TAP top app download banner
theAsianparent
theAsianparent
Panduan ProdukKeranjang
  • Kehamilan
  • Anak
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Nutrisi
  • Ayah manTAP!
  • Komunitas
  • VIP
  • Event
Masuk
    • Artikel
  • KehamilanKehamilan
  • AnakAnak
  • Perkembangan OtakPerkembangan Otak
  • Cari nama bayiCari nama bayi
  • Rangkaian EdukasiRangkaian Edukasi
  • TAPpediaTAPpedia
  • TAP RekomendasiTAP Rekomendasi
  • ParentingParenting
  • KesehatanKesehatan
  • Gaya HidupGaya Hidup
  • NutrisiNutrisi
  • Ayah manTAP!Ayah manTAP!
  • KomunitasKomunitas
  • VIPVIP
  • EventEvent
    • Komunitas
  • Jajak
  • Album
  • Makanan
  • Resep
  • Topik
  • Baca Artikel
    • Panduan
  • Pemantau Kehamilan
  • Pemantau Perkembangan Bayi
    • Hadiah
  • HadiahHadiah
  • Kontes
  • VIP ParentsVIP Parents
    • Lebih Banyak
  • Saran

Kebijakan PrivasiPedoman KomunitasPeta situs

Unduh aplikasi gratis kami

google play store
app store

Waspada Microtia, Kelainan Bawaan pada Telinga Bayi Baru Lahir

Bacaan 5 menit
Waspada Microtia, Kelainan Bawaan pada Telinga Bayi Baru Lahir

Berisiko mengganggu tumbuh kembang anak, waspadai mikrotia pada bayi baru lahir.

Menimang bayi yang terlahir sempurna tanpa kurang suatu apa tentu menjadi doa semua orangtua. Sayangnya, selalu ada kemungkinan bayi lahir dengan cacat bawaan atau dikenal dengan birth defects, seperti microtia. Microtia adalah suatu kondisi yang perlu Parents pahami. 

Microtia adalah Salah Satu Birth Defects

Mikrotia Pada Anak

Melansir laman resmi Center for Disease Control and Prevention (CDC), dijelaskan bahwa microtia adalah kelainan pada telinga bayi tepatnya pada telinga bagian luar. Mikrotia atau microtia  merupakan kondisi ketika telinga bayi berukuran lebih kecil dibanding bayi lainnya, atau telinganya tidak terbentuk dengan sempurna.

“Mikrotia berasal dari dua kata yaitu mikro yang artinya kecil dan otia berarti telinga. Berbeda dengan anotia, itu ketika bayi tidak memiliki daun telinga,” tutur dr. Jessica Fedriani, Sp.THT-KL saat diwawancarai theAsianparent beberapa waktu lalu.

Kepada theAsianparent, dr. Jessica mengungkap bahwa mikrotia umum terjadi pada 5.000-7.000 kelahiran. Di Indonesia sendiri, jumlahnya belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini dapat menimpa kedua telinga bayi. Faktanya, sekitar 90% kasus mikrotia hanya mengenai satu telinga saja sementara 10% dari kasus mikrotia terjadi pada kedua telinga.

Tipe Mikrotia pada Anak

Dijelaskan dr. Jessica Fedriani, ketidaksempurnaan pada telinga bayi ini terbagi menjadi 4 tipe antara lain:

  • Derajat 1, yaitu tingkatan yang paling ringan. Bayi dengan mikrotia level awal memiliki telinga berbentuk normal, namun ukurannya kecil
  • Derajat 2, bila terdapat 1-2 submit (bagian) telinga yang tidak terbentuk
  • Derajat 3 apabila anatomi bagian telinga tidak dapat diidentifikasi lagi
  • Derajat 4 merupakan tingkatan yang paling parah. Umumnya, bayi dengan derajat ini sudah tak lagi memiliki telinga bagian luar sama sekali atau anotia

Merujuk data CDC, belum diketahui mikrotia derajat berapa yang paling sering terjadi. Namun, biasanya mikrotia hanya dialami pada satu telinga saja. Kondisi ini biasanya sudah terdeteksi saat bayi lahir.

