Deteksi kanker payudara lewat mamografi, begini cara pemeriksaannya. Benarkah menyakitkan?

lead image

Bagi Bunda yang belum pernah menjalani mamogram payudara, begini cara pemeriksaannya

Setelah melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), langkah lanjutan yang wajib Bunda lakukan untuk mendeteksi kanker lewat pemeriksaan mamografi payudara. Sudahkah Bunda melakukannya?

Tahukah Bunda, hingga saat ini kanker payudara saat masih menempati urutan pertama dari 10 kanker terbanyak yang dialami perempuan di Indonesia?

Bahkan, WHO memprediksi kalau tahun 2030 akan terjadi ledakan insiden penyakit kanker di negara berkembang, dan kanker payudara termasuk di dalamnya. Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker.

Deteksi kanker payudara lewat mamografi, begini cara pemeriksaannya. Benarkah menyakitkan?

Data Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) tahun 2016 menyebutkan kalau dari 2.515 yang melakukan pemeriksaan, ditemukan 1,2% hasil yang dicurigai tumor ganas dan 14,8% yang dicurigai tumor jinak. Sementara tahun 2017 lebih banyak lagi yang diperiksa mencapai 3.160 pasien.

Untuk itulah penting bagi Bunda untuk melakukan pemeriksaan secara berkala. Selain melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)  satu bulan sekali, penting bagi Bunda untuk melakukan pemeriksaan lanjutan dengan mamografi.

Kapan perlu melakukan pemeriksaan mamografi payudara?

Menurut American Cancer Society (ACS), wanita yang telah berumur 40 – 45 tahun direkomendasikan untuk mulai melakukan pemeriksaan mamografi payudara. Disarankan juga untuk melakukannya rutin setiap tahun.

Mamografi payudara memang lebih akurat dibandingkan USG untuk deteksi kanker payudara. Namun, bagi Bunda yang usianya masih di bawah 40 tahun dan tidak mempunyai riwayat kanker payudara, biasanya dokter akan merekomendasikan pemeriksaan USG untuk melihat kelainan yang terjadi.

Benarkah pemeriksaan mamografi payudara menyakitkan?

Bagi Bunda yang masih berada di usia produktif atau belum menopause, mamografi idealnya dilakukan pada hari pertama hingga hari ke-14 dari siklus menstruasi. Pada saat-saat tersebut jaringan payudara akan lunak dari biasanya.

Sedangkan satu minggu sebelum menstruasi, jaringan payudara akan lebih terasa padat. Bila dilakukan pada saat ini payudara lebih sensitif dan akan terasa lebih sakit.

Bagi Bunda yang belum pernah menjalani mamogram, begini cara pemeriksaannya. Setelah mengganti baju dengan pakaian khusus, Bunda akan akan diminta berdiri di depan mesin x-ray, di mana payudara akan diperiksa satu per satu.

Alat berupa pelat x-ray dan plastik x-ray tersambung ke mesin x-ray tadi dan ditempelkan di antara payudara Bunda. Selanjutnya, payudara Bunda akan ditekan.

Tujuannya, supaya bisa diperoleh gambar jaringan tisu yang lebih jelas. Proses penekanan payudara dilakukan dengan dua cara: pertama payudara akan dijepit dari atas dan bawah, kemudian payudara akan dijepit dari sisi samping kanan dan kiri.

Tekanan ini mau tak mau akan membuat payudara Bunda bak dicubit atau diremas. Tapi, tenang saja, ketidaknyamanan ini cuma berlangsung beberapa detik. Lagi pula, semakin datar payudara Bunda saat mamografi berlangsung, semakin baik pula kualitas gambar yang didapatkan.

Faktor risiko kanker payudara

dr.Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais menegaskan ada beberapa faktor risiko yang sering menyebabkan kanker payudara. Selain faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat menopuse di usia lebih dari 50 tahun, dan pengguna alat KB hormonal.

Baca juga : Mengenal gejala kanker payudara

Tidak hanya itu, dr. Martha melanjutkan, makin banyaknya pasien kanker payudara juga bisa disebabkan pola hidup tidak sehat. “Kasus kanker payudara meningkat karena makin banyak orang mengonsumsi fast food, mudah stres, jarang berolahraga, dan bekerja shift malam. Semua itu bisa memicu terjadinya kanker payudara,” papar dr Martha.

Ia pun menambahkan, “Mereka inilah yang paling disarankan rutin melakukan deteksi dini, termasuk yang pernah ada riwayat tumor jinak payudara”.

Gejala kanker payudara

Adapun beberapa gejala umum yang diketahui adanya benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama.

Sayangnya, dr. Martha menilai, hingga saat ini masih banyak wanita di Indonesia yang belum paham cara mendeteksi dini kanker payudara. Hal inilah yang akhirnya memicu tingginya angka penderita payudara.

Padahal jika kanker payudara bisa dideteksi dengan dini, maka tingkat kesembuhannya pun akan semakin besar.

Dalam rangka memperingati Hari Kanker Dunia, setiap 4 Februari, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan pemeriksaan mamografi gratis untuk para jurnalis yang dilakukan di kediaman Ketua YKPI, Linda Gumelar.

Linda Gumelar menjelaskan YKPI sudah rutin melakukan pemeriksaan mamografi gratis, sejak YKPI memiliki unit mamografi keliling tahun 2005 dengan bus kecil. Sejak 2015 unit mamografi YKPI sudah dilengkapi alat terbaru. Bus mamografi setiap minggu keliling ke Puskesmas-puskemas  di seluruh Jakarta, bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais.

Linda menambahkan, salah satu tujuan YKPI melakukan mamografi adalah untuk menekan kejadian kanker payudara metastasis stadium lanjut di tahun 2030.

“Kami mencoba mendorong upaya promotif dan preventif bahkan melakukan edukasi sampai ke sekolah-sekolah untuk remaja putri agar sejak dini mengetahui tentang pentingnya melakukan Sadari,” jelas Linda.

Perlu diketahui, pemeriksaan momografi yang dilakukan di dalam Bus yang disediakan YKPI menggunakan alat terbaru yang menyebabkan nyeri. Sebelum pemeriksaan mamografi dilakukan, dokter terlebih dahulu melakukan pemeriksaan payudara oleh dokter atau clinical breast examination (CBE).

Sudahkah Bunda melakukan pemeriksaan mamografi untuk mendeteksi kanker payudara?

Referensi: cancer.org

Baca juga:

Ibu ini Selamat dari Kanker Payudara Berkat Bayinya yang Tidak Mau Menyusu

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.