Kak Seto usulkan sekolah tiga hari, baik atau buruk? Ini tanggapan psikolog

Kak Seto usulkan sekolah tiga hari, baik atau buruk? Ini tanggapan psikolog

Kak Seto usulkan sekolah tiga hari dalam seminggu, berikut ini tanggapan psikolog.

Beberapa waktu lalu, media sosial diramaikan dengan perbicangan mengenai aturan sekolah tiga hari. Aturan itu pertama kali muncul saat diungkapkan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto.

Menurut Kak Seto, sekolah yang berlangsung selama tiga hari selama satu minggu sangat efektif. Tidak hanya itu, dengan waktu belajar hanya tiga jam dalam satu hari, pelajar dinilai tidak akan merasa bosan dan tertekan sekolah.

“Sekolah yang hanya tiga hari dan per harinya tiga jam itu tidak membuat anak-anak menjadi stres, tertekan, takut sekolah, dan sebagainya. Tapi senang sekali,” ujar Kak Seto dikutip dari Kompas.com, Kamis (5/12/2019).

Aturan sekolah tiga hari diusulkan Kak Seto

sekolah tiga hari 1

Kak Seto. Sumber: Kompas.com

Usulan Kak Seto tentang aturan sekolah tiga hari pun ramai diperbincangkan publik. Kak Seto kemudian menyatakan bahwa hal itu hanyalah sebagai pilihan yang nanti dapat dipilih anak.

Mengacu pada UU No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Terdapat 3 jalur pendidikan di Indonesia, yaitu jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Kak Seto mengungkapkan bahwa pendidikan formal adalah sekolah pada umumnya dengan waktu belajar selama enam atau lima hari dalam seminggu. Adapun sekolah nonformal adalah jalur pendidikan yang seperti kursus atau homeschooling.

Menurutnya, seorang anak boleh memilih antara sekolah formal atau nonformal. Hal itu harus disesuaikan dengan keinginan mereka dalam menempuh pendidikan.

Artikel terkait:Benar atau Salah, Belajar dari Sekolah Saja Cukup untuk Si Kecil?

Kak Seto usulkan sekolah tiga hari, baik atau buruk? Ini tanggapan psikolog

“Kalau cocok bisa di sekolah formal. Tapi kalau tidak cocok mungkin karena banyak aktivitas atau tidak bisa duduk manis berjam-jam setiap hari itu tetap diberi ruang untuk jalur pendidikan non-formal. Itu yang disebut dengan homeschooling,” ujarnya.

Usulan sekolah tiga hari itu bukan tanpa dasar. Ia sudah menguji coba hal tersebut selama 13 tahun di homeschooling miliknya yang ada di Bintaro, Tangerang Selatan.

Dari hasil uji coba tersebut, ia melihat bila anak-anak tetap dapat berprestasi dan lulus dengan hasil terbaik.

“Nah kami sudah membuat percobaan sekolah selama 13 tahun ini. Sekolah seminggu hanya tiga kali. Per hari hanya tiga jam. Tapi lulusannya yang masuk Kedokteran ada di UI, Gajah Mada, dan Undip. Kemudian USU dan Unhas. ITB IPB ada,” ungkapnya.

Jenis-jenis homeschooling

sekolah tiga hari 3

Kak Seto menjelaskan ada tiga jenis homeschooling, yakni homeschooling tunggal yang informal dengan belajar sendiri bersama keluarga. Lalu homeschooling majemuk yang dua hingga tiga keluarga berhimpun menjadi satu. Juga homeschooling komunitas yang datang ke sekolah, hanya saja sifatnya nonformal.

“Jadi homeschooling komunitas itu seminggu bisa tiga kali atau empat kali, per hari juga tidak harus enam jam, bisa tiga jam,” terang Kak Seto.

Pilihan homeshooling ini bisa menjadi jalan keluar untuk anak-anak yang tidak cocok dengan pendidikan formal yang mungkin waktunya sampai sore.

Artikel terkait: Banyak menjadi pilihan, seperti apa sistem pendidikan homeschooling?

anak homeschooling

Sebab dalam UU No 20 Tahun 2003 pasal 26 dan 27 dengan tegas menyatakan bahwa jalur pendidikan informal maupun nonformal, diakui setara dengan hasil pendidikan formal pada saat siswa sudah mengikuti evaluasi sesuai dengan standar nasional pendidikan.

“Nah, evaluasi itu juga termasuk UN tapi lengkapnya UNPK Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan atau populernya ujian paket, paket A untuk SD, paket B untuk SMP dan paket C untuk SMA,” ujarnya.

Kak Seto kemudian menegaskan bahwa usulan sekolah tiga hari ia ajukan hanya untuk memenuhi hak anak.

“Jadi anak boleh memilih karena ini sesuai dengan amanat UU sistem pendidikan nasional. Yang cocok sekolah formal jangan dipaksa HS (homeschooling), yang enggak cocok sekolah formal masih ada jalur yang lebih cocok yakni HS itu tadi. Jadi biarkan anak memilih untuk pilihan sekolahnya,” pungkasnya.

Sekolah formal atau homeschooling, mana yang terbaik untuk anak?

sekolah tiga hari 2

Menanggapi usulan Kak Seto tentang aturan sekolah tiga hari, psikolog Ratih Zulhaqqi, MPsi, dari RaQQi – Human Development & Learning Centre menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Pertama, kebutuhan anak

Umumnya, anak-anak yang memilih homeschooling adalah anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau keterbasan waktu. Akibatnya ia tidak memiliki banyak waktu untuk belajar di sekolah formal seperti anak-anak lainnya.

“Misalnya kalau dia anak normal, tidak bermasalah mungkin karena keterbatasan waktu, seperti artis yang lebih memilih homeschooling karena waktu belajarnya yang bentrok dengan waktu shooting.

Sedangkan bagi yang membutuhkan treatment (perlakuan) khusus dalam belajar contohnya anak dengan konsentrasi, kalau dia sekolah di sekolah umum yang isinya satu kelas 40 siswa dengan satu orang guru, sudah dipastikan tidak akan maksimal, makanya homeschooling bisa jadi salah satu tujuan,” jelas Ratih dikutip dalam Detik Health.

sistem pendidikan homeschooling

2. Kedua, kehidupan sosial anak

“Kalau anak umum yang sekolah selama lima hari ya otomatis mereka punya kegiatan yang lebih konsisten dan kemudian mereka punya networking (pertemanan) yang lebih luas, karena pasti jumlah anak-anak yang homeschooling juga enggak akan terlalu banyak,” tambahnya.

Bila aturan sekolah tiga hari diterapkan, Ratih menegaskan perlu adanya peran orangtua dalam memperakukan anaknya di rumah agar tetap produksi. Sebab mereka akan memiliki hari libur tambahan.

“Tapi yang jadi kendala selama ini adalah kalau dia hanya sekolah tiga hari, kemudian sisanya mau ‘ngapain’? Karena kebanyakan orang tua enggak stand by (tinggal) di rumah.

Kebanyakan orang tua itu adalah aktivitasnya banyak di luar rumah, dan di dalam rumah hanya dengan asisten rumah tangga, yang secara resources (pengalaman) itu enggak punya banyak kemampuan untuk bisa memperlakukan anak dengan semestinya,” tegasnya.

Selain peran orangtua, Ratih juga berpendapat untuk lebih memikirkan kurikulum yang tepat dibandingan dan tidak hanya mempermasalah lama tidaknya jumlah hari sekolah.

“Jadi, perlu benar-benar dipikirkan secara matang. Harus seperti apa kurikulum yang tepat untuk anak. Jadi, enggak cuma berhenti di ‘ok’ sekolah tiga hari terus (masalah), selesai dan aman,” tutupnya.

Referensi: Kompas.com, Detik Health

Baca juga

Pengalaman orangtua memilih sistem pendidikan homeschooling, apa dampaknya untuk anak?

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner