Hasil Penelitian : Berbohong Itu Baik Untuk Perkembangan Anak

Hasil Penelitian : Berbohong Itu Baik Untuk Perkembangan Anak

Anak suka berbohong? Bisa jadi itu tanda ia anak yang cerdas

Apa yang Anda rasakan saat tahu anak telah berbohong pada Anda? Sedih, marah, kecewa dan segudang penyesalan lain pasti merasuki dada. Mungkin ada juga yang merasa gagal menjadi ibu karena anak berani-beraninya berbohong.

Simpan dulu kegalauan Anda, Bun, karena sebuah hasil penelitian terbaru menyatakan sebaliknya.

Artikel terkait : Apakah Perbedaan Menghukum Anak dengan Mendisiplinkan Anak?

Bernakah berbohong tanda anak cerdas?

berbohong

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Kang Lee, profesor psikologi University of Toronto, anak berbohong adalah sesuatu yang biasa dan bisa jadi tanda kecerdasan seorang anak.

Kesimpulan ini didapat setelah ia melakukan eksperimen theory of mind pada sekelompok anak preschooler (PAUD) di Tiongkok. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan 58 anak yang dibagi menjadi dua kelompok.

Lalu mereka menjalani beberapa tes terkait tingkat intelijensi, kemampuan berbohong dan executive function (atau EF, yaitu kemampuan otak untuk mengingat, membuat rencana dan menyelesaikan masalah).

Anak-anak di kelompok pertama mendapat pelatihan theory of mind (kemampuan kognitif seseorang untuk memahami orang lain).

Sedangkan anak-anak di kelompok kedua mendapat pelatihan menyelesaikan masalah terkait angka dan ruang (spasial). Hasilnya, anak-anak di kelompok theory of mind lebih pandai berbohong daripada anak-anak di kelompok kedua.

Dr. Lee mengatakan, ini tidak perlu dikhawatirkan karena anak yang pandai berbohong juga merupakan pertanda kepandaian anak dalam bidang lainnya.

“Anak berani berbohong setelah menimbang dua hal,” jelas Dr. Lee. “Anak-anak perlu mengetahui apa yang ada dan yang tidak ada di pikiran seseorang sebelum mereka mengucapkan kebohongan.

Kami menyebutnya sebagai kemampuan theory of mind. Seorang anak yang menguasai kemampuan ini akan menjadi seorang pembohong yang ‘baik’.”

Hal kedua adalah executive functions atau fungsi eksekutif dalam diri masing-masing anak. Fungsi ini membuat anak mampu ‘meramalkan’ apa yang akan terjadi jika ia berkata jujur.

Anak akan memilih berbohong ketika ia merasa berkata jujur hanya berdampak merugikan untuknya. Misalnya, dimarahi atau dihukum.

Dr. Lee memandang kemampuan ini sebagai kemajuan dalam hal kognitif. Artinya, anak yang mulai berkata bohong di usia 3 tahun bisa jadi lebih sukses di bidang akademik maupun pergaulan.

Semakin tambah umur, semakin sering anak bohong kepada Parents

berbohong

Menurut Dr. Lee, anak-anak yang menjadi dewasa sebelum waktunya telah mulai berkata bohong sejak awal kehidupan mereka.

Di usia 2 tahun, 30 persen dari mereka telah mulai bohong. Pada usia 3 tahun, separuh dari anak-anak ini telah terbiasa untuk bohong.

Jumlah itu meningkat drastis saat mereka berusia 4 tahun, yaitu sekitar 80 persen. Hampir semua anak golongan ini (anak-anak yang menjadi dewasa sebelum waktunya) berbohong ketika mereka berumur 5 hingga 7 tahun.

Sayangnya, hasil penelitian tidak mengungkapkan apakah kriteria yang menjadikan seorang anak menjadi dewasa sebelum waktunya.

Penelitian juga belum memutuskan kebohongan macam apa saja yang bisa ditolerir orangtua. Atau, apa dampak yang mungkin terjadi jika kita membiarkan anak berbohong sepanjang hidupnya.

Artikel terkait : Parents, memaksa anak meminta maaf tak baik bagi perkembangan mentalnya

Cara menanggapi saat Parents menyadari anak sedang bohong

berbohong

Di balik efek positif yang bisa naik raih dari bohong, tapi Parents juga harus waspada jika si kecil terlalu sering melakukannya, bahkan hingga menjadi kebiasaannya. Sebab, ada tindakan bohong yang buruk sehingga anak perlu mendapatkan konsekuensi.

Saat itu terjadi, tepat bagi Parents untuk memberikan konsekuensi tambahan untuk anak berbohong. Katakan kepada anak, “kamu tidak bisa main video game akhir pekan ini karena kamu tidak mengejakan tugas sekolah, dan karena kamu juga berbohong tentang itu, kamu juga tidak bisa menonton TV”. Salah satu contohnya seperti itu.

Selan itu, jadikan kejujuran sebagai prioritas utama di rumah agar si kecil tidak terbiasa untuk bohong. Buat suatu aturan yang menganjurkan anak untuk mengatakan hal yang sebenarnya, sehingga ia akan lebih cenderung menyadari tentang pentingnya bersikap jujur.

Parents, demikianlah informasi ini. Semoga informasi terkait kebiasaan bohong pada anak ini bisa memberikan manfaat bagi Parents semua.

Baca juga:

6 Tips Menghadapi Anak Suka Berbohong

Berbohong Bisa Membuat Kita Sakit-sakitan

Mengapa Anak Berbohong dan Bagaimana Mengatasinya?

Referensi: Parents

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner