Tarif Dasar Listrik Naik, ini Cara Agar Tetap Dapat Subsidi

Tarif Dasar Listrik Naik, ini Cara Agar Tetap Dapat Subsidi

PLN telah mengumumkan kepastian tentang kenaikan tarif dasar listrik. Simak golongan listrik di rumah Anda dan bagaimana cara menghitung biaya listriknya berikut ini.

Listrik adalah kebutuhan primer yang tak terpisahkan dari rumah tangga. Untuk itu, besaran biaya kenaikan tarif dasar listrik akan sangat memengaruhi anggaran belanja rumah tangga dibandingan biasanya.

Dalam laman resminya, PLN mengumumkan akan melakukan penyesuaian tarif listrik sejak bulan Juni 2017 ini. Kenaikannya bertahap dan sesuai dengan golongan listrik masing-masing.

Kenaikan tarif listrik yang istilahnya diperhalus dengan bahasa ‘penyesuaian tarif listrik’ ini tidak terjadi pada semua kelompok listrik. Karena ada dua golongan yang masih mendapatkan subsidi dari pemerintah.

R-1 adalah kode untuk menyebut golongan listrik rumah tangga. Golongan pertama yang mendapatkan subsidi adalah R-1/450 VA dan R-1/900 VA untuk rumah tangga tidak mampu. Masing-masing menanggung beban Rp 415/KWH dan Rp 605/KWH.

Sedangkan, untuk listrik golongan R-1/900 VA untuk RTM (Rumah Tangga Mampu) dan voltase di atas 900, maka subsidinya akan segera dicabut sepenuhnya pada Juli 2017.

Selama ini, golongan R-1/900 VA telah meningkat perlahan. Misalnya pada bulan Januari-Februari, tarif listrik naik 30% dengan harga /kWh sebesar Rp 791. Pada bulan Maret-April, tarif dasar listrik naik 30% lagi dengan biaya /kWh adalah Rp 1034. Dan 30% kenaikan tarif dasar listrik juga kembali terjadi pada bulan Mei-Juni dengan harga Rp 1352/kWh.

Cara agar tetap mendapat subsidi listrik

Tenang saja, bagi Parents yang punya industri kecil di rumah tetap bisa dapat subsidi listrik dari pemerintah asal melakukan migrasi ke listrik jenis bisnis. Asal beban listriknya tak sampai 6600 VA.

Jika dihitung, tarif listrik bisnis industri kecil harganya akan lebih murah daripada RTM non subsidi. Siapkan beberapa dokumen penting seperti:

  1. Nomor Meter PLN (ada pada stiker meteran listrik prabayar)
  2. Nomor KTP
  3. Nomor telepon
  4. Alamat email valid

Anda bisa melakukan perubahan tarif listrik dari tarif rumah tangga ke bisnis bersubsidi secara online dengan mengikuti tahapan di dalam link ini.

Berapa tarif listrik yang akan dihabiskan perbulannya?

Setiap daerah memiliki tarif listrik yang berbeda-beda. Tarif dasar listriknya memang sama di seluruh Indonesia. Namun, besaran administrasi bank saat pembelian token listrik dan PPJ (Pajak Penerangan Jalan) setiap daerah ikut menentukan.

Berikut kutipan utuh tarif PPJ di seluruh wilayah Indonesia:

PPJ 3%
(DKI Jakarta, Bogor, Depok, Kab. Serang)

PPJ 5%
(Denpasar, Manokwari, Palembang, Sukabumi)

PPJ 6%
(Bandung, Pekanbaru, Indramayu)

PPJ 7%
(Medan 7,5%)

PPJ 8%
(Surabaya, Semarang, Banjarmasin, Tanjungselor, Lampung, Yogyakarta)

PPJ 9%
(Banda aceh, Pontianak, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Karanganyar)

PPJ 10%
(Gorontalo, Makassar, Mamuju, Palu, Morowali, Palangkaraya, Samarinda, Ambon, Mataram, Kupang, Padang, Kendari, Manado, Bengkulu, Blitar, Kediri, Jember, Probolinggo, Situbondo).

Jadi, rumus menghitung biaya listrik yang diperlukan adalah:

Biaya PPJ (Pajak Penerangan Jalan) + biaya admin bank + biaya Materai + Biaya PPN (Pajak Pertambahan Nilai) + Tarif Tenaga Listrik /kWh sesuai dengan golongan listriknya = biaya listrik perbulan,

Lebih mudahnya, Anda bisa menggunakan kalkulator penghitung listrik di dalam link ini.

Semoga kita semua terus diberi rezeki untuk bisa menyesuaikan anggaran rumah tangga dengan kenaikan tarif dasar listrik ya, Parents.

Jangan lupa, karena tarif listrik naik, Ayah kasih tambahan uang belanja untuk Bunda ya..

 

Baca juga:

Bijak Menyiasati Anggaran Belanja Jelang Lebaran

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner