Kenali gejala Skizofrenia pada anak, Bunda perlu mewaspadainya

lead image

Pernahkah membayangkan seorang anak kecil mengidap skizofrenia, anak jadi sering tampak murung, bicara tak beraturan hingga berhalusinasi. Bisa jadi itu salah satu indikasi terjadinya skizofrenia.

Istilah skizofrenia mungkin masih asing di telinga Anda. Pengidap skizofrenia lebih sering disebut “orang gila” karena mereka sering berhalusinasi, berbuat semaunya, dan sulit membedakan mana kenyataan dan mana yang khayalan semata. Kondisi ini memang lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Namun, skizofrenia pada anak nyatanya bukan hal yang tidak mungkin. Bahkan gejalanya sering tidak disadari oleh orangtua.

Skizofrenia pada anak menjadi semacam gangguan mental yang sangat jarang terdeteksi pada masa kanak-kanak. Ketika pengidapnya sudah masuk fase remaja atau akhir usia 20-an, barulah gejala penyakit ini diketahui. Padahal, jika bisa diidentifikasi sejak awal, orang tua dan petugas medis terkait dapat memberikan pertolongan pertama.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/GettyImages schizophrenia 300x210.jpg Kenali gejala Skizofrenia pada anak, Bunda perlu mewaspadainya

schizophrenia pada anak foto Getty Images

Apa dampak buruknya ?

Skizofrenia pada anak akan mengganggu kemampuan berpikir serta mengakibatkan halusinasi dan delusi. Gejala yang biasanya dialami adalah anak mudah emosi, sering melakukan kekerasan, dan mengisolasi diri dari lingkungan. Adapun penelitian untuk mengetahui penyebab skizofrenia masih terus dikaji. Tidak mungkin faktor tunggal karena gangguan mental ini juga berkaitan dengan lingkungan dan genetika.

Berikut ini beberapa fakta tentang skizofrenia pada anak, seperti dilansir laman Boldsky.

1. Genetika

Genetika mempengaruhi perkembangan skizofrenia pada anak. Jika memiliki orang tua atau saudara yang mengidap skizofrenia, kemungkinan anak mengidap skizofrenia adalah 10 persen. Namun bukan berarti jika orang tua mengalami skizofrenia lantas anaknya dipastikan mengalami masalah yang sama. Memang genetika bisa menjadi faktor penyebab skizofrenia, tapi belum tentu diturunkan.

2. Struktur otak

Jika memiliki struktur otak yang abnormal, ia berpotensi mengalami skizofrenia pada anak. Sehingga ini yang akan menyebabkan beberapa hal seperti halusinasi, khayalan, dan gangguan pada pemikiran dan perilaku.

3. Lingkungan

Terkadang faktor lingkungan memainkan peran penting dalam menyebabkan penyakit kejiwaan kronis ini. Menurut beberapa penelitian, ditemukan bahwa wanita hamil dengan tingkat stres tinggi dapat menyebabkan skizofrenia pada keturunan mereka.

Selain itu, lingkungan yang memicu skizofrenia, misalnya terjadi infeksi virus di dalam rahim, kehilangan orang tua pada masa kecil, anak mengalami kekerasan fisik, menderita infeksi virus saat bayi, dan kadar oksigen yang rendah selama persalinan.

 

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/anak murung shutterstock 300x171.jpg Kenali gejala Skizofrenia pada anak, Bunda perlu mewaspadainya

Anak murung (foto : Shutterstock)

Adapun gejala yang muncul dari skizofrenia antara lain

1. gejala pada usia di bawah 3 tahun (batita) berkaitan dengan fase perkembangan awal anak, seperti terlambat merangkak, telat bicara dan berjalan, dan lengan mengepak.

2. gejala pada usia remaja, misalnya turunnya prestasi di sekolah, sulit tidur, depresi, mudah marah, dan penurunan motivasi;

3. gejala menjelang usia dewasa akan lebih kentara lagi, yakni sering mengalami halusinasi, delusi, perilaku yang serampangan, gerakan berlebihan, dan tidak peduli pada lingkungan.

Apabila terdapat gejala tersebut, bisa jadi anak bunda mengidap skizofrenia. Segera bawa si kecil ke dokter atau psikolog anak terdekat untuk memastikan diagnosisnya. Anak bunda mungkin akan dianjurkan untuk menjalani terapi, minum obat antipsikotik, atau latihan keterampilan untuk mengurangi gejala skizofrenia pada anak.

 

Referensi : tempo.com

 

Baca juga : 

Ini bukan lelucon, putriku semalam mencoba membunuhku : Peringatan bahaya tamiflu

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.