TAP top app download banner
theAsianparent Indonesia Logo
theAsianparent Indonesia Logo
kemendikbud logo
Panduan Produk
Keranjang
Masuk
  • Kehamilan
    • Kalkulator perkiraan kelahiran
    • Tips Kehamilan
    • Trimester Pertama
    • Trimester Kedua
    • Trimester Ketiga
    • Melahirkan
    • Menyusui
    • Kehilangan bayi
    • Project Sidekicks
  • Anak
    • Bayi Baru Lahir
    • Bayi
    • Balita
    • Prasekolah
    • Anak
    • Praremaja & Remaja
  • Perkembangan Otak
  • Cari nama bayi
  • Rangkaian Edukasi
    • Pengasuhan Anak
    • Edukasi Prasekolah
    • Edukasi Sekolah Dasar
    • Edukasi Remaja
  • TAPpedia
  • TAP Rekomendasi
  • Parenting
    • Keluarga
    • Doa Islami
    • Pernikahan
    • Seks
    • Berita Terkini
  • Kesehatan
    • COVID-19
    • Info Sehat
    • Penyakit
    • Vaksinasi
    • Kebugaran
  • Gaya Hidup
    • Korea Update
    • Hiburan
    • Travel
    • Fashion
    • Kebudayaan
    • Kecantikan
    • Keuangan
  • Nutrisi
    • Resep
    • Makanan & Minuman
    • Sarapan Bergizi
  • Ayah manTAP!
    • Kesehatan Ayah
    • Kehidupan Ayah
    • Aktivitas Ayah
    • Hobi
  • VIP
  • Event

Ibu ini menceritakan kisah anaknya, mulai dari di-bully hingga bisa bersahabat akrab

Bacaan 4 menit
Ibu ini menceritakan kisah anaknya, mulai dari di-bully hingga bisa bersahabat akrab

Seorang ibu berbagi kisah bullying yang pernah dilewati anaknya. Dengan penanganan yang tepat, bullying anak baru bisa dihentikan dan mereka kini justru bersahabat.

Menjadi anak baru di sebuah sekolah dengan kultur yang berbeda memang sering jadi target empuk bullying. Seorang ibu berbagi kisah tentang anaknya yang jadi korban bullying anak baru agar orangtua lain belajar dari pengalamannya.

Kisah bullying anak baru ini berawal dari kepindahan Lulu Basmah dan keluarga dari Turki ke Indonesia. Kedua anaknya memang tak lancar bahasa Indonesia dan lebih sering menggunakan bahasa Inggris.

Ternyata ini cukup memancing rasa iri hari teman-temannya di sekolah. Apalagi ketika bahasa Indonesia yang digunakan oleh Athira, anak pertama Lulu, mulai lancar sehingga mengerti apa yang disampaikan guru.

Ia meraih peringkat dua. Namun, bullying anak baru yang menimpanya juga semakin parah.

Lulu menuturkan kisah bullying anak baru yang diterima oleh Athira. Ia menulis sebuah status panjang yang hingga tulisan ini diturunkan sudah dibagikan oleh lebih dari 7000 akun di Facebook.

Berikut kisah bullying anak baru yang menimpa anak pertamanya.

Lulu belum menuliskan kisah bullying yang menimpa anak keduanya. Namun, 6000 followernya di Facebook senantiasa menanti updatenya.

Ia bersyukur karena Athira punya mental yang kuat saat dibully seperti apa pun. Justru saat ini, Athira bersahabat akrab dengan teman-temannya yang dulu membullynya.

Ada beberapa pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah bullying anak baru ini:

1. Peran orangtua 

Peran orangtua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Kisah bullying anak baru ini terjadi akibat anak-anak mendengar perbincangan orangtuanya yang menjelekkan orang lain.

Lulu mengingatkan para orangtua untuk tidak pernah membicarakan soal teman si anak di depan anak kita sendiri. Ia akan beranggapan temannya buruk dan boleh membullynya karena orangtua beranggapan demikian.

2. Ajari anak menyelesaikan masalahnya sendiri

Ajari anak-anak cara menyelesaikan masalahnya sendiri alih-alih mengadu. Pertemuan dengan orangtua tidak akan menyelesaikan permasalahan yang anak-anak hadapi saat tidak berada di depan orangtuanya.

3. Benarkah membalas bullying itu ajaran yang baik?

Nyatanya tidak seperti itu. Jika tubuh anak yang dibully lebih kuat, maka ia akan menyakiti temannya saat sedang membalas perbuatannya.

Jangan sampai, upaya membela diri justru akan membuat anak tersebut jadi pelaku penganiayaan kepada anak yang membullynya. Bisa-bisa, permasalahan bullying yang menimpanya akan makin panjang.

Belum lagi jika luka fisik yang menimpa si pembully itu cukup parah. Maka anak yang awalnya dibully ini akan makin sulit untuk mendapatkan keadilan yang harusya ia terima selama ini.