Bila Parents khawatir dapat melakukan CT scan atau CAT Scan yang akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai telinga bayi. Cara ini lebih efektif untuk dokter mendiagnosis tulang telinga dan struktur telinga anak secara keseluruhan.

dr. Jessica menuturkan bahwa pada banyak kasus, mikrotia sering disertai atresia liang telinga, yaitu tidak terbentuknya liang telinga. Selain itu, mikrotia juga sering kali diikuti gangguan pertumbuhan (malformasi) telinga tengah, khususnya bagian tulang pendengaran (maleus dan incus) yang mengakibatkan gangguan pendengaran (tuli konduksi).

Artikel terkait: Mengenal Tes Apgar Score sebagai Metode Penilaian Kesehatan Bayi Baru Lahir

Apa Penyebab Mikrotia pada Anak?

Mikrotia Pada Anak

 

Tidak bisa dipungkiri jika microtia adalah suatu kondisi yang dikhawatirkan terjadi pada si kecil. Sayangnya sampai saat ini belum diketahui apa penyebab mikrotia bisa terjadi pada bayi.

Namun, perubahan gen ditengarai menjadi faktor bayi mengalami cacat lahir ini, Kasus lain juga membuktikan mikrotia terjadi saat gen bayi abnormal sehingga mengarah pada sindrom genetik.

Di samping itu, beberapa hal ini juga dapat membuat bayi rentan terlahir dengan mikrotia:

  • Mengonsumsi obat yang mengandung isotretinoin saat hamil
  • Perempuan hamil yang menderita diabetes meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan mikrotia atau anotia
  • Diet rendah karbohidrat dan asam folat turut memperbesar risiko melahirkan bayi mikrotia
  • Stres
  • Pernah terinfeksi rubella pada trimester pertama kehamilan
  • Konsumsi minuman beralkohol

“Mikrotia juga lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki dibandingkan bayi perempuan, perbandingannya 65:35. Kondisi ini juga lebih sering ditemukan pada ras Asia dibandingkan ras lain di dunia,” sambung dr. Jessica.

Artikel terkait: Kelainan hygroma cystic pada bayi baru lahir, Bunda wajib tahu!

Penanganan Mikrotia

Mikrotia Pada Anak

Lantas, apakah mikrotia dapat dicegah? Tentunya bisa, yaitu ibu dianjurkan untuk memerhatikan asupan gizi sejak trimester pertama kehamilan. Sebisa mungkin, ibu memenuhi kebutuhan asam folat harian demi mencegah kelainan pembentukan janin.

Bila anak sudah mengalami mikrotia dan membutuhkan penanganan, langkah yang diambil bergantung pada tingkat keparahan kondisinya. Jika kelainan yang dialami bersifat ringan tanpa gangguan pendengaran, maka operasi tidak dibutuhkan. Operasi dianjurkan bila kelainan sudah cukup parah dan mengganggu fungsi pendengaran, bahkan menyebabkan tuli.

Lebih lanjut, dr. Jessica memaparkan metode operasi yang dapat dilakukan sebagai upaya penanganan mikrotia:

1. Cangkok Daun Telinga

Dalam prosedur ini, dokter akan mengambil tulang rawan iga pasien untuk membentuk daun telinga buatan. Selanjutnya daun telinga cangkokan ini akan ditempatkan di kulit telinga yang mengalami kelainan. Perlu digarisbawahi bahwa prosedur ini baru boleh dilakukan setelah anak telah mencapai rentang usia 6-8 tahun.

2. Pemasangan Telinga Prostetik

Telinga prostetik atau telinga palsu dapat dilakukan untuk memperbaiki estetika telinga anak. Sama halnya dengan telinga buatan yang dicangkok, ‘telinga buatan’ akan ditempelkan di area telinga yang memiliki kelainan.

Bedanya, pada prosedur ini telinga palsu ditempel menggunakan perekat medis atau sekrup khusus. Metode ini cocok bagi pasien yang tidak memungkinkan untuk menjalani cangkok telinga, atau bilamana prosedur cangkok gagal dilakukan.

