8 Hal yang Menyebabkan Seorang Ibu Merasa Kesepian

Tak banyak orang yang mengerti mengapa seorang ibu merasa kesepian. Berikan ini pada suami agar ia mengerti bahwa Anda butuh pertolongan.

Ada banyak ibu yang mengalami kesepian akut sekalipun ia tinggal bersama anak dan suaminya. Pasangan maupun orang-orang sekitar kadang tak mengerti hal apa yang membuat seorang ibu merasa kesepian.

Rasa kesepian yang melanda seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya akan memunculkan ketidakbahagiaan batin yang sangat menyiksa. Apalagi jika ia memilih untuk menutup rapat-rapat masalahnya sehingga ia mengizinkan dirinya sendiri untuk menumpuk "sampah" di dalam hati dan pikirannya tanpa pernah dilampiaskan sebelumnya.

Kesepian yang dialami oleh seorang ibu ini biasanya dialami terutama oleh ibu baru yang anaknya masih bayi. Kadang, perasaan kesepian itu juga menimbulkan rasa bersalah pada diri sendiri karena merasa kurang bersyukur atas apa yang telah dimiliki.

Berikut ini hal-hal yang membuat seorang ibu merasa kesepian:

1. Monolog

Saat belum punya anak, seorang perempuan bisa pergi kemanapun yang ia suka dan berbicara pada siapapun. Saat ia punya bayi, tiba-tiba saja ia harus sering berbicara sendiri karena bayinya belum memberikan respon tertentu yang membuatnya jadi punya teman bicara.

Sekalipun memiliki ponsel, tak semua orang punya waktu untuk mendengarkan cerita setiap saat. Karena menyadari bahwa semua orang akan sibuk dengan kegiatannya masing-masing, biasanya seorang ibu urung untuk bercerita mengenai betapa sepi hidupnya.

2. Ketidaknyamanan fisik

Luka bekas operasi caesar yang kadang masih sakit, sulitnya menyusui, dan hal lain yang berkaitan dengan ketidaknyamanan fisik akan membuat ibu merasa kesepian.

Apalagi jika seolah ia merasakan kesakitannya sendiri tanpa dibantu oleh pasangannya. Dan jika ia harus menjalani kesakitan fisik tersebut sambil merawat bayinya.

3. Kecemasan mental

Kebanyakan ibu baru biasanya tak menyadari bahwa ia mengalami kecemasan secara mental. Ketakutan tidak dapat menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya akan membawa pada kecemasan di benak seorang ibu.

Apalagi, jika ada yang membanding-bandingkan kesuksesan parenting orang lain yang tak dapat ditiru. Sehingga perasaan cemas setelah membanding-bandingkan dengan hidup orang lain yang tampak baik-baik saja makin nyata.

4. Kelelahan

Semua orang menyarankan semua ibu baru agar tidur saat bayinya sedang tertidur. Kenyataannya, mencuri-curi waktu tidur tak bisa semudah itu.

Sulit untuk memulai pola hidup baru. Apalagi jika pekerjaan rumah setelah menidurkan bayi masih menumpuk. Sedangkan ibu tersebut ingin memiliki rumah yang rapi saat suaminya datang.

Hal ini juga dialami oleh ibu yang memiliki anak lebih dari satu. Pekerjaan rumah yang tak ada habisnya akan membuat ibu merasa kesepian karena seolah ia yang harus bertanggung jawab terhadap urusan rumahnya sendirian.

5. Sulit untuk meninggalkan rumah

Pergi meninggalkan rumah sesekali adalah hal yang penting agar tak mengalami kejenuhan di dalam rumah. Namun, tantangan yang dihadapi juga cukup banyak.

Misalnya beratnya bawaan yang harus dibawa, susahnya akses terhadap kendaraan umum, tak adanya ruang laktasi yang nyaman, dan terbatasnya tempat yang bisa dikunjungi. Seorang ibu merasa kesepian saat ia merasa bahwa diam saja di rumah itu sangat membosankan, tapi pergi keluar rumah juga bukanlah sesuatu yang mudah.

6. Khawatir dengan pendapat orang lain

Saat bertemu dengan seorang kawan, ia justru berpendapat bahwa cara ia memperlakukan anaknya salah. Pada saat bertemu dengan orang tua atau orang yang tampak lebih berpengalaman, mereka memberikan saran-saran soal pengasuhan yang selama ini berbeda dengan yang Bunda lakukan.

Dari pembicaraan-pembicaraan itu, seorang ibu akan merasa takut dan bahkan tak percaya diri dengan caranya mengasuh. Selain itu, ia juga takut jika orang lain disekitarnya akan mengritisi caranya mengasuh.

7. Isolasi

barangkali, ini yang paling membuat kesepian. Saat seorang ibu mulai sibuk dengan kegiatan rumah tangga dan mengasuh anaknya sendirian tanpa berinteraksi dengan teman-teman lamanya.

Terutama dialami oleh ibu yang harus ikut suaminya dinas di luar kota yang jauh dari lingkungannya. Selain harus sesuaikan dengan lingkungan baru, Anda juga harus berpisah dalam jangka waktu lama dengan "dunianya".

8. Terjebak rutinitas

Saat awal-awal menjadi ibu yang baru, Anda barangkali sengaja mendisiplinkan bayi dan diri sendiri dengan rutinitas agar pekerjaan rumah, urusan mengasuh, dan istirahat sama-sama mendapatkan porsi yang cukup.

Namun, lama-lama rutinitas tersebut terasa membosankan. Tak ada hal yang dapat membuat Anda merasa bergairah atau sekedar punya tantangan baru.

Namun, Anda juga khawatir, mengubah jadwal hidup Anda akan membuat jadwal anak juga kacau. Belum lagi jika harus menyesuaikan dengan pola hidup suami.

Rasanya Anda ingin pergi dari rutinitas itu, tapi tak bisa. Anda ingin bebas dari ini semua, tapi Anda tahu bahwa Anda adalah seorang ibu bertanggung jawab yang harus mampu melakukan segalanya.

 

Rasa kesepian adalah hal yang wajar dialami oleh seorang ibu. Bahkan, orang yang tidak menjadi seorang ibu pun masih akan mengalaminya.

Jika Bunda merasa kesepian, ada baiknya bicara pada suami atau orang terdekat agar dapat merasa terbantu dengan kehadiran mereka di sisi Bunda.

Barangkali, sebagai ibu, Anda juga butuh liburan sehingga tidak merasa depresi dan kesepian lagi. Mengubah rutinitas sehari-hari akan dapat membantu menghadapi semuanya lagi.

Jangan lupa untuk menyediakan waktu romantis khusus Bunda dan suami. Karena barangkali, Bunda tak jadi satu-satunya orang yang mengalami kesepian itu.

Suami juga butuh Bunda untuk mengisi kesepian dirinya setelah Bunda sibuk sebagai seorang ibu dan istri baginya. Bagaimanapun, menikah adalah soal komunikasi dan melakukan segala sesuatu bersama-sama.

Semoga dengan memahami hal-hal ini, kesepian Bunda sedikit terobati ya..

 

 

Referensi: Huffington Post, Atlantic, Salon.

Baca juga:

id-admin.theasianparent.com/surat-terbuka-ibu-rumah-tangga-yang-hampir-depresi/