"Aku Tahu ASI Itu Baik, Tapi Aku Tidak Menyusui Bayiku"

"Aku Tahu ASI Itu Baik, Tapi Aku Tidak Menyusui Bayiku"

Menyusui adalah tugas mulia bagi semua ibu. Namun ibu ini memilih untuk tidak melakukannya. Mengapa?

Para ibu di Indonesia dan berbagai belahan dunia sudah cukup paham tentang manfaat ASI. Kesadaran untuk menyusui si buah hati juga meningkat dari hari ke hari.

Di sisi lain, ada beberapa ibu memilih tidak menyusui bayi mereka karena berbagai hal. Salah satunya adalah Nyonya Annie Ferguson Muscato yang tinggal di Florida, Amerika Serikat.

Annie sudah mantap memberi ASI untuk bayi mungilnya sejak ia dilahirkan. Ia sudah mencoba berbagai cara, namun ASInya tidak keluar dan ia beralih memberikan susu formula.

Menurutnya, tidak menyusui bayi bukan berarti kita tidak sayang kepada anak. Lebih baik memberikan susu formula daripada bayi terus menangis karena lapar. Ia ingin orang-orang di luar sana bisa memahami pilihannya, dan tidak serta merta menganggap ibu yang tidak menyusui sebagai ibu yang jahat atau kurang pengetahuan.

Curahan hati Annie tertuang dalam status Facebooknya, dan kami telah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia untuk Anda.

“Pembaca yang budiman,

Anda tak perlu bilang kepadaku “ASI adalah yang terbaik,” karena Anda melihatku membeli susu formula. Aku sudah tahu.
Aku tahu, aku dan suamiku dulunya bersemangat mengikuti pelatihan menyusui selama empat jam sehari saat aku hamil.
Aku tahu bayiku sudah melakukan skin to skin contact begitu ia lahir. Ia menyusu dariku selama satu jam saat itu. Aku melakukannya karena ini penting buatku.
Aku tahu kami menemui konsultan laktasi sebelum kami membawa bayi kami pulang. Aku kembali menemui konsultan itu beberapa minggu kemudian.
Aku tahu kami berusaha keras pada awalnya. Kami sering menangis bersama di malam hari. Teman-temanku bilang semua akan membaik.
Aku tahu mereka benar.
Aku tahu “ASI adalah yang terbaik.”

Namun, aku juga mau mengatakan hal lain yang aku tahu.


Aku tahu bayiku menangis saat menyusu. Ia menggeliat-nggeliat menahan sakit yang tak terperi.
Aku tahu satu setengah bulan lalu aku memompa dadaku, berusaha mengisi botol-botol kosong itu dengan ASI-ku. Aku sudah coba macam-macam posisi menyusui. Aku juga sudah berkonsultasi pada konsultan laktasi lain.
Aku tahu aku telah mencoba menggendong anakku, bayiku, saat ia menangis berjam-jam. Pernah suatu hari ia menangis seharian, 8 jam berturut-turut.
Aku tahu kami telah menemui dokter anak minimal dua kali seminggu sejak ia lahir.
Aku tahu aku telah singkirkan kedelai, produk susu, dan sayuran berdaun hijau dari makananku agar air susuku lebih mudah dicerna oleh bayiku.
Aku sudah memompa – dan aku masih memompa – cukup untuk hasilkan ratusan liter ASI dalam kulkasku, meski bayiku tak akan pernah bisa meminumnya.
Itu semua karena “ASI adalah yang terbaik.”

Dan akhirnya, kami mencoba susu formula bebas protein susu hypoallergenic yang kubeli saat ini. Dan akhirnya tangisan bayiku jadi berkurang. Dan bayiku mulai bisa tersenyum. Ia mulai berinteraksi. Ia bisa tidur.
Sedangkan aku malah menangis. Karena dulu kukira ASI yang terbaik, dan kupikir tubuhku tidak berhasil membuatnya sehat. Kukira bayiku tidak akan bisa sehat jika tidak mendapat ASI.
Aku tahu Anda menyangka aku tidak sayang bayiku, atau mengira aku ini ibu yang malas. Mungkin Anda berusaha memberi saran dan mengira tak ada yang pernah memberi tahu aku tentang manfaat ASI.

Tapi, maaf, Anda keliru. Aku tahu dan Anda tak tahu bahwa ASI tidak selamanya baik. Aku tahu bayi yang sehat dan bahagia adalah yang terbaik. Aku tahu menyusu adalah yang terbaik, meskipun itu dari botol.
Aku yakin kita berdua sepakat bahwa mengasuh anak itu sulit. Sangat sulit. Kadang rencana dan kenyataan tidak berjalan bersamaan. Namun, kita lakukan semua yang terbaik demi bayi kita.

Pembaca tersayang, suatu saat nanti mungkin Anda melihat seorang ibu membeli susu formula. Cobalah untuk mengerti bahwa para mama seharusnya saling mendukung. Cobalah memahami alasan ibu itu membeli susu formula, apakah bayinya juga alergi terhadap ASI?

Ingatlah bahwa “menyusu adalah yang terbaik.” Lalu tersenyumlah karena ibu itu ternyata mencintai bayinya, dan ia bersedia melakukan segalanya demi buah hatinya.

Salam sayang,

Ibu Dengan Semua Hal Terbaik Untuk Bayinya dan Bayi Susu Formula yang Berbahagia.”

Parents, sekarang Anda sudah paham kan mengapa kita tak boleh memberi label negatif pada ibu yang tak menyusui bayinya?

Ada banyak jalan menuju Roma. Jalan yang Anda pilih sebaiknya membawa kebaikan bagi si kecil dan diri Anda sendiri, apapun bentuk dan caranya.

 

Baca juga:

Bayi 2 bulan alergi parah akibat makanan ibu saat menyusui, Busui waspadai ini!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner