Sakit gigi di tengah pandemi Covid-19? Ini hal yang perlu diperhatikan

Sakit gigi di tengah pandemi Covid-19? Ini hal yang perlu diperhatikan

Tak sulit, ini yang perlu Parents lakukan dan perhatikan.

Demi memutus penyebaran Covid-19 di Tanah Air, anjuran untuk tidak keluar rumah dan menjaga jarak dengan orang lain sudah banyak dilakukan. Tak hanya itu, selama pandemi Covid-19 memuncak, imbauan untuk menunda periksa gigi juga diterapkan. Oleh karena itulah menjaga kesehatan gigi dan mulut harus menjadi prioritas.

Sudahkah hal ini Parents lakukan dan menularkan kebiasaan baik pada si kecil?

Mengapa periksa gigi ke dokter perlu ditunda selama pandemi Covid-19?

periksa gigi ke dokter

Imbauan ini diungkapkan oleh Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI). Sebaiknya, warga menunda kunjungan ke dokter gigi jika bukan dalam keadaan darurat.

“Tunda ke dokter gigi, kecuali bila ada keadaan darurat,” seperti yang tertulis dalam imbauan tersebut.

Menunda kunjungan ke dokter gigi ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan penularan virus korona. Apalagi, kita tahu, kalau penyebaran virus ini melalui droplets atau percikan air liur. Maka tak mengherankan jika anjuran menunda periksa gigi ke dokter ini juga ditegaskan bagi seseorang yang sedang batuk, pilek, dan kondisi badan tidak fit.

Artikel terkait: Cemas berlebih akibat pandemi Covid-19? Kendalikan dengan 6 cara ini

Kondisi darurat yang diizinkan periksa gigi ke dokter

Periksa gigi

Drg. Anna Karenina Tanjung dari Bali Dental Klinik menjelaskan ada beberapa kondisi darurat yang membolehkan seseorang perlu memeriksakan diri ke dokter.

“Kondisi darurat yang mengharuskan tindakan dokter itu kalau seseorang mengalami kecelakaan kemudian menyebabkan gigi patahnya, sakit gigi yang memang sudah tidak tertahankan, termasuk kondisi bengkak pada gusi,” ungkapnya saat dihubungi theAsianparent ID.

Tak hanya itu, drg. Anna juga mengatakan kalau masih ada kondisi lain yang perlu diwaspadai, yaitu pada saat terjadinya pendarahan di mulut yang tidak berhenti, infeksi atau bengkak yang menyebabkan kesulitan bernapas, serta gigi lepas secara mendadak.

Menurutnya, hal ini berlaku pada siapa pun juga, baik orang dewasa atau pun anak-anak.

“Keadaan darurat ini juga bisa dialami oleh anak. Biasanya saat si kecil jatuh atau giginya patah. Kalau anak merasa sakit gigi, dan bisa ditunda untuk pergi ke dokter gigi, orangtua bisa memberikan paracetamol dulu sesuai usia dan dosisnya,” tambah drg. Anna.

Sedangkan bila orang dewasa mengalami sakit gigi ringan, mereka dapat mengonsumsi painkiller yang dijual di apotek.

Bila Anda memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter gigi, dengan kondisi darurat yang dialami, drg. Anna mengingatkan untuk pastikan suhu badan tidak di atas 37.5 derajat celcius.

Artikel terkait:
Awas, ternyata jarang sikat gigi berisiko membuat susah hamil!

Mencegah sakit gigi saat pandemi Covid-19

menjaga kesehatan gigi

Lebih lanjut, drg. Anna menerangkan, salah satu upaya agar menghindari kondisi darurat ini terjadi, tentu saja bisa dimulai dengan dengan menjaga kesehatan gigi dengan baik. Ia menegaskan, agar menjadikan sikat gigi di pagi dan malam hari sebuah ritual yang perlu dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Kemudian dilanjutkan dengan kumur-kumur dengan obat kumur atau sejenisnya agar keberisan gigi menjadi maksimal.

“Tindakan untuk menjaga kesehatan gigi yaitu dengan rajin sikat gigi, jangan lupa juga kumur-kumur pakai obat kumur atau sejenisnya.  Termasuk memerhatikan asupan makan makanan yang bergizi,” pasan drg. Anna.

Pentingnya Sikat Gigi di Malam Hari

Meskipun kebiasaan sikat gigi menjadi modal utama menjaga kesehatan gigi dan mulut, faktanya masih banyak masyarakat yang belum melakukannya. Khususnya, kebiasaan sikat gigi di malam hari.

Hal ini dibuktikan lewat survei yang dilakukan Unilever dan King’s College London. Jejak pendapat ini dilakukan untuk mengetahui kebiasaan menyikat gigi pada malam hari di 8 negara.

Lewat survei tersebut akhirnya membuktikan kalau kebiasaan ini belum dilakukan dengan baik. Survei global ini melibatkan 5.000 anak dan orangtua di beberapa negara, salah satunya Indonesia.

Ada responden 506 anak di Indonesia yang memiliki kondisi kesehatan gigi dan mulut kurang baik. Ternyata 34% anak yang belum membiasakan diri untuk sikat gigi di malam hari.

Hasil survei ini ditunjukkan pada peringatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2020 yang digelar Pepsodent, FDI World Dental Federation dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) pada Jumat (20/3/2020) lalu.

Dalam hal ini, drg. Sri Hananto Seno, Ketua Pengurus Besar PDGI mengatakan, kebiasaan sikat gigi di malam hari sangatlah penting, dan perlu diterapkan pada anak sejak dini.

“Soalnya, mulut anak-anak menghasilkan lebih sedikit air liur ketika mereka tidur. Dalam kondisi ini, kuman dan bakteri memiliki lingkungan yang sempurna untuk berkembang lebih cepat, dan mengubah sisa makanan menjadi asam, dan akhirnya menyebabkan gigi berlubang,” jelasnya.

Ditambahkan drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Head of Sustainable Living Unilever Indonesia Foundation, “Kesehatan gigi dan mulut anak yang tidak rutin menyikat gigi di malam hari ternyata dua kali lebih buruk dibandingkan yang menyikat gigi.”

Risikonya, tidak hanya membuat sakit gigi, namun bisa berujung pada hilangnya rasa percaya diri pada anak, dan menurunnya aktivitas anak di sekolah akibat sakit gigi yang ditimbulkan.

***

Baca juga

3 Kondisi yang Menyebabkan Gigi Susu Perlu Dicabut

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner