TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Penuh kontroversi! Tren sosial media ini singung dan picu trauma korban kekerasan

Bacaan 5 menit
Penuh kontroversi! Tren sosial media ini singung dan picu trauma korban kekerasan

Riasan babak belur Mugshot Challenge dinilai bisa picu trauma dan menyinggung korban kekerasan.

Pandemi Virus Corona membuat kebanyakan orang hanya bisa menghabiskan waktu di rumah. Untuk mengatasi rasa bosan, salah satu aktivitas yang dilakukan adalah bermain media sosial hingga bemunculan beragam ‘tantangan’. Misalnya, Mugshot Challenge yang beberapa waktu belakangan ini jadi tren di media sosial.

Namun nyatanya, tren yang pertama kali muncul di situs TikTok ini terbilang kontrovesional. Pasalnya, riasan dalam tren ini dinilai menyinggung para korban kekerasan.

Artikel terkait: Jangan dilakukan! Bahaya TikTok ‘Skull Breaker Challenge’ bisa mengancam jiwa

Mugshot Challenge: Bisa picu trauma bagi korban kekerasan 

Mugshot challenge

Potret foto ‘Mugshot’ untuk catatan kriminal yang dilakukan pihak kepolisian| Foto: Shutterstock

Secara umum, partisipan dalam mugshot challenge ini ditantang untuk berdandan dengan riasan berantakan, seakan dirinya sedang babak belur. Beberapa orang bahkan menambahkan efek darah dan membuat wajah lebam agar riasan terasa begitu nyata.

Ide tantangan tersebut diambil dari foto mugshot. Ini merupakan sebutan dari  potret wajah seseorang yang digunakan untuk kepentingan formal, biasanya identik dengan kriminal yang dilakukan oleh pihak polisi.

Permainan tantangan make up ini pun menjadi tren ketika beauty influencer tersohor di Amerika bernama James Charles ikut serta. Setelahnya, para warganet pun ikut meramaikan jenis tantangan di ini di berbagai media seperti Twitter, TikTok, dan Instagram.

Sudah ada lebih dari 155 juta tagar #mugshotchallenge di media sosial TikTok sendiri. Beberapa video yang menampilkan tantangan ini juga disukai hampir setengah juta akun wargana net. Menandakan bahwa sudah banyak sekali orang yang ikut serta melakukan tren ini.

Menyinggung korban kekerasan

Mugshot challenge

Banyak orang beranggapan bahwa challenge ini terlihat menyenangkan dan seru. Namun, sebagian orang lainnya justru merasa jenis tantangan ini dinilai tidak pantas karena menyinggung mereka yang menjadi korban kekerasan. Baik pihak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, mengalami relationship abuse, maupun yang mengalami bullying di sekolah.

Selain dinilai tidak sensitif pada korban, jenis tantangan seperti mugshot challenge ini dapat memicu trauma bagi mereka yang mengalami kekerasan. Hal ini juga disampaikan oleh beberapa warganet yang merespon unggahan James Charles.

“Kau tahu, aku harus melakukan operasi hidung karena menjadi korban KDRT. Hingga sekarang, hidungku belum pulih. Dan aku ingat betul kekerasan yang aku dapatkan waktu itu. Jadi, jenis tantangan ini bukanlah suatu candaan dan bisa dianggap enteng. Seharusnya kamu lebih paham. Ini bisa menjadi pemicu dan menyinggung para korban,” tulis akun Twitter @Twinks_KS.

You know I had to have two nose surgeries due to domestic violence. My nose is still crooked. I am reminded of those moments every day. This is not a subject matter to take lightly. You should know better. You need to apologize to everyone. This is triggering and offensive. — Carrie Day (@TWiNKS_KS) April 6, 2020

Penuh kontroversi! Tren sosial media ini singung dan picu trauma korban kekerasan

Mugshot Challenge yang sempat diunggah James di akun Twitter miliknya

Artikel terkait: Mengenal ‘Gasligthing’ pelecehan psikologis dalam pernikahan, ini ciri dan cara mengadapinya

Menanggapi cuitan tersebut, James berkomentar, “Halo, maaf karena kamu telah melewati masa yang berat dan traumatis. Namun ini adalah tren TikTok, orang mengunggah foto ‘mugshot’ dan tidak ada hubungannya dalam kekerasan rumah tangga. Love you.”

Meski demikian, respon James juga ditanggapi kritis oleh banyak orang. Pasalnya, yang diunggah dalam tantangan lebih menunjukkan seseorang dalam keadaan babak belur daripada mugshot.

Sorry but this does not look like a mugshot, you have to know that. There’s no visual cue that it is and no caption. You have to at least understand that. You could of done something to make it clear. This just missed the mark personally as an explanation. — Madison Beard (@MadisonABeard) April 6, 2020

Karena menuai protes banyak orang, James pun menghapus unggahan mugshot challenge miliknya. Namun, masih banyak warganet lain yang tidak sensitif dan masih melakukan tantangan ini.

