Tradisi Omed Omedan, Ritual Unik Bali yang Sering Salah Kaprah

Lebih dikenal dengan festival ciuman masal, tradisi Omed Omedan memiliki makna yang lebih luas.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Tradisi omed omedan merupakan salah salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Bali, tepatnya di daerah Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan. Tradisi ini adalah sebuah mitologi yang diterima sebagai warisan budaya masyarakat Banjar Kaja, Sesetan, yang telah diturunkan dari generasi tua hingga saat ini. 

Pada awalnya, omed-omedan merupakan tradisi yang dilakukan secara spontan oleh masyarakat Banjar Kaja. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menjelma menjadi sebuah festival budaya yang tentunya memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Menariknya, tradisi omed-omedan ini kerap disebut sebagai festival ciuman massal. Hal itu lantaran Anda akan menyaksikan ratusan anak muda Bali saling berciuman dalam festival tersebut. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak masyarakat yang sering salah kaprah mengartikan tradisi ini. 

Artikel Terkait: 8 Kue Tradisional Jepang yang Unik dan Memiliki Cita Rasa Khas 

Awal Mula Tradisi Omed Omedan

Menurut salah seorang tetua dari Desa Sesetan, I Gusti Ngurah Oka Putra, omed-omedan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17. Omed-omedan sendiri berasal dari kata ‘omed’ yang berarti tarik-menarik.

Meski terus berlangsung hingga saat ini, tradisi ini ternyata pernah ditiadakan loh. Namun sesaat setelah diberhentikan, terjadi sebuah kejadian aneh yaitu tiba-tiba muncul dua ekor babi yang saling bertarung. Lantas, masyarakat di sana percaya bahwa kehadiran dua ekor babi tersebut sebagai pertanda buruk.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Akhirnya, sesepuh di desa pun menyuruh para anak muda untuk berkumpul kembali dan melangsungkan omed-omedan seperti semula. Sejak kejadian itu, tradisi ini terus dilangsungkan secara rutin agar desa Sesetan terhindar dari malapetaka.

Biasanya, tradisi ini diadakan setelah Hari Raya Nyepi, yang diikuti anak muda berusia 17 hingga 30 tahun di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, Bali.

Artikel Terkait: Pelajari Budaya Korea Selatan dari 5 Rekomendasi Film dan Drama Ini!

Prosesi Tradisi Tarik-Menarik

Para anak muda setempat akan dikelompokkan menjadi dua grup yang terdiri dari grup pria dan grup wanita. Sebelum tradisi ini dimulai, seluruh peserta mengikuti upacara persembahyangan terlebih dulu secara bersama-sama di Pura Banjar. Hal ini bertujuan untuk memohon kebersihan hati dan kelancaran dalam pelaksaan ritual tersebut.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Setelah itu, pertunjukkan tari barong bangkung atau barong babi ditampilkan dengan maksud untuk mengingat kembali peristiwa sepasang babi hutan yang bertarung di desa Sesetan ini.

Barulah, kedua kelompok ini berbaris berhadap-hadapan dengan dipandu oleh para polisi adat. Kemudian, secara bergantian dipilih satu orang dari masing-masing kelompok untuk diangkat dan diarak menuju posisi paling depan. 

Kedua kelompok ini kemudian saling beradu dan orang yang berada di paling depan harus saling berpelukan satu sama lain. Begitu keduanya saling berpelukan, masing-masing kelompok akan menarik mereka hingga terlepas satu sama lain. Apabila kedua muda-mudi ini tidak bisa dilepaskan, maka panitia akan menyiram mereka dengan air hingga basah.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Dan ketika pasangan muda-mudi ini saling bertemu dan berpelukan erat, ada kemungkinan mereka akan saling beradu pipi bahkan bibir. Sehingga masyarakat awam pun banyak yang menyalahartikan hal ini sebagai saling berciuman. Tidak heran jika omed-omedan akhirnya secara salah kaprah mendapat sebutan sebagai festival ciuman massal.

Artikel Terkait: Budaya Minum Teh di Inggris, Afternoon Tea dan High Tea, Apa Bedanya?

Tanggapan Tetua Desa Sesetan Mengenai Sebutan Festival Ciuman Massal

Pewaris Puri Oka yang akrab dipanggil Ngurah Bima ini mengatakan hal ini kurang tepat. Pasalnya, pasangan muda-mudi ini saling bertemu dalam waktu yang singkat dan kondisi yang tidak kondusif. Kondisi tersebut tidak memungkinkan para peserta untuk menikmati momen tersebut.

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Padahal masyarakat Sesetan menganggap bahwa tradisi unik ini sebagai bagian dari wujud dharma shanti yaitu menjalin silaturahmi. Mereka berharap para muda-mudi maupun sesama warga di Desa Banjar bisa memiliki tali persaudaraan yang erat.

Berkat keunikannya tersebut, banyak wisatawan yang datang hanya untuk melihat prosesi omed-omedan saja. Kini, omed-omedan dikemas sebagai sebuah festival tahunan yang diberi nama Omed-Omedan Cultural Heritage Festival. Selain tradisi tarik-menarik itu, festival ini juga dimeriahkan dengan beberapa bazar dan pertunjukkan.

Setelah informasi ini, semoga tak ada lagi yang salah kaprah mengenai tradisi Omed Omedan dan budaya khas Pulau Dewata ini tetap lestari.

***

Loading...
You got lucky! We have no ad to show to you!
Iklan

Baca juga:

Mengenal Hikikomori, Budaya Isolasi Diri Ekstrim Generasi Muda Jepang

15 Tempat Wisata di Brazil yang Wajib Dikunjungi, Ada Situs Warisan Budaya UNESCO!

12 Warisan Budaya Tak Benda Milik Indonesia yang Diakui Dunia

Omed-omedan, Ritual Unik Pengikat Keakraban Masyarakat Sesetan
indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/omed-omedan-ritual-unik-pengikat-keakraban-masyarakat-sesetan/
Sering Disebut Festival Ciuman, Ini Uniknya Tradisi Omed-omedan di Bali
www.suara.com/lifestyle/2019/10/24/170000/sering-disebut-festival-ciuman-ini-uniknya-tradisi-omed-omedan-di-bali?page=2
Tradisi Omed-omedan, budaya Ciuman yang diwariskan turun-temurun
docs.google.com/document/d/1ZMpBgZY8Dg__7PWGFCHBJa-hWTJRhtEoy3kJYMIV_OI/edit