Memberi bekal ilmu bela diri memang penting. Tapi membangun dukungan sosial itu adalah yang utama.

Ajari anak untuk berani menghadapi bullying anak baru dengan memberitahu orang dewasa jika keadaannya memang sudah sangat keterlaluan. Sebagai orangtua, Parents wajib berteman dengan semua orang yang ada di lingkungan sekolah/kursus anak agar ada saksi mata yang dipercaya jika hal yang tidak diinginkan terjadi.

4. Ajari anak untuk mengapresiasi sesama

Jangan sampai anak Anda pelit memberikan apresiasi pada temannya. Jika ada yang punya nilai lebih bagus, ucapkan selamat dan ajari anak untuk bisa rendah hati belajar pada temannya yang lebih pintar.

Hal ini penting dilakukan agar tidak timbul perasaan iri pada temannya. Rasa iri yang dipelihara secara komunal dapat mengakibatkan bullying terhadap satu orang anak yang dianggap musuh bersama.

Artikel terkait: Anak suka memukul orang lain, salah siapa?

Sebaliknya, anak yang lebih unggul dalam prestasi di sekolah juga perlu untuk bersikap rendah hati agar sikapnya tak menyakiti yang lainnya. Perlu bimbingan orangtua dan guru untuk dapat mendidik anak yang berlapang dada terhadap prestasi temannya.

5. Jangan sepelekan bullying

Bullying secara verbal, mental, dan fisik sama-sama menghancurkan diri anak. Jika Anda menyepelekannya, anak-anak akan semakin bingung akan bercerita ke mana jika ia tertekan. Jangan dengan enteng bilang, ‘namanya juga anak-anak’ saat menghadapi bullying.

Hal itu akan membuat anak membentuk kebiasaan semena-mena terhadap orang lain karena aksi salahnya selama ini dimaklumi dan dibela. Biasakan untuk mengingatkan anak jika ia salah dan beri contoh minta maaf yang baik pada anak sekali pun Anda adalah orangtuanya.

Tidak ada orang yang pantas dibully. Tidak ada orang yang pantas melakukan bullying. Sebagai orangtua, Parents bisa mendidik anak seperti mendidik diri sendiri dengan tidak membully sesama sekalipun itu hanya komentar di sebuah Instagram belaka.

 

Baca juga:

9 Strategi Mengajari Anak Membela Diri saat Menghadapi Bullying (Perundungan)

Cerita mitra kami
Memberikan Sogokan untuk Anak, Boleh atau Tidak, Ya?
Memberikan Sogokan untuk Anak, Boleh atau Tidak, Ya?
Serunya theAsianparent on the Go 2025 di Bekasi, Banyak Talk Show Bermanfaat!
Serunya theAsianparent on the Go 2025 di Bekasi, Banyak Talk Show Bermanfaat!
MY BABY dan theAsianparent Indonesia Meriahkan Hari Ibu Lewat Acara Spesial 'Mari Rayakan Ibu'
MY BABY dan theAsianparent Indonesia Meriahkan Hari Ibu Lewat Acara Spesial 'Mari Rayakan Ibu'
Bangga jadi Bunda, Apresiasi Peran Penting untuk Keluarga
Bangga jadi Bunda, Apresiasi Peran Penting untuk Keluarga

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

img
Penulis

Syahar Banu

  • Halaman Depan
  • /
  • Keluarga
  • /
  • Ibu ini menceritakan kisah anaknya, mulai dari di-bully hingga bisa bersahabat akrab
Bagikan:
  • Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

    Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

  • Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

    Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

  • 20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

    20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

  • Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

    Niat Puasa Syaban Lengkap dan Amalan Lain yang Bisa Dilakukan

  • Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

    Sering Diucapkan saat Figur Publik Meninggal, Ini Arti Rest in Peace

  • 20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

    20 Arti Mimpi Hamil tapi Belum Menikah, Tanda Ada Kabar Baik!

Daftarkan email Anda sekarang untuk tahu apa kata para ahli di artikel kami!
  • Kehamilan
  • Tumbuh Kembang
  • Parenting
  • Kesehatan
  • Gaya Hidup
  • Home
  • TAP Komuniti
  • Beriklan Dengan Kami
  • Hubungi Kami
  • Jadilah Kontributor Kami
  • Tag Kesehatan


  • Singapore flag Singapore
  • Thailand flag Thailand
  • Indonesia flag Indonesia
  • Philippines flag Philippines
  • Malaysia flag Malaysia
  • Vietnam flag Vietnam
© Copyright theAsianparent 2026. All rights reserved
Tentang Kami|Tim Kami|Kebijakan Privasi|Syarat dan Ketentuan |Peta situs
  • Fitur
  • Artikel
  • Beranda
  • Jajak

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti

Kami menggunakan cookie agar Anda mendapatkan pengalaman terbaik. Pelajari LagiOke, Mengerti