15 Cara untuk Mengurangi Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) Pada Anak

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Gangguan kecemasan yang terjadi pada anak akan sangat berdampak pada kesehatan mentalnya saat dewasa nanti. Terapkan 15 cara ini untuk membantunya.

Kesehatan mental sangat berperan dalam menentukan masa depannya. Salah satu yang sering membuat mental anak terganggu adalah hal yang menyangkut gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Jika anak mengalami kecemasan pada saat-saat tertentu, maka itu masih normal. Yang perlu dianggap lebih serius lagi adakah jika ia mengalami gangguan kecemasan terus menerus tanpa sebab yang pasti.

Biasanya, rasa cemas pada penderita gangguan kecemasan bukanlah karena sedang terjadi sesuatu saat ini, melainkan, ia cemas karena memikirkan masa lalu maupun masa depan.

Berikut ini, kami sajikan 32 metode untuk membantu anak mengatasi gangguan kecemasannya.

1. Menulis di kertas dan kemudian membuangnya

Minta anak untuk menulis kecemasan-dan ketakutan-ketakutannya pada selembar kertas. Kemudian, bung kertas itu jauh-jauh. Secara psikologis, aktivitas fisik akan mempengaruhi pikirannya bahwa ia memang sudah membuang pikiran negatif tersebut jauh-jauh.

2. Menulis jurnal tentang kekhawatiran.

Menulis secara rutin tentang kecemasan-kecemasan yang terjadi pada diri anak akan membuatnya merasa lebih baik. Saat awal-awal melakukannya, ia mungkin akan merasa semakin tertekan dan makin menghayati kesedihannya.

Namun, jika itu rutin dilakukan, maka ia akan merasa lebih baik karena menyalurkan pikirannya dalam tulisan. Selain itu, anak juga bisa belajar kecakapan menulis, siapa tahu, suatu hari ia akan jadi penulis besar.

3. Buat jadwal khusus soal “waktu khawatir.”

Gunakan 10-15 menit setiap harinya untuk membuat waktu khusus khawatir. Minta ia mengungkapkan apa yang membuatnya khawatir.

Setelah waktu 10-15 menit itu selesai, minta ia membayangkan bahwa kekhawatiran-kekhawatirannya tersebut sudah disimpan rapat-rapat di tempat yang aman. Sehingga tak seorang pun bias membukanya.

Selesai sesi, katakan padanya bahwa kekhawatirannya sudah disimpan rapat-rapat dan ia bisa menjalani hari tanpa rasa khawatir sama sekali.

4. Tulis surat untuk diri sendiri

Dr Kristen Neff, seorang profesor di Universitas Texas, Austin, dan pelopor dalam bidang menyayangi diri sendiri, menciptakan sebuah latihan di mana seseorang diminta untuk menulis surat. Di dalam surat anak berperan sebagai seseorang yang sedang menenangkan sahabatnya.

Dari latihan ini mereka mampu memeriksa diri dan situasi mereka secara objektif dan menerapkan tingkat kasih sayang kepada diri mereka sendiri. Lama kelamaan, biasakan diri, setiap kali cemas, minta anak untuk menulis surat yang berawalan dengan kata, “Dear, diriku sendiri….”

5. Membuat “boneka cemas”

Cobalah untuk membuat boneka cemas untuknya. Saat ia sedang cemas, maka itu adalah waktu yang tepat untuknya untuk melakukan dialog imajiner dengan bonekanya.

Pada awalnya, ia akan curhat dengan boneka tersebut. Setelahnya, minta anak untuk menasehati bonekanya tersebut agar “boneka cemas” nya berhenti cemas. Lakukan ini secara rutin.

6. Mengakui bahwa pengalaman yang dirasakan itu tidak akurat

Psikolog Aaron Beck mengembangkan teori dalam terapi perilaku yang dikenal sebagai “distorsi kognitif.” Sederhananya, ini adalah pesan dari pikiran kita yang mengatakan bahwa apa yang kita pikirkan adalah hal yang belum terjadi atau hal yang tidak benar.

Ajari anak untuk mengenal pikirannya sendiri. Yaitu dengan menganalisa mana pikiran yang sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, mana pikiran yang hanya bayangannya saja.

Berikut ini bentuk kecemasan anak:

  • Menyaring mental: Anak akan lebih memikirkan hal negatif tentang sesuatu daripada hal positifnya.
  • Membesar-besarkan masalah: Anak akan merasa bahwa hal negatif yang ada terlalu besar hingga sulit melawannya.
  • Mengecilkan kebaikan: Anak akan merasa bahwa hal positif yang ada padanya sangat sedikit. Sehingga ia gagal melihat hal baik di sekitarnya.
  • Personalisasi: Anak akan menyalahkan diri sendiri, sekalipun ia bukanlah penyebab sebuah kesalahan.
  • Eksternalisasi: Anak akan bersikap menyalahkan orang lain sebagai penyebab kecemasan atau kegagalan sekalipun sebenarnya ia lah penyebab sebuah kesalahan terjadi.
  • Menyamaratakan kejadian: Anak akan berpikir bahwa suatu hari pola ini akan terjadi lagi, semua orang akan mengecewakan dia, dan dia akan gagal lagi.
  • Terlalu emosional: Anak akan berpikir bahwa emosi negatifnya akan benar-benar terjadi di dunia nyata dan mulai bingung membedakan mana yang fakta dan mana yang khayalan.

7. Memahami pangkal kecemasan

Kecemasan akan berdampak pada reaksi tubuh kita. Kecemasan tetap penting dimiliki oleh tubuh kita agar waspada pada bahaya yang akan terjadi.

Ajari anak untuk memahami bahwa kecemasan adalah hal yang wajar. Katakan padanya untuk mengaktifkan kecemasannya pada peristiwa nyata yang logis baginya.

Halaman selanjutnya: Libatkan gerakan fisik sederhana untuk mengurangi cemas anak.





Better Parenting