Penelitian: Bidan Dapat Mengalami PTSD Setelah Menyaksikan Persalinan yang Traumatis

Penelitian: Bidan Dapat Mengalami PTSD Setelah Menyaksikan Persalinan yang Traumatis

Sebuah studi di Autralia menunjukkan bahwa banyak bidan yang menampakkan gejala stres pasca trauma (Post traumatic disorder) setelah menyaksikan proses persalinan traumatis.

Mempertaruhkan nyawa saat berusaha mengeluarkan seorang manusia ke dunia, merupakan pengalaman yang memengaruhi mental dan psikologis seorang perempuan selamanya. Tak jarang, seorang ibu butuh waktu lama untuk pulih dari pengalaman persalinan yang traumatis.

Selain ibu yang melahirkan, bidan atau perawat yang ikut membantu proses persalinan juga bisa mengalami trauma. Sebuah penelitian yang dilakukan di Australia pada tahun 2016 mengonfirmasi hal ini.

Melansir dari laman rcm.org.uk, satu dari lima orang bidan yang disurvey mengalami gangguan stres pasca trauma (post traumatic stress disorder/PTSD).

Penelitian: Bidan Dapat Mengalami PTSD Setelah Menyaksikan Persalinan yang Traumatis

Penelitian ini dilakukan pada berbagai jenis perawatan kesehatan yang melibatkan proses persalinan dan penanganan ibu beserta bayi setelah melahirkan. Total bidan yang mereka survey sebanyak 707 orang.

Para bidan tersebut diberikan pertanyaan menyangkut pekerjaan mereka sebagai bidan, dan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri pada saat menghadapi proses persalinan yang traumatis.

Professor Jenny Gamble dari Institut Kesehatan Menzies di Queensland, mengatakan,”Kami menanyakan berbagai pertanyaan pada para bidan tersebut, karena kami ingin mendapatkan kompetensi perasaan mereka saat mereka menghadapi momen yang berpotensi membuat stres.”

Hasilnya, 67,2% bidan yang disurvey melaporkan bahwa mereka menyaksikan proses persalinan yang traumatis, termasuk saat mereka memberikan pelayanan pada kerabat mereka sendiri.

Para bidan mengingat perasaan emosional yang kuat selama proses persalinan, atau tidak lama setelahnya. Seperti perasaan takut (74,8%) dan perasaan bersalah (65,3%) atas apa yang menimpa wanita yang mereka bantu melahirkan.

Jumlah total bidan yang memenuhi kriteria kemungkinan mengidap PTSD adalah sebanyak 17%.

Bidan ternyata memiliki beban psikologi yang tinggi saat melihat proses persalinan yang traumatis. Terutama menyangkut penanganan medis yang diterima ibu setelah melahirkan.

Penelitian yang dipublikasikan pada Journal Women and Birth ini mengungkapkan, bahwa proses persalinan traumatis yang dialami oleh perempuan dan disaksikan oleh bidan harus dikurangi.

Anda dapat meminta bantuan bidan untuk memberi pijatan atau melakukan hal lain untuk mengurangi rasa sakit akibat kontraksi menjelang persalinan.

Anda dapat meminta bantuan bidan untuk memberi pijatan atau melakukan hal lain untuk mengurangi rasa sakit akibat kontraksi menjelang persalinan.

Di Inggris juga sedang dilakukan penelitian mengenai hal ini, setidaknya satu dari 20 bidan menunjukkan gejala-gejala PTSD.

Pengalaman traumatis yang dialami oleh bidan bersumber dari penanganan tenaga medis lain yang kurang telaten, hingga menyebabkan ibu atau bayi mengalami masalah kesehatan, bahkan meninggal.

Profesor Jenny Gamble dari Universitas Griffith mengungkapkan kepada abc.net.au, “Para bidan merasa tak berdaya dengan cara penanganan medis yang diberikan pada ibu yang melahirkan dan perawatan mereka setelahnya.”

Melahirkan bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh seorang ibu, karena itu sepatutnya ia mendapatkan penanganan medis yang benar. Namun beberapa rumah sakit kadang mengabaikan pasien hanya karena masalah finansial.

Perbedaan bidan dan dokter kandungan

Perbedaan bidan dan dokter kandungan

Mengenal PTSD

Gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah kondisi kesehatan mental yang dipicu oleh peristiwa yang menakutkan – baik mengalami atau menyaksikan. Gejala PTSD termasuk flashback, mimpi buruk dan kecemasan berat, serta pemikiran yang tidak terkendali tentang kejadian tersebut.

Sebagian besar orang yang mengalami peristiwa traumatis mungkin mengalami kesulitan sementara untuk menyesuaikan diri, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka biasanya menjadi lebih baik. Jika gejalanya memburuk, berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dan mengganggu aktivitas Anda sehari-hari, Anda mungkin menderita PTSD.

Gejala PTSD dapat bervariasi dalam intensitas dari waktu ke waktu. Gejala PTSD akan muncul lebih banyak ketika Anda stres, atau ketika Anda menemukan pemicu dan mengingat apa yang Anda alami. Misalnya, ketika Anda mendengar suara keras, hal itu akan menghidupkan kembali ingatan soal peristiwa bom.

Jika Anda memiliki pikiran dan perasaan yang mengganggu tentang peristiwa traumatis selama lebih dari sebulan,  atau jika Anda merasa kesulitan mengendalikan hidup Anda, bicarakan dengan dokter atau profesional kesehatan mental. Mendapatkan pengobatan sesegera mungkin dapat membantu mencegah gejala PTSD memburuk.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera dapatkan bantuan melalui cara-cara di bawah ini:

  • Hubungi teman dekat atau orang yang dicintai.
  • Hubungi seorang pendeta, pemimpin spiritual atau seseorang di komunitas agama Anda.
  • Hubungi nomor hotline bunuh diri untuk menjangkau tenaga profesional terlatih.
  • Buat janji dengan dokter atau profesional kesehatan mental.

Jika Anda mengenal seseorang yang dalam bahaya mencoba bunuh diri atau melakukan upaya bunuh diri, pastikan seseorang tetap bersama orang itu untuk menjaganya tetap aman. Hubungi 911 atau nomor darurat lokal Anda segera. Atau, jika Anda dapat melakukannya dengan aman, bawa orang tersebut ke ruang gawat darurat rumah sakit terdekat.

 

Semoga informasi ini bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua.

 

Baca juga:

10 Hal yang Dapat Meringankan Beban Ibu Setelah Alami Proses Melahirkan Traumatis

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

Fitriyani

app info
get app banner