"Anakku, maafkan Ibu harus pergi bekerja" - suara hati Ibu bekerja dalam sebuah puisi

lead image

Langit cerah benderang hari ini, izinkan Ibu lantunkan puisi Ibu untuk anak tercinta.

Betapa indahnya jika Ibu bisa berada di rumah, menemanimu bermain di taman.
Rasanya sangat menyenangkan, mengajarimu bermain sepeda atau sekedar menyuapimu makan siang.
Tapi maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa.

Pagi ini Ibu harus bergegas, kembali mengejar kereta. Kembali ke kerasnya Ibukota.
Maaf, bukan Ibu tega. Namun Ibu harus pergi bekerja.

Menitipkanmu pada nenekmu

Memasrahkanmu kepadanya.

Nak, mohon jangan benci Ibu. Jangan marah pada Ibu.

Sungguh karena tangisanmu setiap kali Ibu pamit kerja sudah cukup menyayat hati Ibu, Nak. Jangan tambah beban Ibu dengan membenciku.
Anakku, saat ini yang kamu tahu hanya Ibu tidak ada di sisimu. Ibu melewatkan banyak momen bersama denganmu.

Puisi ibu untuk anak tercinta: “Anakku maafkan Ibu harus pergi bekerja”

Mungkin ibu melewatkan momen langkah pertamamu… Mungkin bukan Ibu orang yang mengajarimu sikat gigi sendiri.
Tapi ketahuilah Anakku, bahwa apa yang Ibu lakukan semata-mata untukmu.
Bukan Nak, ini bukan hanya soal materi.

Ibu ingin kamu belajar, bahwa menjadi seorang Ibu tidak menghentikan langkah seorang wanita dalam berkarya.
Ibu ingin kamu tahu, bahwa meskipun Ibu harus bekerja, Ibu melakukannya dengan suka cita.
Karena tidak ada Ibu yang tidak menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Karena hujan, panas, atau macet tidak menghentikan tekad Ibu mempersiapkan bekal masa depanmu.
Jika Ibu harus bekerja membanting tulang, mohon jangan benci Ibumu.
Sesungguhnya kami hanya ingin kamu bernasib lebih baik daripada orangtuamu.

Anakku, akan Ibu teteskan keringat hingga berdarah hanya agar dirimu kelak mendapatkan pendidikan yang layak, pakaian yang pantas dan makanan yang penuh nutrisi.

Percayalah, Nak. Tak ada satupun keringat Ibu menetes satu detikpun tanpa memikirkan tentang masa depanmu.

Ibu sudah bersusah payah melahirkanmu ke dunia ini. Paling tidak Ibu ingin kamu mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari aral yang sudah kami tempuh. Biarlah jalan itu hanya milik kami, agar kelak keturunanmu menikmati jerih berdarah yang Ibu lalui.

Untuk semua Ibu bekerja di luar sana. Semangat, semua akan indah pada waktunya. –

Baca juga:

Puisi Inspiratif di Hari Ibu

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

Febby