2 Anak meninggal karena DBD, ini gejala yang perlu Parents perhatikan

2 Anak meninggal karena DBD, ini gejala yang perlu Parents perhatikan

Ada beberapa gejala awal DBD yang perlu diwaspadai. Simak penjelasan selengkapnya dalam artikel ini, Parents!

Dua anak meninggal karena DBD atau Demam Berdarah Dengeu di Kabupaten Jembrana, Bali. Keduanya meninggal dalam waktu bersamaan ketika menjalani perawatan di RSUP Sanglah, Denpasar, pada Senin (9/3).

Artikel terkait: Kenali gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) pada anak

Anak meninggal karena DBD, gejala yang dialami sempat tak terdeteksi

anak meninggal karena DBD

Dilansir dari laman Nusa Bali, dua anak tersebut bernama Rofi (9) dan Nazar (11). Keduanya mengalami dengeu shock syndrom saat dilarikan ke rumah sakit rujukan. Bahkan Rofi, ia sudah melakukan rawat jalan selama tiga kali, tetapi ia baru terdeteksi DBD saat kondisinya memburuk dan dilarikan ke rumah sakit.

Rofi diketahui sudah mengalami demam sejak Selasa (3/3). Ia sempat dibawa ke Puskesmas dan disarankan untuk melakukan rawat jalan. Setelah tiga kali melakukan rawat jalan ke Puskesmas, keluarga akhirnya membawa Rofi ke rumah sakit karena kondisinya tidak juga membaik. Setelah diperiksa di sana, anak tersebut pun dipastikan mengalami DBD.

Dr. Arisantah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jembrana, menjelaskan mengenai hal ini.

“Saya belum bertemu pihak Puskesmas. Apakah ketiga kali rawat jalan tidak terdeteksi DBD atau bagaimana. Namun, dari keterangan dokter di UGD, kondisi anak sudah mengalami dengeu shock syndrome (DSS) atau gejala DBD yang berat, sudah grade 4. Makanya, dirujuk ke RS Sanglah. Pihak rumah sakit sudah mencoba yang terbaik, tetapi tidak tertolong,” jelas Arisantha seperti yang dikutip dari laman Nusa Bali.

Artikel terkait: Wabah DBD merenggut 104 nyawa di Indonesia, bagaimana cara mencegahnya?

Demam tinggi dan sempat diduga tifus

anak meninggal karena DBD

Sedangkan Nazar, ia diketahui tidak memiliki riwayat berobat ke Puskesmas. Namun, ia mengalami demam yang berangsur dan tidak kunjung membaik. Ia sempat diperiksa oleh dokter umum dan diduga mengalami tifus dan hanya menjalani perawatan di rumah.

Namun, kondisi demamnya tidak kunjung sembuh sehingga keluarga membawanya ke rumah sakit. Ketika dibawa ke RS Negara pada Senin (9/3), ternyata ia sudah mengalami DSS grade 3. Kondisinya semakin memburuk sehingga ia pun dirujuk ke rumah sakit yang sama seperti Rofi. Namun, sama seperti Rofi, kondisinya juga tidak tertolong.

Arisantha kembali memaparkan, “Jenazah kedua korban telah diserahkan ke pihak keluarga, dan telah dimakamkan pada Selasa (10/3). Menindaklanjuti temuan kasus DBD yang merenggut korban jiwa ini, pihak Dinkes Jembrana berencana melakukan fogging sebagai upaya pencegahan.”

Di samping itu, menurut data dari Dinas Kesehatan Jembrana, selama 3 bulan terkahir memang sudah ada 59 kasus DBD yang dialami warga Jembrana. Pada Januari ada 22 kasus, Februari memiliki 18 kasus, sedangkan bulan Maret sudah ada 19 kasus.

“Yang Maret ini, kasusnya meningkat dibanding Februari. Bulan sebelumnya, tidak ada korban meninggal,” tutupnya.

Tahapan demam berdarah pada anak

anak meninggal karena DBD

Kasus demam berdarah di Indonesia, khususnya demam berdarah dengeu (DBD), merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Pasalnya, Indonesia merupakan negara iklim tropis yang menjadi habitat nyamuk penyebab DBD, yakni aedes aegypti.

Menurut Infodatin Kemenkes 2017, anak yang berusia kurang dari 15 tahun cenderung rentan mengalami kondisi kesehatan ini.

Dilansir dari Hello Sehat, ada 3 jenis penyakit demam berdarah, yakni demam dengeu, DBD, dan Dengeu shock syndrom. Ketiga demam berdarah tersebut biasanya terjadi secara bertahap.

Demam dengeu merupakan bentuk DBD ringan yang belum menyebabkan perdarahan. Biasanya, demam dengeu ini kerap tidak terdeteksi karena gejalanya mirip flu dan pilek biasa.

Saat demam dengeu bertambah parah, maka kondisi ini bisa disebut sebagai DBD. Demam berdarah jenis ini terjadi ketika diagnosis demam dengeu tidak terdeteksi, serta sistem imun anak tidak cukup kuat melawan virus dengeu.

Kondisi DBD pada anak yang tidak ditangani secara tepat, pada akhirnya pun akan berubah kritis dan mengalami dengeu shock syndrome.

Artikel terkait: Selain corona, waspadai DBD yang sedang mewabah dengan 7 cara ini!

Gejala awal yang perlu diperhatikan

2 Anak meninggal karena DBD, ini gejala yang perlu Parents perhatikan

Untuk mencegah penyakit demam berdarah ini, orangtua perlu memerhatikan gejala awal yang terjadi pada anak. Beberapa gejala awal DBD yang perlu diwaspadai di antaranya adalah:

  • Anak diketahui digigit nyamuk dan mengalami demam tinggi selama 3-14 hari
  • Mengalami pegal atau sakit badan
  • Anak rewel karena sakit kepala
  • Munculnya ruam atau bintik merah pada kulit
  • Si kecil kerap merasa mual dan muntah
  • Kelenjar getah bening si kecil bengkak
  • Saat tes darah, sel darah putih terbilang rendah
  • Anak mengalami mimisan atau gusinya tiba berdarah tanpa sebab.
  • Si kecil terlihat lesu, tidak bertenaga, dan sangat rewel atau mudah tersinggung

Jika Parents menemukan beberapa gejala yang telah disebutkan, jangan ragu untuk segera memeriksakan si kecil ke dokter. Beberapa pemeriksaan dan tes mungkin akan dilakukan dokter, apakah ia mengalami DBD atau tidak.

Apabila anak demam, pastikan ia istirahat cukup dan jangan biarkan ia mengalami dehidrasi. Jaga kebersihan lingkungan rumah, dan lakukan upaya agar lingkungan di sekitar si kecil bebas nyamuk sebagai upaya pencegahan DBD.

Semoga bermanfaat!

***

Referensi: Nusa Bali, Hello Sehat

Baca juga:

Demam berdarah renggut nyawa 8 anak di Blitar, peringatan untuk Parents!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner