Kejam! Seorang ayah siksa anak 3 tahun hingga kelaparan

Kejam! Seorang ayah siksa anak 3 tahun hingga kelaparan

Apa alasan sang ayah menyiksa anaknya?

Berita balita disiksa ini sungguh menyayat hati. Orangtua yang wajib memberikan perlindungan dan kasih sayang pada anaknya justru tega melakukan kekerasan, dengan mengikat anak dengan kabel di balkon dan membiarkannya kelaparan.

Ya, kasus kekerasan anak, balita disiksa yang mengejutkan ini belum lama terjadi di Taiwan. Pada 22 September lalu, seorang ibu sangat terkejut karena menemukan putranya yang berusia tiga tahun, kelaparan dan dalam kondisi tanpa busana.

Kornologis kejadian balita disiksa

balita disiksa

Sungguh menyayat hati, balita yang sejatinya butuh dilindungi malah diperlakukan tidak pantas oleh orangtuanya sendiri.

Menurut media Taiwan, balita disiksa ini ditemukan oleh ibunya dalam kondisi diikat dengan kabel, di balkon apartemen mantan suaminya.

Pada media, sang ibu mengatakan kalau dirinya mendapatkan firasat buruk mengenai anaknya. Ia pun segera memutuskan untuk mengunjungi putranya yang tinggal bersama ayah dan ibu tiri mereka.

Selama ini, ia pun merasa sangat prihatin dengan kehidupan anak-anaknya yang tinggal bersama mantan suaminya setelah bercerai.

Ketika dirinya tiba di rumah mantan suaminya, dia menemukan anaknya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya tidak dilapisi oleh selembar benang pun. Dengan kondisi telanjang, terlihat tubuhnya begitu kurus dan penuh memar.

Artikel Terkait : Bayi 6 bulan mengalami Bronkuspneumonia akibat asap rokok, sang ibu beri peringatan

Balita ditemukan dalam kondisi kelaparan

balita disiksa

Sungguh naas nasib sang anak saat ditemukan oleh ibu kandungnya dalam keadaan tanpa busana dan merasa sangat kelaparan.

Lebih menyedihkan lagi, media menyebutkan kalau balita itu benar-benar dalam kondisi sangat lapar, bahkan dia mencoba memakan kotorannya sendiri.

Kabarnya, si kecil saat ini sudah kembali dalam perawatan ibunya setelah sebelumnya mendapatkan penanganan medis. Ibunya mengatakan bahwa bahkan sebelumnya, dia telah melihat memar di tubuh putra bungsunya.

Sang ayah, telah diinterogasi oleh pihak berwenang dan ia mengaku telah memukuli anak dengan sandal dan tangan kosong di area pantat dan pahanya. Pria yang berusia 29 tahun ini juga mengaku bahwa dirinya melakukan hal tersebut untuk mendisiplinkan anaknya yang tidak patuh.

Artikel Terkait : Benarkah suami penyebab stres ibu dua kali lipat dibandingkan anak? Suami wajib tahu!

balita disiksa

Sang balita pun kembali diasuh oleh ibu kandungnya, sementara sang ayah tengah diperiksa oleh pihak yang berwenang.

Menurut sumber berita, orangtua anak itu berpisah karena sang ayah telah melakukan perselingkuhan.

Mereka memiliki dua anak laki-laki (berusia tiga dan empat tahun) dan seorang gadis yang berusia sembilan tahun dan tinggal bersama ibunya.

Berbeda dari korban yang mendapatkan kekerasan, anak laki-laki yang lain tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan serupa dengan saudaranya.

Artikel Terkait : “Janinku hanya bertahan 11 minggu, aku merasa gagal,” curahan hati ibu keguguran

Peringatan: Isi video balita disiksa ini bisa ‘menggangu’ :

Kejadian traumatis pada anak menurut ahli

Seorang dokter anak terkemuka yang menjadi CEO pendiri CYW (Center for Youth Wellness) San Fransisco, yakni Dr. Nadine Burke Harris menjelaskan lebih lanjut terkait trauma anak di masa kecilnya. Menurutnya trauma yang dialami anak bisa mengganggu perkembangannya hingga dewasa kelak bila terus diabaikan.

Kejadian traumatis yang dialami tersebut bisa berisiko khususnya bila terjadi saat anak-anak sedang berkembang. Anak-anak memiliki sensitivitas dalam sistem respon tubuh terhadap kejadian traumatis tersebut.

Lebih lanjut, Dr. Harris mengungkapkan bahwa trauma tersebut memengaruhi hal-hal berikut ini

  • Sistem kekebalan tubuhnya
  • Sistem hormon
  • Perkembangan otaknya
  • Prefrontral Cortex yang dibutuhkan untuk mengendalikan impuls dan area penting pembelajaran
  • Pusat respons takut di otak yang membuat seseorang bisa mengambil risiko tinggi saa menghadapi tekanan
  • Nucleus Accumbens (NAc) atau pusat kesenangan dan penghargaan di otak yang bisa terlibat dalam ketergantungan obat-obatan.

Bagaimana pandangan Parents dengan peristiwa ini?

Kejadian ini sungguh memilukan, seorang anak tak berdaya  disiksa oleh ayah kandungnya sendiri.

Penting untuk dipahami bahwa kekerasan pada anak, baik psikis dan fisik akan memengaruhi perkembangan anak. Lukanya pun tidak akan mudah untuk disembuhkan karena akan terus membekas.

Oleh karena itu, tidak sedikit korban kekerasan membutuhkan pertolongan tenaga ahli untuk menyongsong masa depannya yang lebih baik.

Referensi : theAsianparent Singapura

Baca juga:

Tak terima anak pura-pura tidur, ayah tiri siksa anak hingga tewas

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner