Air ketuban merembes, waspadai bahayanya pada ibu hamil

lead image

Ketahuilah bahaya yang dapat terjadi bila air ketuban merembes, serta cara membedakan air ketuban dengan urin.

dreamstime m 39715405 k Air ketuban merembes, waspadai bahayanya pada ibu hamil

Terkadang kita tidak menyadari bahwa air ketuban merembes.

Seringkali wanita hamil tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan akibat air ketuban merembes.

Air ketuban (air amnion) merupakan media pelindung bagi janin yang berada dalam kantung rahim. Cairan ini yang memungkinkan bayi bebas bergerak dan terlindungi dari bakteri yang berasal dari luar tubuh ibu.

Kondisi cairan ini sangat mempengaruhi perkembangan janin. Air ketuban yang sehat dan cukup akan membuat pertumbuhan janin sesuai dengan tahapan usia dan siap dilahirkan pada waktunya.

Kadangkala, berkurangnya air ketuban tidak disadari oleh calon ibu yang tengah mengandung akibat ketidaktahuannya.

Padahal berkurangnya air ketuban bisa mengakibatkan kelahiran prematur atau masuknya bakteri ke dalam kantung rahim dan menyebabkan infeksi.

Mengapa air ketuban merembes atau bisa berkurang?

Biasanya air ketuban merembes karena adanya bagian selaput ketuban yang robek. Hal ini dapat diakibatkan oleh trauma ataupun terjadi secara spontan.

Dalam beberapa kasus, guncangan yang timbul oleh batuk yang dialami calon ibu pada trisemester terakhir dapat menyebabkan keluarnya air ketuban tanpa diketahui.

Baca juga: Waspada air ketuban pecah dini sebelum HPL, ini bahayanya!

Seringkali calon ibu salah sangka dan menganggap air ketuban yang merembes sebagai urin, yang keluar akibat tekanan yang terjadi pada kantung kemih sang ibu.

Untuk menghindari peristiwa fatal akibat berkurangnya air ketuban, ada baiknya kita mengetahui perbedaan antara air ketuban dan urin.

Tips untuk membedakan air ketuban dan urin

1. Gunakan pembalut yang bersih

Bila Anda sering merasakan adanya cairan yang keluar melalui vagina, baik saat tubuh Anda terguncang akibat batuk, trauma ataupun cairan yang keluar secara spontan, gunakanlah pembalut yang bersih untuk menampung cairan tersebut.

2. Amati

Amatilah dengan seksama cairan yang terdapat pada pembalut tersebut. Satu hal yang harus Anda ketahui, bahwa air ketuban biasanya tidak bewarna serta tidak berbau.

3. Lakukan tes keasaman

Gunakan kertas lakmus untuk mengetahui keasaman yang terkandung dalam cairan tersebut dengan menempelkan kertas tersebut pada pembalut.

Bila cairan tersebut menyebabkan kertas lakmus berubah menjadi biru, itu menandakan cairan tersebut adalah air ketuban.

Sedangkan bila kertas lakmus tetap bewarna merah, itu menandakan tidak adanya kandungan asam dalam cairan tersebut, dan cairan tersebut merupakan air seni.

4. Periksakan diri sesegera mungkin

Keluarnya air ketuban, baik pada saat hamil muda maupun hamil tua akan berdampak pada kehamilan yang Anda jalani.

Bila itu ketuban itu merembes pada usia kehamilan yang jauh dari waktu kelahiran normal, hal itu bisa mengakibatkan kelahiran prematur, sehingga Anda harus mewaspadainya dengan melakukan konsultasi dengan dokter kandungan.

Sedangkan bila air ketuban itu keluar pada trisemester terakhir, biasanya hal itu menandakan bahwa Anda akan segera menjalani proses persalinan.

Semoga bermanfaat, Bunda..

 

Baca juga:

Ketuban bocor di usia kandungan 6 bulan, bayi ini hampir digugurkan atas saran dokter