibatkan paru-paru tidak dapat melakukan pekerjaannya seperti biasa. Karena kondisi pneumonia menyebabkan adanya cairan dan lendir yang menghalangi alveoli.

Hal ini membuat oksigen sulit masuk secara penuh ke dalam paru-paru, tempat yang harus dilewatinya sebelum masuk ke dalam darah.

Gejala pneumonia pada bayi meliputi: 

  • Susah bernapas
  • Demam hingga 38,5 derajat celcius
  • Bayi terlihat lesu
  • Batuk-batuk
  • Napas memburu dengan suara mencicit
  • Bayi terlihat kesakitan di bagian perut dan dada
  • Muntah-muntah
  • Keluar lendir bercampur darah atau hijau
  • Bayi tidak mau menyusu, atau nafsu makan turun.

Artikel terkait: Gejala dan Penanganan Pneumonia/Paru-Paru Basah Pada Anak

***

Nah, Parents sekarang sudah tahu kan. Kipas angin memang bukan penyebab utama terjadinya pneumonia, namun sebaiknya hindari memakai kipas angin berlebihan, atau diarahkan langsung ke badan. Karena kipas angin menggerakkan udara di dalam ruangan serta debu. Hal ini membuat debu bisa masuk ke rongga pernapasan, dan memicu reaksi alergi, asma, bahkan demam.

Semoga artikel ini bermanfaat. 

 

Disadur dari artikel Kevin Wijaya di theAsianparent Singapura

Baca juga: 

Bayi menderita paru-paru basah karena pengasuh suka merokok, ibu ini peringatkan semua orangtua!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.