Dengue Shock Syndrome Bisa Mematikan Bagi Anak, Waspadai Gejalanya!

Dengue Shock Syndrome Bisa Mematikan Bagi Anak, Waspadai Gejalanya!

Kenali berbagai gejala dan pencegahannya berikut ini, Parents.

Penyakit DSS atau Dengue Shock Syndrome adalah komplikasi dari gejala demam berdarah yang sangat berbahaya. Bahkan bisa mematikan. Seorang ibu pembaca theAsianparent berbagi kisahnya ketika sang anak didiagnosa mengalami DSS.

“Anakku didiagnosis penyakit DSS atau Dengue Shock Syndrome. Mulanya dia hanya mengalami gejala demam berdarah sampai akhirnya kondisinya tidak kunjung membaik.

Untungnya, saat itu aku dan suami segera sigap membawa dia ke rumah sakit. Ya, kami memang sudah mencurigai dia kena DBD. Apalagi sekarang ini memang cukup banyak diberitakan anak yang mengalami DBD di beberapa daerah.

Di balik Anak yang Sakit, Ada Ibu yang Kuat menjaga

Tapi tetap saja, anakku kini masih berjuang melawan komplikasi DSS yang kata dokter pun kondisinya kritis. Orangtua mana yang hatinya tak hancur ketika melihat si kecil yang masih lugu harus terbaring tak berdaya, dipasangi banyak selang. Seperti robot, katanya.

Ya, anakku yang masih berusia 4 tahun ini masih belum mengerti apa yang tengah terjadi. Pikirnya dia memang sedang bermain peran menjadi robot. Hanya saja, permainannya itu dilakukan di rumah sakit,” tutur sang ibu.

Dari kisah di atas kita bisa memetik pembelajaran bahwasanya saat anak mengalami gejala penyakit yang serius, hendaknya kita bisa sigap untuk membawanya ke rumah sakit.

Lalu, sebenarnya apa itu DSS?

Artikel Terkait : Bayi 6 bulan mengalami Bronkuspneumonia akibat asap rokok, sang ibu beri peringatan

Penyakit DSS atau Dengue Shock Syndrome

Penyakit DSS

Waspadai Dengue Shock Syndrome yang bisa menjadi komplikasi dari Demam Berdarah Dengue

Selain pandemi Covid-19 yang saat ini masih berlangsung, sebetulnya penyakit DBD pun patut diwaspadai karena angka kejadiannya yang tinggi baru-baru ini. Belum lagi, bila mengalami komplikasi, seperti yang terjadi pada kasus di atas.

Dilansir dari Alodokter, dr. Arnold Fernando mengungkapkan bahwa DSS merupakan suatu komplikasi dari demam berdarah yang bisa membahayakan, bahkan bisa menyebabkan kematian. DSS ini terjadi saat virus penyebab demam berdarah bisa menyerang sistem tubuh misalnya saja sistem peredaran darah.

Bila kondisi ini sampai terjadi, jantung tidak bisa mampu memasok darah dalam jumlah yang cukup ke seluruh tubuh. Akibatnya, volume darah berkurang sehingga timbul berbagai macam kerusakan organ vital, mulai dari otak,jantung, paru-paru, dan hati.

Parents, risiko kematian yang bisa terjadi pada anak bisa beragam tergantung pada kecepatan penanganannya. Bila terlambat penanganannya, tingkat kematian DSS bisa mencapai 40%. Di sisi lain, bisa segera ditangani, tingkat kematiannya hanya sekitar 1-2%.

Artikel Terkait : Mata anak 2 tahun terlihat indah seperti karakter putri Disney, ternyata ini alasannya

Gejala Dengue Shock Syndrome yang perlu diwaspadai

Dengue Shock Syndrome Bisa Mematikan Bagi Anak, Waspadai Gejalanya!

Ketahui berbagai gejala DSS yang bisa membahayakan keselamatan si kecil

Selain menunjukkan gejala DBD, penderita DSS pun bisa mengalami berbagai gejala khas, di antaranya :

  • Napas tidak beraturan
  • Denyut nadi lemah
  • Tekanan darah menurun
  • Jumlah urine menurun
  • Pupil melebar
  • Kulit basah dan terasa dingin
  • Mulut kering

Pada kondisi lainnya, demam berdarah maupun DSS bisa menyebabkan kerusakan orang, penggumpalan darah, syok, dan kejang.

Pencegahan DSS yang perlu diketahui

Parents, jangan khawatir karena Dengue Shock Syndrome ini bisa dicegah. Hal yang perlu dilakukan saat seseorang terkena DBD ialah dengan memastikan kondisinya membaik dengan banyak beristirahat.

Selain itu, pastikan asupan cairan maupun zat gizi ke dalam tubuh ya bisa terpenuhi dengan baik. Pastikan asupan makanan memenuhi ketentuan gizi seimbang.

ini manfaat imunisasi pada bayi Kapan Pasien Demam Berdarah Perlu Dirawat di Rumah Sakit

Saat seseorang mengalami DBD, beberapa akan dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit, namun ada juga yang bisa berobat jalan. Bagi pasien yang dirawat, dokter biasanya menemukan risiko-risiko untuk mengalami DSS sehingga anjuran dokter sebaiknya dipatuhi.

Di sisi lain, pasien yang bisa berobat jalan tentunya juga telah melewati pengkajian medis memiliki risiko yang lebih kecil. Namun, pasien DBD pada kategori ini tetap diharapkan melakukan kontrol rutin secara berkala untuk mengamati perkembangan kondisinya.

Artikel Terkait : Ukuran mata besar adalah satu gejala kelainan Sindrom Axenfeld Rieger, apa bahayanya?

Nah, Parents tentunya kita harus senantiasa berhati-hati ya. Jangan sampai anak terlambat mendapatkan penanganan saat DBD hingga menyebabkan dirinya mengalami DSS.

Kita pun tentu berharap agar si kecil tidak sampai mengalami DBD sehingga pencegahan penyakitnya penting untuk dilakukan. Lakukan pencegahan mulai dari memberantas sarang nyamuk, menjaga kebersihan rumah, serta menjaga daya tahan tubuh anggota keluarga.

Semoga informasi di atas bermanfaat.

Baca Juga :

2 Anak meninggal karena DBD, ini gejala yang perlu Parents perhatikan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner