Tips Keluarga Bahagia : Menyikapi Masalah Dalam Pernikahan Secara Dewasa

Kita semua ingin membentuk keluarga bahagia. Namun semua pasangan pasti pernah bertengkar, dan tidak tahu cara menyelesaikan masalah dalam pernikahan secara dewasa.

Untuk membentuk keluarga bahagia, ketahuilah bahwa masalah dalam pernikahan terjadi karena suami istri belum bisa bersikap dewasa

Untuk membentuk keluarga bahagia, ketahuilah bahwa masalah dalam pernikahan terjadi karena suami istri belum bisa bersikap dewasa

Masalah dalam pernikahan, bumbu penyedap dalam keluarga bahagia

Tanpa konflik dan adu argumen, sebuah pernikahan akan terasa hambar. Intensitas pertengkaran dan adu mulut mungkin berbeda antara satu pasangan dengan pasangan lainnya. Namun kita semua berharap dapat membentu sebuah keluarga bahagia.

Bagaimanapun, kualitas sebuah hubungan antara dua anak manusia akan nampak dalam keberhasilannya melewati segala halangan dan mengatasi masalah dalam pernikahan.

Namun sering kali terjadi suami maupun istri saling menyalahkan ketika mereka menghadapi suatu masalah pelik. Keduanya sama-sama merasa benar dan tak mau mengalah.

Inilah yang menyebabkan munculnya api dalam rumah tangga. Sebuah api yang berpotensi meledak sebagai bom waktu yang dapat meledak setiap saat dan menghancurkan sebuah keluarga bahagia.

Empat penyebab masalah dalam pernikahan

Dalam sebuah artikel di Dailymail, seorang konsultan pernikahan bernama Dr. John Gottman mengungkapkan adanya “Empat Penyebab Kehancuran (Four Horsemen of Apocalypse)”, yaitu kecaman (criticism), saling mencibir (contempt), pembelaan (defensiveness), dan menutup diri (stonewalling).

Kecaman terjadi pada saat suami istri bertengkar dan mereka saling mengkritik karakter atau kebiasaan masing-masing.

Pada tahap selanjutnya, mereka akan saling mencibir dan merendahkan satu sama lain, dan tak seorang pun yang berusaha mencari jalan tengah atas perbedaan di antara mereka.

Karena hanya ada emosi yang mencengkeram kuat perasaan masing-masing, maka suami istri tak segan berbuat sesuatu yang mengarah pada tindakan kekerasan sebagai bentuk pembelaan terhadap sikap yang diambilnya.

Pada tahap inilah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) sering terjadi. Merusak barang atau perabot rumah ketika sedang bertengkar juga merupakan salah satu indikasi pembelaan diri dengan cara destruktif. Keluarga bahagia yang menjadi impian semula, mulai berubah menjadi ajang pertengkaran.

Baca juga : Tips Meredam Emosi Terhadap Anak

Setelah pasangan merasa lelah saling melampiaskan emosi, pada tahapan selanjutnya mereka akan menarik diri dari pasangan masing-masing.

Menjauhi dan menutup diri dari mitra rumah tangganya, membangun dinding tak terlihat untuk melindungi diri sendiri. Lalu bagaimana agar suami istri dapat membangun keluarga bahagia kembali?

Pemecahan sederhana dapat mewujudkan kembali keluarga bahagia

Masalah dalam pernikahan bisa memburuk dan berujung perceraian, ketika suami dan istri bertahan untuk tidak memahami sudut pandang pasangan mereka masing-masing.

Jika Anda dan pasangan merupakan jenis keluarga dengan ayah yang bekerja di luar rumah dan ibu yang mengurus semua urusan rumah tangga, cobalah untuk sesekali  bertukar peran.

Apakah yang terjadi ketika ibu bekerja di kantor, dan ayah memasak di dapur? Dapatkah ibu memahami pentingnya menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu, dan menghadapi kemacetan lalu lintas selama 5 hari seminggu?

Pahamkah ayah terhadap masalah gizi anak yang harus terpenuhi, sedangkan kenaikan harga barang kebutuhan dapur tak mau berkompromi?

Baca juga: 10 Tips Meminta Uang Belanja Lebih Banyak kepada Suami

Kata ‘maaf’ memang sederhana dan sering kali dapat menyelesaikan masalah dalam pernikahan dengan segera. Faktanya, tak semua suami/istri bisa mengatakannya, bahkan kepada seseorang yang telah lama hidup serumah dengannya.

Mereka menganggap harga diri mereka akan jatuh jika meminta maaf terlebih dahulu, dan khawatir pasangannya akan menganggap remeh dirinya.

Padahal, hubungan pernikahan bukanlah sebuah ajang kompetisi yang memunculkan pihak pemenang dan pecundang di akhir pertarungan. Dan hal mendasar sangatlah penting dalam mewujudkan sebuah keluarga bahagia.

Hanya kedewasaan masing-masing pihak saja yang bisa membuat mereka saling menyadari kesalahannya dan menyatukan hati serta visi untuk membangun keluarga yang harmonis dan bahagia.

Nah Parents, semoga ulasan di atas dapat membantu Anda dalam mewujudkan keluarga bahagia.

Baca juga artikel menarik lainnya:

12 Cara Agar Pernikahan Langgeng dan Bahagia

Penelitian Membuktikan Kehadiran Anak dapat Menurunkan Kebahagiaan dalam Pernikahan