3. Implan Alat Bantu Dengar

Pemasangan alat bantu dengar juga menjadi solusi bagi anak yang kondisinya tidak terlalu parah. Bila buah hati Anda masih memiliki saluran pendengaran di dalam telinganya, maka cara satu ini dapat membantu. Biasanya, dokter terlebih dulu akan melakukan tes pendengaran untuk mengetahui seberapa jauh keparahan gangguan pendengaran yang dialami anak.

“Pemberian alat bantu dengar ini penting agar tidak terjadi gangguan perkembangan anak. Bagi anak yang sudah bersekolah, orangtua perlu bicara dengan guru agar menempatkan anaknya di kelas menyesuaikan sisi telinga yang sehat. Hal ini agar anak dapat mengikuti pelajaran dengan baik,” pungkas dr. Jessica.

Di samping gangguan fungsi pendengaran, mikrotia sejatinya dapat menimbulkan gangguan psikologi sosial estetika bahkan tak menutup kemungkinan menghambat proses belajar anak. Anak juga bisa merasa tidak percaya diri dengan situasi yang ia alami. Deteksi dan pencegahan dini penting dilakukan orangtua untuk menghindari mikrotia pada anak.

Cerita mitra kami
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Butuh Penanganan Cepat Saat Anak Terus Muntah dan Lemas? Dokter Spesialis Anak Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Si Kecil Mual Muntah Berulang? Tak Perlu Cemas, Dokter Spesialis Anak Selalu Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Kuningan
Si Kecil Mual Muntah Berulang? Tak Perlu Cemas, Dokter Spesialis Anak Selalu Ada 24 Jam di Mayapada Hospital Kuningan
Bukan Hanya Gigitan - Biaya Tersembunyi Demam Berdarah untuk Keluarga di Indonesia
Bukan Hanya Gigitan - Biaya Tersembunyi Demam Berdarah untuk Keluarga di Indonesia
Kaum Sweet Tooth, Jangan Sampai Diabetes! Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya
Kaum Sweet Tooth, Jangan Sampai Diabetes! Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

Artikel telah ditinjau oleh:
dr.Gita PermataSari, MD
Dokter Umum dan Konsultan Laktasi

Baca juga:

Anensefali: Penyebab, Gejala, hingga Penanganan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Erinintyani Shabrina Ramadhini

Diedit oleh:

Adisty Titania

  • Halaman Depan
  • /
  • Penyakit
  • /
  • Waspada Microtia, Kelainan Bawaan pada Telinga Bayi Baru Lahir
Bagikan:
  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

  • 14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

    14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

  • Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

  • 4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

    4 Penyebab Bercak Putih pada Kulit Bayi, Tidak Selalu karena Panu!

  • 14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

    14 Penyakit yang Disebabkan oleh Virus, Ada HMPV hingga Nipah Virus

  • Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

    Apa Itu Penyakit GERD? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Beranda

Beranda

Dapatkan artikel seputar parenting, gaya hidup, opini pakar, di ujung jari Anda

Jajak

Jajak

Ikutan isi polling menarik, dan lihat apa yang orangtua lain pikirkan!

Album

Album

Bagikan foto orang-orang tersayang Anda di komunitas yang aman

Topik

Topik

Gabung di komunitas dengan sesama Bunda dan Ayah

Panduan

Panduan

Pantau kehamilan, dan juga perkembangan bayi Anda dari hari ke hari!

theAsianparent

Unduh aplikasi gratis kami

Google PlayApp Store

theAsianparent di seluruh dunia

Singapore flag
Singapore
Thailand flag
Thailand
Indonesia flag
Indonesia
Philippines flag
Philippines
Malaysia flag
Malaysia
Vietnam flag
Vietnam

Partner Brands

Rumah123VIP ParentsMama's ChoiceTAP Awards

© Copyright theAsianparent 2026 . All rights reserved

  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Syarat dan Ketentuan
  • Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti