Bisakah Bayi Menyusu pada Payudara Puting Rata?

Bisakah Bayi Menyusu pada Payudara Puting Rata?

Saya terlahir dengan payudara puting rata. Kini anak kami sudah menginjak bulan ke 13, dan masih menyusu pada saya.

Bisakah bayi menyusu pada payudara puting rata?

Saya terlahir dengan payudara puting rata. Kini anak kami sudah menginjak bulan ke 13, dan masih menyusu pada saya. Anak kami, Kembang Forsythia, lahir pada 23 September 2014 di sebuah klinik bersalin di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Ia kurang beruntung karena terlahir dari ibu dengan payudara puting rata (flat nipple). Selama kehamilan saya memang tidak mencari tahu teknik menyusui dengan puting rata. Akibatnya setelah persalinan saya kagok menyusui.

Bayi saya mulai rewel

Meski saya tahu bahwa bayi masih akan bertahan 72 jam setelah lahir tanpa disusui, saya khawatir ia akan rewel.

Benar saja, Kembang rewel dan tangisnya nyaring sekali, tidak seperti bayi lainnya.

Saya panik. Karena saya dan suami sudah sepakat akan memberikan ASI eksklusif pada anak kami.

Salah satu perawat di klinik mengajarkan saya untuk pijat payudara agar ASI cepat keluar. Setelah dipijat 5-10 menit, ASI keluar setetes demi setetes dan segera disuapkan dengan sendok kecil pada Kembang.

Sehari semalam di klinik, kami dibolehkan pulang. Di sini perjuangan saya dan suami dimulai.


Perjuangan memberi ASI dimulai

Jika di klinik ada bidan dan perawat yang bantu menenangkan Kembang yang menangis histeris, kini saya hanya bisa mengandalkan suami.

Setiap satu jam, saya perah ASI dengan tangan. Tak sempat distok karena setiap dua jam, Kembang akan bangun untuk minum ASI.

Saat itu saya menyesal sekali tak mencari tahu dari awal perihal menyusui dengan payudara puting rata ini.

Seminggu setelah lahir, Kembang masih minum ASI perahan. Setenggak demi setenggak.


BB turun dan nyaris kuning

Saat kontrol pertama, beratnya turun 2 ons dari berat lahir, 2,9 kilogram. Dokter anak yang kami datangi mewanti-wanti, karena ada kemungkinan Kembang kekurangan bilirubin, atau biasa dikenal dengan bayi kuning.

Saya langsung khawatir berlebihan dan hampir menangis. Bagaimanapun ini tanggung jawab saya sebagai ibunya.

Meskipun suami sangat mendukung saya, namun suami tentu tak bisa menyusui anak.

Saya tak mau menyerah

Sekitar sebulan pertama saya terus pompa ASI, kadang dengan tangan, kadang dengan pompa ASI manual. Seringkali tangan saya kebas dan pegal.

ASI yang diperah selama satu jam, hanya untuk membasahi pantat cangkir dan ditenggak dalam hitungan detik.

Kadang saya sampai menangis. Namun melihat suami begitu sabar menggendong anak, saya kembali tenang. Saya berpikir ini pasti akan segera berlalu.


Bertemu bidan senior

Saat kontrol kedua, Kembang sempat demam. Dokter tempat kami konsultasi mempertemukan saya dengan seorang bidan senior.

Saya bilang saya sudah coba berbagai cara mengeluarkan puting. Mulai dari pijat, hingga modifikasi suntikan spuit 10 cc. Meski sakit, saya tahan asal puting bisa keluar.

Ia mengajarkan saya menyusui dengan benar. Menyusui bukan dengan puting, tapi dengan areola.

Menurutnya tak masalah menyusui dengan payudara puting rata. Yang penting bayi bisa menghisap. Dan alat yang paling mujarab untuk mengeluarkan puting adalah hisapan dari mulut bayi itu sendiri.

Benar saja, sesampainya di rumah saya sedikit “memaksa” Kembang untuk menyusu langsung dari payudara puting rata ini.

Awalnya ia menangis dan gelagapan. Namun, tak lama ia terbiasa dan menyusu dengan baik. Selamat tinggal tangan kebas!


Akhirnya…

Hingga hampir dua bulan, Kembang menyusu pada payudara puting rata ini.

Perlahan puting saya payudara mulai keluar. Awalnya kecil, lalu normal seperti payudara perempuan lainnya.

Kesalahan saya adalah, saya terlalu cepat puas. Saat Kembang sudah biasa menyusu dengan payudara kanan yang sudah ada putingnya, saya tidak telaten melatihnya dengan payudara kiri yang masih tanpa puting.

Akibatnya, hingga kini, Kembang telah lewat satu tahun, ia hanya menyusu dengan satu payudara kanan. Sementara payudara kiri saya tetap tanpa puting dan ASI mulai berhenti.

Meskipun kebutuhan nutrisinya terpenuhi dengan satu payudara, akibatnya salah satu payudara lebih besar dari lainnya. Ini pelajaran berharga bagi saya.

Jika kelak Kembang punya adik, saya harus lebih berusaha keras untuk memaksimalkan pemberian ASI pada anak. Semoga Anda belajar dari kisah saya, dan tidak mengulangi kesalahan saya. Semangat ngASI, ibu dengan payudara puting rata!

Baca juga artikel menarik lainnya:

Kisah Inspiratif yang Perlu Dibaca Setiap Ibu Menyusui

11 Alasan Mengapa Menyusui Itu Luar Biasa

9 Cara Memperbanyak ASI Secara Alami

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.
app info
get app banner