Tak mau sekolah, bocah 8 tahun ini ancam lompat dari lantai 33

lead image

Anak mogok sekolah dapat berakhir dengan melukai diri sendiri karena merasa tertekan. Bagaimana cara agar orangtua bisa mendukung anak dengan lebih baik?

Meski sekolah adalah tempat untuk belajar banyak hal, beberapa anak mogok sekolah karena berbagai alasan seperti di-bully, stres, dan merasa tertekan. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah kecenderungan bunuh diri anak karena stres di sekolah dan tuntutan akademis yang tinggi.

Tahun 2016, kami mendengar kabar duka tentang seorang anak sekolah yang bunuh diri karena nilai jelek. Sekarang, seorang anak laki-laki mencoba untuk bunuh diri karena tekanan yang berkaitan dengan stres di sekolah.

Anak mogok sekolah mengancam lompat dari lantai 33

Upaya bunuh diri ini terjadi di Cina. Pekerja konstruksi yang sedang bekerja di atas gedung melihat seorang bocah laki-laki berdiri sangat dekat di tepi sebuah gedung berlantai 33.

“Aku tidak mau pergi ke sekolah!” ia meratap. Rupanya, bocah itu ingin melompat dari gedung. 

Begitu melihat hal ini, para pekerja konstruksi segera menelepon polisi. Apa yang terjadi berikutnya adalah sebuah aksi penyelamatan heroik. Video yang beredar viral di media sosial Cina dapat Anda saksikan berikut ini:

 

Cuplikan video itu menunjukkan seorang petugas pemadam kebakaran tiba di tempat kejadian. Ia berjalan menuju anak yang menangis itu.

Begitu sang petugas pemadam kebakaran berhasil mendekati bocah SD tersebut, ia pun mengajaknya bicara secara normal.

Setelah mencoba memegang erat bocah laki-laki itu, petugas pemadam kebakaran mengikatkan tali di sekitar pinggangnya. Rekan-rekan sang petugas, yang berada di sekitar si bocah laki-laki, berusaha menariknya ke tempat yang aman.

Rupanya, menurut sang petugas pemadam kebakaran, bocah laki-laki itu basah kuyup akibat keringat dan tubuhnya gemetar hebat ketika ia mendekatinya. Anak mogok sekolah itu menangis dengan suara pelan bahwa ia menolak pergi ke sekolah.

Namun setelah percakapan selama 10 menit antara keduanya, petugas pemadam kebakaran berhasil menghibur dan menenangkan anak itu. Baru setelah itu, ia dibawa ke tempat yang aman.

Kabarnya, orangtua anak itu menyadari bahwa mereka perlu mengubah metode parenting mereka dan membantu mengurangi tekanan dan stres di sekolah serta tuntutan akademis pada anak mereka.

Mengapa anak mogok sekolah

Anak-anak di banyak negara di Asia – termasuk Indonesia – sering berada di bawah tekanan besar untuk memiliki prestasi akademis yang baik. Mereka telah ditanamkan ‘mantra’ untuk belajar memaksimalkan potensi mereka, unggul dalam ujian, dan masuk ke sekolah unggulan dan berkualitas.

Namun, tidak semua anak bisa mengatasinya. Beberapa anak tidak dapat menangani tekanan. 

Semua stres di sekolah itu disebabkan oleh tuntutan dari orangtua, bullying, dan anak yang tidak boleh gagal dalam pelajaran (padahal kegagalan adalah bagian dari kehidupan di mana semua orang harus mengalami dan mengatasinya). 

Bagaimana kita sebagai orangtua membantu anak mencapai potensi akademik terbaiknya tanpa membebankan semua harapan kita padanya?

Apa yang Parents dapat lakukan untuk mengatasi stres di sekolah?

Parents, cobalah pahami bahwa nilai yang jelek atau satu dua pelajaran yang berada di bawah ekspektasi bukan berarti anak Anda gagal dalam hidup. Ada banyak faktor lain yang menentukan keberhasilan anak Anda di kemudian hari.

Berikut beberapa kiat untuk membantu Anda meringankan tekanan akademis pada anak.

Mengatasi anak mogok sekolah #1: Bersikap realistis – Ketahui apa yang dapat dicapai anak

Setelah Parents mengetahui batasan anak, cari tahu apa yang ia butuhkan dari Anda. Apakah ia butuh tekanan? Atau motivasi? Jelaskan kepada anak Anda pentingnya belajar dan beri tahu padanya bahwa Anda akan selalu di sana untuk mendukungnya. 

Mengatasi anak mogok sekolah #2: Biarkan anak memutuskan bagaimana ia ingin didukung

Setiap anak merespon secara berbeda terhadap tekanan. Beberapa anak mungkin menikmati ketika Parents menetapkan tantangan bagi mereka. 

Sebagian anak lain mungkin membutuhkan dukungan dan dorongan. Anak-anak tertentu mungkin benar-benar membutuhkan kursus tambahan, atau justru ruang dan waktu untuk bersantai. 

Apapun masalahnya, sesuaikan bagaimana Anda membantu anak dengan kebutuhannya. 

Mengatasi anak mogok sekolah #3: Jangan terlalu keras pada anak jika ia sudah mencoba yang terbaik

Jangan terus memaksakan harapan yang tidak realistis pada anak jika Parents tahu bahwa ia telah mencoba yang terbaik. Anak Anda masih memiliki banyak waktu untuk berkembang dan mengejar masa depannya sendiri. 

Mengatasi anak mogok sekolah #4: Dorong anak untuk terbuka tentang perjuangannya di sekolah

Beri tahu pada anak bahwa Anda akan selalu ada untuknya. Mereka tidak seharusnya takut berbicara dengan Anda tentang masalah di kelas atau pelajaran yang ia anggap sangat sulit.

Mengetahui kekuatan dan kelemahan anak akan mempermudah Parents dalam membantu anak mempersiapkan ujian dengan lebih baik.

Parents, semoga artikel tentang stres mengatasi anak mogok sekolah ini akan membantu anak Anda agar tidak stres di sekolah. Ingatlah bahwa ujian dan nilai bukanlah segalanya dalam hidup ini!

 

*Artikel disadur dari tulisan Kevin Wijaya Oey di theAsianparent Singapura

Baca juga:

Cara Mengenali dan Membantu Anak Atasi Stres Karena Ujian Sekolah