Gingivostomatitis – Penyakit mulut akibat virus seperti sariawan bayi

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Jangan sampai salah diagnosa ya, Parents...

Beberapa anak punya penyakit gingivostomatitis yang sekilas mirip dengan sariawan sejak bayi. Sariawan bayi ini salah satunya diakibatkan virus di mulut yang membuatnya rewel.

Penyakit ini mirip dengan herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1) yang bisa kambuh sewaktu-waktu sepanjang hidupnya. Pada mulut bayi, lecet yang terjadi bisa sampai berdiameter 1-5 mm tergantung dengan kondisinya.

Artikel terkait: Herpes simplex pada anak-anak dan pasangan serta cara menanganinya.

Ciri Gingivostomatitis

  1. Luka ataupun lecet pada gusi (gingiva), di bagian dalam pipi, belakang mulut, amandel, lidah, maupun langit-langit lunaknya.
  2. Jika parah, gusinya bisa meradang dan mudah berdarah.
  3. Anak jadi lebih rewel.
  4. Air liur yang menetes jadi lebih banyak dari biasanya.
  5. Tidak nafsu makan dan minum banyak.
  6. Bau mulut.
  7. Demam tinggi (sampai 40 derajat Celcius).
  8. Kelenjar getah bening di sisi lehernya tampak bengkak dan empuk.

Jika salah satu penyebab gingivomatitis adalah virus yang sama dengan herpes simplex, maka kemungkinan daerah sekitar mata dan korneanya juga mengalami iritasi.

Matanya akan tampak berair, merah, dan bayi akan jadi lebih sensitif pada cahaya. Iritasi pada mata bayi ini juga bisa membuat mata bayi rusak permanen.

Komplikasi gingivomatitis pada mata bayi ini biasa disebut sebagai herpes simplex keratitis. Bila mengalami gejala seperti poin 1-8 ditambah dengan perubahan pada mata, maka sudah waktunya Parents membawanya ke dokter.

Cara mengatasi gingivostomatitis

Karena disebabkan oleh virus, maka antibiotik tak akan dapat mengatasi penyakit ini. Meski seiring dengan waktu penyakit ini akan menghilang dengan sendirinya, namun Parents perlu membantu bayi mengurangi rasa sakitnya.

Jangan sampai berat badannya berkurang drastis karena anak jadi malas makan. Anak yang rewel juga akan membuat Parents jadi lebih lelah dari biasanya.

Saat pergi ke dokter, Parents harus proaktif mengetahui jenis obat dan kegunaannya. Kemungkinan bayi akan diberikan asetaminofen atau ibuprofen untuk membantu menurunkan demam.

Jangan lupa memberikan informasi tentang usia bayi pada dokter, terutama jika usianya kurang dari 3 bulan. Usia bayi akan jadi pertimbangan dokter sebelum meresepkan obat penghilang rasa sakit.

Bila bayi pusing, jangan berikan aspirin pada anak di bawah 20 tahun. Pemberian aspirin dini bisa memicu penyakit langka tapi berbahaya yang disebut sindrom Reye.

Usahakan untuk memberinya makanan halus yang mudah ditelan. Makanan padat akan membuat mulutnya makin kesakitan.

Meski bayi enggan minum karena susah menelan, Anda harus memastikan cairan di dalam tubuhnya tidak berkurang sehingga ia terhindar dari dehidrasi.

Artikel terkait: Tanda dehidrasi pada bayi dan cara mencegahnya.

Pencegahan

Sebenarnya, gingivostomatitis tak dapat diantisipasi karena sebagian dari kita memang memiliki virus herpes. Bahkan, herpes tersebut kadang tak menampakkan ciri apapun.

Yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah menjauhkan bayi dari orang yang sedang terinfeksi herpes, membersihkan mainan bayi dan lingkungan sekitar agar steril dari berbagai virus, mencegah setiap orang mencium mulut bayi, dan tidak berbagi makanan dengan bayi yang sedang terinveksi virus apapun.

Jangan lupa konsultasi lebih lanjut dengan dokter dan catat baik-baik kronologinya. Jangan sampai salah diagnosis karena herpangina pun memiliki gejala yang mirip dengan gingivostomatitis ini.

Sekalipun virus ini bersarang di tubuh bayi selamanya, Anda tak perlu khawatir. Gejala paling parah yang akan dialami bayi adalah pada saat pertama kali ia terinfeksi.

Jika ia terinfeksi lagi saat dewasa nanti, rasanya tak akan semenyakitkan saat pertama kali. Penyakit ini juga tak mengancam nyawa.

Tetap tenang dan jaga kesehatan Anda saat sedang merawat bayi sakit. Karena sesungguhnya yang paling membuat ia cepat sembuh adalah cinta Anda padanya.

Referensi: Baby Center, Heatlh Line, NBCL.

 

Baca juga:

Herpangina, penyakit pada Bayi dan Anak yang membuatnya susah makan





Kesehatan ibu dan anak