Tak terima anak pura-pura tidur, ayah tiri siksa anak hingga tewas

Tak terima anak pura-pura tidur, ayah tiri siksa anak hingga tewas

Kasus penganiyaan pada anak kembali terjadi.

Hati siapa yang tidak merintih sedih saat mendengar peristiwa balita dianiaya oleh orang terdekatnya, seperti ayah tirinya hingga merenggut nyawa?

Peristiwa balita dianiaya kembali terjadi. Sungguh menyayat hati, kali ini peristiwa mengenaskan ini terjadi di Pontianak karena persoalan yang sepele.

Balita malang tersebut adalah Ainun Mahya, korban kekerasan fisik yang dilakukan oleh ayah tirinya. Bocah perempuan yang masih berusia 4 tahun ini pada akhirnya harus kehilangan nyawa, di usianya yang masih belia. Penyebabnya hanya karena bocah ini pura-pura tidur.

Seperti yang diberitakan oleh Detik News, pelaku yang bernama bernama Ibrahim Taufik alias Taufik Abdul Jaul itu marah saat melihat puterinya pura-pura tidur. Begini Parents kronologis cerita selengkapnya.

Kronologis kejadian

balita dianiaya tewas

Balita dianiaya oleh ayah angkatnya hanya karena ia pura-pura tidur hingga sang ayah naik pitam.

Merasa dibohongi oleh anaknya, ia pun tidak terima hingga tidak bisa mengendalikan emosinya. “Kenapa membohongi ayah?” ujar Kasubag Humas Polda Kalbar AKP Cucu Safiyudin menirukan kalimat yang diucapkan oleh tersangka.

Melihat putrinya tidak menjawab, ia pun lantas naik pitam hingga penganiayaan itu terjadi. Dikatakan oleh Cucu Safiyudin, pelaku langsung mengambil bantal dan guling untuk memukuli wajah korban.

Sementara Kasat Reskrim Polresta Pontianak Kompol M Husni Ramli kepada Tribun menjelaskan kronologi peristiwa ini. “Tersangka menyuruh korban untuk tidur. Namun ia melihat anaknya tidur, kemudian ia keluar rumah. Saat kembali, rupanya tersangka menyadari bahwa anaknya hanya pura-pura tidur.”

“Kemudian terjadilah penganiayaan ini. Pengakuan tersangka, dia emosi karena anak angkatnya itu membohonginya,” paparnya.

Artikel Terkait : Bayi 6 bulan mengalami Bronkuspneumonia akibat asap rokok, sang ibu beri peringatan

Balita dianiaya, dengan dipukul dan dibanting

Tak terima anak pura-pura tidur, ayah tiri siksa anak hingga tewas

Sungguh tega, balita ini dianiaya dan dibanting oleh ayah angkatnya sendiri karena persoalan yang sepele.

Tak hanya memukuli dengan batal dan guling, ternyata tersangka juga mengangkat dan membanting korban ke lantai. Perut dan bagian dada pun menjadi sasaran amukannya karena berulang kali diinjak.

Seakan tidak puas, tersangka masih melakukan aksi penganiayaan anaknya denngan mencekik leher dan membantingnya hingga kepala korban membentur kayu.

Aksi ini pun diketahui oleh istrinya yang langsung melarikan korban ke Rumah Sakit Auri, kemudian dirujuk untuk datang ke RSU Santo Antoniun untuk mendapatkan pertolongan.

“Istri pelaku bernama Agus Kartina datang, langsung membawa korban yang pingsan RS AURI. Dari RS AURI, korban dirujuk ke RSU St Antonius dan dirawat di kamar ICU untuk mendapatkan perawatan intensif, ” ujar Cucu.

Sayangnya, korban tidak mampu bertahan hingga mengembuskan napas terakhir pada Minggu (5/8) pukul 10.00 WIB. Ibu korban pun segera melaporakan kejadian ini ke Polresta Pontianak.

Tersangka pun mengakui telah melakukan perbuatannya.  Ia pun telah dijerat hukuman Pasal 80 ayat 3 UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara di atas lima tahun.

Artikel Terkait : “Janinku hanya bertahan 11 minggu, aku merasa gagal,” curahan hati ibu keguguran

Pentingnya mengajarkan anak mengelola emosi

Tak terima anak pura-pura tidur, ayah tiri siksa anak hingga tewas

Kasus penyiksaan pada anak banyak terjadi karena orang orang terdekat tidak mampu mengelola emosinya dengan baik.

Banyaknya kasus penyiksaan anak yang dikarena emosi semata bisa membuktikan kalau ketidakstabilan emosi bisa menyebabkan seseorang berikap agresif hingga melakukan penyerangan pada orang lain sampai pada tahap melakukan pembunuhan.

Oleh karena itulah para pakar psikologi selalu menegaskan pentingnya belajar mengeloa emosi dengan baik sehingga anak bisa tumbuh dengan perilaku yang stabil.

Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah menjadi role model bagi anak. Pasalnya, kestabilan emosi seseorang dalam berperilaku sebenarnya dipengarungi oleh faktor lingkungan dalam pembentukan karakternya.

Artinya, pengaruh yang paling besar datang dari keluarga. Setiap orang dibentuk dari rumah. Sudahkah Parents menjadi role model dan mengajarkan mengelola emosi dengan baik?

Artikel Terkait : Benarkah suami penyebab stres ibu dua kali lipat dibandingkan anak? Suami wajib tahu!

Kejadian tersebut hendaknya menjadi pembelajaran bersama bagi setiap orangtua terkait pengelolaan emosi. Semoga tidak ada lagi kasus serupa di mana pun.

Baca juga:

Bayi kembar yang disiksa ibunya telah diselamatkan! Alasan sang ibu melakukannya sungguh menyedihkan

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner