Kisah Istri Cacar Air Saat Hamil, Suami: “Jangan Anggap Sepele”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Cacar air saat hamil bukan hal sepele. Suami yang tinggal di Kalisat, Jember ini membagikan kisah istrinya yang cacar air saat hamil agar orang lain waspada.

Tak banyak orang yang mengetahui akibat dari cacar air saat hamil. Banyak orang menganggap cacar air akan sembuh dengan sendirinya setelah istirahat dan minum obat.

Salah satu orang yang beranggapan seperti di atas adalah Rendra Sasongko Adi. Ia tak pernah mengira bahwa virus cacar air yang biasa dialami oleh banyak orang ternyata berdampak begitu besar terhadap janin yang dikandung istrinya.

Setelah kehamilan pertamanya mengalami keguguran, akhirnya sang istri hamil kembali. Pada kehamilan kedua ini, istri sempat mengalami cacar air sebelum masa kehamilan.

Ketika itu tubuh istrinya sedang drop sehingga mudah terserang virus cacar. Walau sudah pernah mendapat vaksin cacar sebelumnya, namun sang istri yang bernama Dinarti Yuliandini ini belum pernah terserang cacar.

Meski sang istri tampak sudah sembuh, rupanya virus tersebut masih bersarang pada tubuh istrinya sehingga dokter menyatakan bahwa sang istri masih terpapar cacar air saat hamil.

Rendra dan Dinarti saat merayakan ulang tahun anak mereka yang kedua

Lewat sebuah akun Facebook Sudut Kalisat, ia membagikan kisah perjuangan bersama istri melawan cacar air saat hamil yang merenggut nyawa anak yang sedang dikandungnya.

BAHAYA CACAR AIR BAGI IBU HAMIL

Admin Fanpage Sudut Kalisat yang baik, terima kasih telah mengundang saya untuk menulis di sini. Perkenalkan nama saya Rendra Sasongko Adi, saya dari kecamatan Sukowono, Jember. Istri saya bernama Dinarti Yuliandini. Kami menikah pada 16 Desember 2012 di Jatiroto, Lumajang.

Sebagaimana pasutri yang lain, kami pun mendambakan hadirnya buah hati. Namun sayang, di kehamilannya yang pertama, istri saya mengalami keguguran.

Kami bersedih bersama-sama. Namun detik terus berjalan, tak peduli apakah kami berdua terjebak kesedihan atau tidak. Maka kami segera bangkit menatap kehidupan. Apapun yang terjadi, kami yakin Tuhan punya maksud lain yang lebih indah, yang batas nalar kami tak bisa menggapainya.

Kebahagiaan itu datang lagi ketika istri saya kembali hamil. Alhamdulillah.

Sebelum hamil, istri saya kena cacar. Tapi saat ia hamil, kami berdua merasa baik-baik saja, berpikir bahwa virus di dalam tubuhnya benar-benar bersih. Rupanya kami keliru. Bila orang dewasa kena cacar, ia akan lebih sulit sembuh. Berbeda dengan anak kecil ketika terkena virus cacar.

Saat dewasa dan terkena virus cacar air, kelak bila telah sembuh tapi virus masih tersisa di tubuh, di lain waktu akan menimbulkan herpes (herpes zoster) atau kerapah. Iya benar, keduanya disebabkan oleh virus yang sama. Justru yang berbeda adalah campak. Antara cacar air dan campak, ditimbulkan oleh virus yang berbeda.

Kembali ke proses kehamilan kedua istri saya. Waktu aman --setelah sembuh dari cacar-- untuk program hamil tiga sampai enam bulan. Jadi sebelum masa itu istri sudah hamil duluan.

Virus cacar kemungkinan besar masih belum bersih. Bila usia kehamilan masih trimester pertama, biasanya pihak medis tidak menyarankan untuk melanjutkan kehamilan, sebab di masa itu janin sedang mengalami proses pembentukan organ-organ penting, dan virus cacar air bikin cacat bawaan pada janin.

Tapi karena istri saya telah merasa sembuh dari cacar air --seperti perasaan orang dewasa yang telah merasa sembuh dari virus cacar hanya karena gatalnya telah mengelupas padahal itu justru masa dimana virus butuh tubuh lain untuk tempat singgahnya-- maka kami tenang-tenang saja.

Untuk yang lain, umum-umum saja. Harapan ke bayi ya sama seperti umumnya pasangan yang berharap memiliki buah hati. Tak ada perasaan apapun di kehamilan kedua ini, kehamilan yang kami nanti-nantikan.

Lagi-lagi, rupanya kami keliru. Istri saya masih belum benar-benar bersih dari virus cacar air.

Bayi kami meninggal di dalam kandungan ketika berumur kira-kira 6,5 bulan. Dampak virus cacar ke bayi saya itu, tumbuh semacam tumor di leher bagian belakangnya, besarnya melebihi besar kepalanya.

Tumor tumbuh di kedua sisi leher bagian belakang. Saya tak tega ketika menggendongnya, ketika istri saya memaksa saya untuk memperlihatkan buah hati kami yang tak lagi bernyawa.

Mohon maaf saya tak sanggup menceritakan lebih rinci lagi tentang kondisi buah hati kami, serta kondisi kesedihan kami di saat itu.

Nama anak saya yang meninggal itu, Ainun Mahya. Artinya, mata yang bersinar.

Demikian admin yang baik, kisah yang pernah kami alami terkait bahaya virus cacar air terhadap Ibu hamil.

Bila ada di antara Anda yang orang-orang terdekatnya sedang terdampak virus cacar air ketika sedang hamil, saran saya, segera periksakan ke pihak medis. Jika telah melewati trimester pertama, proses kehamilan (mungkin akan) dilanjutkan.

Dokter akan memberi bumil vitamin reguler, imunos, serta salep. Demikian sepengetahuan saya. Semoga apa yang saya ceritakan di atas dapat memberi manfaat, dan justru membuat orang-orang tersayang di sekitar hidup bumil menjadi siaga, bukan malah takut. Terima kasih, mohon maaf bila ada salah kata. Mohon maaf lahir dan batin."

*Kini kami telah dikaruniai momongan, gadis kecil cantik dengan panggilan sayang, Hanin. Nama lengkapnya, Hanindira Prameswari. Ia lahir pada 13 Juni 2015. Syukur Alhamdulillah.

Salam saya, Rendra Sasongko Adi

Saat sedang hamil kedua, Rendra bercerita bahwa suhu badan Dinarti sangat tinggi. Selain itu, muncul bintik kemerahan dan gelembung air pada bintik-bintik tersebut.

Namun, selama masa kehamilan kedua itu, mereka tidak pernah kontrol ke dokter kandungan. Ia dan istri hanya menggunakan jasa bidan setempat setiap bulannya.

Dinarti Yuliandini saat kehamilan ketiga.

"Setiap kami kontrol kandungan, bidan menyatakan kondisi janin baik-baik saja, detak jantung janin selalu terdeteksi. Ketika kontrol untuk ke tujuh kalinya, detak jantung janin tidak bisa terdeteksi."

Kemudian, bidan menyarankan suami istri yang tinggal di Jember ini untuk pergi ke dokter kandungan dan melakukan USG. Ternyata, bayinya dinyatakan telah meninggal dunia dua minggu sebelumnya.

Bahkan, mulai terjadi proses pengapuran di dinding rahim dan air ketuban yang mulai keruh. "Jadi perkiraan bayi kami meninggal kira-kira di usia kandungan 6 bulan 2 minggu."

Kejadian tersebut membuatnya mengingat-ingat kembali kejadian dua minggu sebelumnya. Ia ingat bahwa suatu hari istri merasa meriang seperti masuk angin disertai muntah-muntah.

Gejala tersebut sembuh setelah menggunakan metode tradisional yaitu kerokan.

"Namun, hari-hari selanjutnya istri merasa ada yang aneh. Perutnya serasa sedikit mengecil, janin tidak bergerak, kecuali saat miring ke kanan atau ke kiri, janinnya juga terasa bergerak ke arah yang sama. Tidak ada kecurigaan apa pun."

Ia menilai bahwa justru inilah masalahnya. Perubahan sekecil apa pun yang dirasakan, ibu hamil seharusnya segera memeriksakan kandungannya.

Semasa program hamil untuk ketiga kalinya, dokter kandungan menyarankan untuk konsumsi multivitamin yang dapat membantu menjaga kondisi tubuh. "Selebihnya tidak ada persiapan khusus, kecuali berdoa," ujar Rendra menutup pembicaraan.

Yudhistya Ngudi Insan Ksyatria, dr, SpOG menanggapi kasus ini dengan menyarankan para ibu untuk melakukan imunisasi Varicella sebelum hamil.

Artikel terkait: Cegah Virus pada Kehamilan dengan Vaksin

Yudhistya Ngudi Insan Ksyatria, dr, SpOG

Bila sang ibu sudah terlanjur kena cacar air saat hamil, dokter Yudhis menyarankan untuk menggunakan obat antivirus atau imunoglobulin. "Untuk anaknya, kita berdoa saja. Kemungkinan besar anaknya akan baik-baik saja, tapi kemungkinan kecil anaknya akan mengalami serangan Varicella dalam kandungan."

Menurut dokter Yudhis, ada perbedaan bila ibu terkena cacar air saat hamil di trimester pertama dan ketiga. Pada trimester pertama kehamilan, peluang virus menular ke janin lebih kecil, meski bila akhirnya tertular efeknya justru lebih fatal.

Sedangkan, di trimester ketiga,  peluang menular ke janin lebih besar. "Tapi efek untuk janin tidak begitu fatal. Walau tetap saja perlu perhatian dokter anak."

Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya tidak semua ibu yang cacar saat hamil, maka otomatis bayinya akan kena penyakit ini.

Cacar air saat hamil memang bukanlah sebuah kondisi yang diinginkan semua orang. Oleh karena itu, pencegahan dini dan konsultasi ke dokter adalah cara terbaik dalam menangani kondisi ini.

Semoga mereka yang terkena cacar air saat hamil dapat menemukan solusi yang tepat atas penyakitnya.

Baca juga:

Waspadai Rubella (Campak Jerman) Pada Ibu Hamil dan Anak-anak

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Hamil Kesehatan Kisah Mengharukan