Trombosit rendah? Waspadai ITP yang mirip demam berdarah

Trombosit rendah? Waspadai ITP yang mirip demam berdarah

Rendahnya jumlah trombosit dalam tubuh bukan hanya dampak demam berdarah (DB), melainkan bisa disebabkan oleh penyakit ITP. Tahukah Anda, Apakah itu ITP?

Pernahkah Anda dikejutkan oleh bintik-bintik  merah yang timbul pada buah hati Anda? Atau mimisan, pendarahan gusi dan luka yang tidak mau berhenti? Tahukah, bahwa gejala ini menunjukkan turunnya jumlah trombosit dalam darah anak-anak kita? Yuuk, kita simak uraian berikut.

Pada umumnya timbulnya bintik-bintik kemerahan dan meruam pada kulit dianggap sebagai tanda-tanda terkena demam berdarah. Kita tentu maklum, timbulnya bintik-bintik itu dikarenakan sejumlah pembuluh darah pecah akibat turunnya jumlah trombosit dalam darah.

Namun ternyata demem berdarah (DB) bukan satu-satunya penyebab turunnya jumlah trombosit dalam darah. Ada satu jenis penyakit langka yang disebut dengan ITP, Idiopathic Thrombocytopenic Purpurae memiliki gejala serupa.

Trombosit rendah dan bintik merah belum tentu demam berdarah.

Trombosit rendah dan bintik merah belum tentu demam berdarah.

 

Apa sih ITP itu?

Dalam bahasa sederhananya, ITP merupakan gangguan autoimun yang terjadi dalam tubuh di mana sel darah putih melakukan penyerangan terhadap sel darah merah, sehingga menyebabkan turunnya jumlah trombosit dalam darah. Kondisi ini disebut trombositopenia, yaitu angka trombosit darah perifer kurang dari 150.000/mm3.

Rendahnya trombosit ini mengakibatkan gangguan pada fungsi Hemostasis, yaitu fungsi tubuh yang berperan untuk menjaga keenceran darah dan memperbaiki pembuluh darah yang rusak. Trombositopenia ini menyebabkan darah sulit membeku, juga sulit memperbaiki pembuluh darah yang pecah.

Gejala awalnya tampak berupa bintik-bintik kemerahan dan ruam pada tubuh, persis seperti pada penderita DB. Sebagai orang awam, bisakah kita mengenali penyakit  ITP dan DB? Tentu saja.

Yuk, kita lihat perbedaan keduanya.

Kenali ITP dan DB dengan memperhatikan perbedaannya

Beberapa perbedaan antara gejala ITP dan DB bisa kita jadikan acuan untuk mengambil tindakan selanjutnya, yaitu :

  1. Penderita ITP tidak mengalami demam sebagaimana penderita DB
  2. Penderita ITP tidak merasakan nyeri di uluhati yang biasanya dirasakan penderita DB
  3. Penderita ITP tidak mengalami gejala mual-mual dan muntah seperti penderita DB
Berbahayakah penyakit ITP ini?

Tentu saja. Sekalipun penderita ITP terlihat sehat dan normal karena tidak mengalami hal-hal seperti yang disebut di atas, kecuali bercak-bercak pada tubuhnya, namun turunnya trombosit secara cepat akan menimbulkan pendarahan pada penderita ITP.

Semakin rendah jumlah trombosit dalam tubuh, risiko penderita ITP mengalami pendarahan semakin besar. Kerusakan sel pembuluh darah semakin hebat. Dan resiko terjadinya pendarahan semakin parah.

Secara bertahap pendarahan ini akan muncul dalam bentuk pembengkakkan gusi, timbulnya bintik-bintik kemerahan hingga kebiruan yang terus melebar, mimisan, keluarnya darah melalui lubang telinga, bahkan pendarahan otak.

Untuk meminimalisir dampak ITP, mari kita mengenal ITP lebih dekat.

Mengenal ITP lebih dekat

Secara klinis ITP dibagi menjadi dua kelompok. Batasannya adalah waktu, jika di bawah 6 bulan disebut ITP Akut dan lebih dari 6 bulan disebut ITP Kronik.

ITP Akut lebih sering terjadi pada anak-anak usia 2-6 tahun. Sekalipun tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun seringkali terjadi setelah infeksi virus akut (Rubeola, Rubella, Varicella Zooster, Epstein Barr Virus) dan penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh virus.

Penderita ITP Akut biasanya akan sembuh dalam waktu 4-6 minggu, dan 90% sembuh dalam 3-6 bulan. Dan sekitar 5-10% lainnya berkembang menjadi ITP Kronik.

ITP kronik sering dijumpai pada wanita usia 15-50 tahun. Pendarahan yang terjadi dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Bahkan terus-menerus.

Semua orang terutama orangtua tentu ingin buah hatinya sembuh dari ITP dan menjalani hari-harinya dengan normal.

Bagaimana menyembuhkan penderita ITP?

Karena ITP merupakan reaksi spontan tubuh, maka penderita ITP dapat sembuh dengan sendirinya, tergantung seberapa besar kemampuan tubuh mengembalikan jumlah trombosit hingga mencapai angka normal.

Untuk proses meningkatkan jumlah trombosit dalam darah, kita bisa menggunakan banyak cara. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan dan sumplemen yang bisa meningkatkan jumlah trombosit dalam waktu singkat. Contohnya sarikurma, jambu biji merah, angkak, rebusan daun jambu biji dan lain-lain.

Transfusi darah bisa dilakukan bila dalam kondisi terpaksa karena anemia. Namun yang harus dijadikan pertimbangan adalah, ITP menyebabkan sulitnya pembekuan darah, sehingga pendarahan akan terus terjadi selama proses transfusi.

Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan orangtua untuk menghindari dampak serius yang terjadi pada anak-anak penderita ITP Akut?

Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :

  1. Hindari benturan yang mungkin terjadi pada anak. Misalnya : jatuh, kena pukulan.
  2. Jauhkan anak dari hal yang bisa menyebabkan luka.
  3. Berikan makanan dan suplemen yang bisa meningkatkan jumlah trombosit dengan cepat.
  4. Jangan memberikan aspirin, karena akan mempengaruhi fungsi trombosit.
  5. Tingkatkan kewaspadaan dan jangan tertipu dengan keceriaan dan kelincahan anak, sebab penurunan trombosit terjadi amat cepat dalam hitungan jam.
  6. Dampingi anak, hingga trombosit mencapai angka normal. Dan pantau setiap perkembangan anak, hal paling mudah adalah dengan memperhatikan tanda-tanda fisik yang muncul.

Parents, semoga info di atas bermanfaat.

 

Baca juga:

7 Obat demam berdarah dari bahan alami ini bisa Bunda buat di rumah

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner