Si Kecil Bertanya Soal Pemerkosaan Anak, Parents harus Bagaimana?

Setiap hari, selalu ada berita pemerkosaan anak ada di televisi. Ini cara jitu agar tetap tenang jika si kecil mulai bertanya tentang kasus pemerkosaan anak

Hampir setiap hari isu tentang pemerkosaan anak ada di televisi kita. Bagi keluarga yang sering menonton televisi bersama-sama di rumah, anak memiliki risiko ikut menonton tayangan televisi yang tidak sesuai dengan usianya.

Tak jarang, anak ikut bertanya tentang berbagai hal yang ia saksikan di televisi. Misalnya tentang kasus kriminalitas, sinetron, maupun berita seputar kriminalitas.

Selain soal kasus Yuyun, akhir-akhir ini juga ramai pemberitaan soal pemerkosaan anak di bawah umur yang dilakukan oleh Gatot Brajamusti berinisial CT. Selain itu, CT juga pernah dipaksa untuk aborsi. Gatot terjerat oleh UU Perlindungan anak.

Jika anak bertanya tentang berita tersebut, parents harus bagaimana?

Bagaimana menjelaskan pemerkosaan anak kepada si kecil?

Parents, jangan panik ketika si kecil bertanya soal pemerkosaan anak saat menonton tayangan televisi. Anda juga bisa memanfaatkan hal tersebut sebagai golden moment dengan mengajarkan kesehatan reproduksi pada anak.

Menurut Psikolog Vitria Lazzarimi Latief, M.Psi, jika si kecil mulai bertanya soal perkosaaan anak, tahap pertama yang harus dilakukan adalah bertanya balik kepada anak. Bisa dimulai dengan pertanyaan, apa yang ia pikirkan soal pemerkosaan? Kemudian, parents bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang hal tersebut.

Misalnya menjelaskan bahwa pemerkosaan adalah menyentuh bagian tubuh orang lain tanpa persetujuan. Beritahu anak mana saja tubuh pribadinya yang tidak boleh disentuh orang lain.

Sesuaikan informasi yang diberikan dengan usia anak. Parents tidak perlu memberikan penjelasan detil tentang bagaimana kejadian tersebut. Psikolog yang akrab disapa dengan sapaan Lia ini mengingatkan bahwa orangtua harus tetap tenang dalam menjawab pertanyaan anak.

Menghindari pertanyaan anak justru akan membuat rasa ingin tahu anak bertambah. Sebaiknya parents mulai membangun kepercayaan anak untuk mau bercerita apa saja tentang hal-hal yang membuatnya penasaran.

Jika parents menghindari pertanyaan anak, bisa jadi anak malah ketakutan untuk bertanya hal lainnya. Jangan sampai, akhirnya ia memutuskan untuk mencari informasi sendiri lewat internet maupun membahasnya dengan teman.

Bagaimana jika anak kita yang menjadi korban pemerkosaan atau pelecehan seksual? Simak di halaman selanjutnya..

Bagaimana jika anak jadi korban?

Sekalipun ada banyak kasus pemerkosaan anak di bawah umur di media, orangtua pasti akan tetap shock jika yang menjadi korban adalah anaknya sendiri. Jika hal ini terjadi, orangtua perlu menolong dirinya sendiri dulu dan hal itu adalah sesuatu yang tidak mudah.

Kebanyakan orangtua bisa jadi akan menyalahkan diri sendiri atau tidak sengaja menyalahkan anak. Psikolog dari Yayasan Pulih ini menyarankan bahwa orangtua harus mencoba menjadi yang dibutuhkan anak.

Anak korban kekerasan seksual membutuhkan rasa aman, pelukan, ucapan yang menenangkan, atau sekedar genggaman tangan. Saat anak ketakutan, anak tidak butuh ceramah dari orangtua, yang ia butuhkan adalah kehadiran dari orangtuanya.

Penting bagi orangtua untuk berusaha memahami jika anak mengalami perubahan perilaku anak karena dampak dari pemerkosaan itu. Kepercayaan diri anak akan terasa runtuh, kondisi emosi yang tidak stabil juga sering menyulitkan orang sekitarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kadang ketidakstabilan emosi korban itu sering disalahpahami orang tua, “ada beberapa kasus, di saat anak rewel karena dampak traumanya, orangtua justru berkata bahwa kerewelannya itulah yang membuatnya jadi korban. Maka dari itu, menjadi pendamping anak yang jadi korban pemerkosaan anak butuh kesiapan matang.”

Parents, tidak ada salahnya jika memulai pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini pada si kecil dengan mengenalkan organ pribadinya dan fungsinya. Jangan lupa untuk selalu mengajari cara membersihkan organ pribadi dan melindungi dirinya sendiri dari sentuhan orang asing.

Apakah Parents atau kerabat pernah mengalami pengalaman tersebut? Mari berbagi di kolom komentar.

 

Baca juga:

id-admin.theasianparent.com/aman-dari-pelecehan-seksual/