Penelitian ungkap jika virus corona bisa bertahan di udara, ini penjelasannya!

Penelitian ungkap jika virus corona bisa bertahan di udara, ini penjelasannya!

Berdasarkan hasil penelitian terbaru, World Health Organization (WHO) mengabarkan virus corona hidup di udara, sehingga masyarakat dan petugas medis harus lebih berhati-hati.

Hingga saat ini penyebaran virus corona atau Covid-19 terus meluas, parahnya penelitian terbaru mengungkapkan virus corona hidup di udara. Para petugas medis belum bisa mengetahui secara pasti penangkal virus mematikan ini, sehingga membuat korban berjatuhan semakin banyak jumlahnya.

Melansir dari laman CNBC, di tengah kondisi yang belum membaik, World Health Organization (WHO) mengabarkan jika penyebaran corona virus bisa saja terjadi melalui udara. Hal ini karena virus corona hidup di udara.

Oleh karena itu, WHO menyarankan untuk melakukan tindakan pencegahan terkena paparan virus melalui udara. Bukan hanya mencegah dari percikan air saat bersin dan batuk.

Artikel terkait : Sudah berapa pasien corona di Indonesia? Cari tahu info terbarunya di sini!

Hati-hati virus corona hidup di udara

virus corona hidup di udara

Awalnya virus ini ditularkan melalui tetesan atau sedikit cairan yang dikeluarkan ketika bersin dan batuk. Namun, Dr. Maria Van Kerkhove, kepala unit emerging disease and zoonis WHO, mengungkapkan hal baru pada Senin (16/03).

“Ketika melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol (partikel zat yang ada di udara) seperti yang ada di fasilitas perawatan medis, maka kemungkinan memiliki partikel-partikel aerosolize. Hal itu berarti mereka dapat tinggal di udara sedikit lebih lama,” ungkapnya dalam konferensi pers virtual.

“Sangat penting bahwa petugas kesehatan mengambil tindakan pencegahan tambahan ketika mereka bekerja untuk pasien covid-19 dan melakukan prosedur itu,” imbuh Kerkhove.

Covid-19 bertahan di udara tergantung faktor kelembapan

virus corona hidup di udara

Para pejabat kesehatan dunia mengatakan, penyakit pernapasan menyebar melalui kontak manusia ke manusia, percikan yang keluar melalui bersin dan batuk, serta kuman yang tertinggal di benda mati. Lalu, mereka juga menegaskan virus corona hidup di udara dan bergantung pada faktor-faktor seperti panas dan kelembapan.

Kerkhove mengatakan, para pejabat kesehatan mengetahui fakta ini setelah melakukan penelitian di sejumlah negara dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Mereka melihat bagaimana Covid-19 dapat bertahan di lingkungan tersebut.

Dalam penelitian itu, para ilmuwan secara khusus melihat bagaimana kelembapan, suhu, dan pencahayaan matahari di beberapa lingkungan berbeda secara suhu, kelembaban dan lain-lain. Serta, melihat bagaimana faktor-faktor itu memengaruhi Covid-19 serta berapa lama hidup di permukaan yang berbeda.

Gejala covid

“Pejabat kesehatan menggunakan pedoman WHO untuk memastikan informasi. Sejauh ini, kami yakin bahwa pedoman yang kami miliki sesuai,” jelas Kerkhove melansir dari laman CNBC.

Dari hasil penelitian, mereka merekomendasikan staf medis memakai masker N95. Pasalnya, jenis masker ini menyaring sekitar 95% dari semua partikel cair dan yang ada di udara.

“Di fasilitas layanan kesehatan, kami memastikan petugas layanan kesehatan melakukan tindakan pencegahan tetesan yang standar. Kecuali, mereka sedang melakukan prosedur tertentu,” kata Kerkhove.

Jangka waktu virus corona hidup di permukaan

virus corona hidup di udara

Robert Redfield selaku direktur the U.S. Centers for Disease Control and Prevention, mengatakan bahwa WHO telah mengevaluasi berapa lama Covid-19 dapat bertahan. Termasuk di permukaan.

“Pada tembaga dan baja, ini sangat khas, ini cukup lama sekitar dua jam. Tapi, saya katakan di permukaan lain, seperti kardus atau plastik, itu lebih lama, dan kami melihat ini,” ujar Redfield di kongres.

Redfield menambahkan, daripada melalui udara, infeksi yang ditimbulkan dari permukaan ini lebih berkontribusi menjadi pemicu penyebaran corona virus di kepal pesiar Diamond Princess.

Artikel terkait : Cegah Corona sekolah diliburkan, ini kata Gubernur DKI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia

Penelitian ungkap jika virus corona bisa bertahan di udara, ini penjelasannya!

Sementara itu secara terpisah, Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, ada peningkatan cepat kasus Covid-19 selama seminggu terakhir.

“Kami belum melihat peningkatan yang cukup mendesak dalam pengujian. Tapi, tetap melakukan isolasi dan pelacakan kontak yang merupakan bagian pencegahan,” katanya.

“Lalu, kami juga memiliki pesan sederhana untuk semua negara: tes, tes, tes. Uji setiap kasus yang dicurigai. Jika mereka positif, isolasi mereka dan cari tahu dengan siapa mereka telah melakukan kontak, khususnya dua hari sebelum mereka mengembangkan gejala. Orang-orang yang sudah kontak langsung juga harus dites,” tegas Tedros.

Parents, demikian kabar terkait kondisi terbaru virus corona atau Covid-19. Semoga kita semua dapat terhindar dari virus ini, ya.

Baca juga :

Status darurat corona diperpanjang hingga 29 Mei 2020, ini arahan pemerintah!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Semua opini & pendapat dalam artikel ini merupakan pandangan pribadi milik penulis, dan sama sekali tidak mewakilkan theAsianparent atau klien tertentu.
app info
get app banner