Mugshot Challenge adalah bentuk glorifikasi terhadap kekerasan

Mugshot challenge

Tidak hanya di Amerika, banyak warganet di Indonesia juga kerap turut serta mengunggah tantangan ini. Baik perempuan maupun laki-laki mengunggah mugshot challenge mereka di akun sosial media. Dilansiri dari Tempo, mereka bahkan menulis ‘korban kekerasan dalam rumah tangga’, ‘KDRT’, ‘aku jatuh cinta pada kriminal’, sebagai keterangan foto.

Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Siti Aminah Tardi menanggapi fenomena tantangan TikTok ini. Ia menilai, jenis tantangan ini tidak sensitif pada korban kekerasan. Ini memperlihatkan kekerasan sebagai sesuatu yang seolah dirayakan atau diglorifikasi.

“Menurut saya, tantangan tersebut tidak sensitif terhadap korban. Seakan-akan penganiayaan atau KDRT seolah dirayakan dengan ber-make up demikian,” ujar Siti seperti yang dilansir dari laman Tempo.

Tidak hanya itu, unggahan mugshot challenge juga berpotensi menghilangkan kepekaan terhadap bentuk kekerasan sesungguhnya. Karena menurutnya, bisa saja orang lain menjadi tidak percaya jika nanti ada korban yang mengunggah foto luka akibat kekerasan sesungguhnya di media sosial untuk meminta bantuan.

Lebih bijak dalam mengikuti tantangan di media sosial

Penuh kontroversi! Tren sosial media ini singung dan picu trauma korban kekerasan

Cerita mitra kami
Cetaphil Hadirkan Eksfoliasi Lembut untuk Kulit Sensitif Lewat “Smooth From First Serve”
Cetaphil Hadirkan Eksfoliasi Lembut untuk Kulit Sensitif Lewat “Smooth From First Serve”
Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
Perut Sehat, Anak Smart: Ini Manfaat Yogurt untuk Pencernaan dan Tumbuh Kembang Si Kecil!
Anak Aktif, Orang Tua Tenang:  Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
Anak Aktif, Orang Tua Tenang: Era Baru Rawat Luka dengan Betadine Bening Antiseptik
“Kumara Holiday Program" Kembali Hadir di Akhir Tahun Ini Program di Alam Terbuka untuk Anak Usia 2-12 Tahun
“Kumara Holiday Program" Kembali Hadir di Akhir Tahun Ini Program di Alam Terbuka untuk Anak Usia 2-12 Tahun

 

Siti juga memaparkan, jika bentuk tantangan ini sebenarnya tidak bisa dilarang. Namun, ia menganjurkan agar publik lebih peka dan mengontrol diri dalam mengikuti jenis tantangan di media sosial.

Masyarakat perlu berempati dan mempertimbangkan perasaan korban kekerasan. Sehingga Siti menyarankan agar warganet lebih bijak dalam mengikuti tantangan di media sosial.

“Dengan memilih tantangan yang tidak mengandung pembenaran terhadap kekerasan, berarti kita ikut andil dalam menghentikan budaya kekerasan,” pungkasnya.

Artikel terkait: Swakarantina berisiko timbulkan konflik dalam pernikahan, ini cara mengatasinya!

Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan, hingga tahun 2019 sudah ada 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini terbilang meningkat sebanyak 6 persen dari tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, mari kita bijak dalam mengikuti tantangan atau tren yang sedang ada di media sosial, ya, Parents. Tidak lupa, selalu bimbing si kecil dalam bermedia sosial juga. Sehingga ia bisa paham untuk tidak mengikuti jenis tantangan yang sekiranya menyinggung, kurang pantas, atau pun dapat membahayakan keselamatan dirinya sendiri.

***

Referensi: Tempo.co, Metro UK, Mashable SE Asia

Baca juga:

Pandemi corona bikin kasus KDRT meningkat tajam, begini cara mengatasinya!

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Shafa Nurnafisa

  • Halaman Depan
  • /
  • Berita Terkini
  • /
  • Penuh kontroversi! Tren sosial media ini singung dan picu trauma korban kekerasan
Bagikan:
  • Cetaphil Hadirkan Eksfoliasi Lembut untuk Kulit Sensitif Lewat “Smooth From First Serve”
    Cerita mitra kami

    Cetaphil Hadirkan Eksfoliasi Lembut untuk Kulit Sensitif Lewat “Smooth From First Serve”

  • Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

    Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

  • Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

    Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

  • Cetaphil Hadirkan Eksfoliasi Lembut untuk Kulit Sensitif Lewat “Smooth From First Serve”
    Cerita mitra kami

    Cetaphil Hadirkan Eksfoliasi Lembut untuk Kulit Sensitif Lewat “Smooth From First Serve”

  • Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

    Cara Lapor SPT Tahunan Lewat Coretax, Wajib Catat!

  • Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

    Apa Itu Child Grooming Modus Pelecehan pada Anak? Ini Kata Psikolog!

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti